<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>UMARSALAFY BLOG</title>
	<atom:link href="http://umarsalafy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://umarsalafy.wordpress.com</link>
	<description>USAHA MUSLIM(AH) MEMBELA RISALAH SALAFY</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Jun 2011 11:50:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='umarsalafy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>UMARSALAFY BLOG</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://umarsalafy.wordpress.com/osd.xml" title="UMARSALAFY BLOG" />
	<atom:link rel='hub' href='http://umarsalafy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PERANG TERHADAP TERORIS KHAWARIJ BUKAN PERANG TERHADAP ISLAM</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/08/26/perang-terhadap-teroris-khawarij-bukan-perang-terhadap-islam/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/08/26/perang-terhadap-teroris-khawarij-bukan-perang-terhadap-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 02:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar Baasyir]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[(Sebuah Catatan Atas Tertangkapnya Abu Bakar Ba’asyir, Bag. 1) oleh : Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepada kaum muslimin di bulan Ramadhan tahun 1431 H yang penuh berkah ini, yaitu dengan tertangkapnya seorang tokoh yang berpaham Teroris Khawarij, Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=73&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>(Sebuah Catatan Atas Tertangkapnya Abu Bakar Ba’asyir, Bag. 1)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>oleh : Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray<br />
</strong></p>
<p><a href="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/08/terorisme-bukan-jihad.jpg"></a>Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepada kaum muslimin di bulan Ramadhan tahun 1431 H yang penuh berkah ini, yaitu dengan tertangkapnya seorang tokoh yang berpaham Teroris Khawarij, <strong>Abu Bakar Ba’asyir</strong>.</p>
<p>Ucapan terima kasih juga selayaknya diberikan kepada Pemerintah RI, khususnya POLRI melalui Densus 88 <em>–jazaahumullahu khairan-</em> yang telah mengerahkan segenap tenaga untuk menangkap tokoh yang satu ini dan mengumpulkan bukti-bukti keterlibatannya dalam aksi-aksi Teroris Khawarij.</p>
<p>Namun ternyata, di tengah-tengah kegembiraan kaum muslimin atas tertangkapnya tokoh kesesatan tersebut, ada sekelompok kecil orang-orang yang mengatasnamakan umat Islam yang memprotes dan menyatakan secara terbuka ketidaksetujuan mereka, bahkan mengecam pemerintah dengan keras atas penangkapan tersebut. Diantaranya adalah sebuah forum yang menamakan diri <strong>Forum Umat Islam (FUI)</strong>, yang mengklaim beranggotakan ormas-ormas Islam, diantaranya <strong>Front Pembela Islam (FPI)</strong>, <strong>Majelis Mujahidin</strong>, <strong>Jamaah Anshorut Tauhid</strong>, <strong>Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI)</strong>, <strong>Al Irsyad Al Islamiyyah</strong>, <strong>Front Perjuangan Islam Solo (FPIS)</strong>, <strong>Majelis Tafsir Al Quran (MTA)</strong>, <strong>Majelis Az Zikra</strong>, <strong>PP Daarut Tauhid</strong>, <strong>Hidayatullah</strong>, <strong>PII</strong> dan <strong>Wahdah Islamiyah</strong> yang berpusat di Makassar.</p>
<p><span id="more-73"></span></p>
<p>Bahkan salah seorang kader ormas yang disebut terakhir di atas, membuat tulisan dalam blog hitamnya yang berisi tuduhan-tuduhan keji dengan judul <strong>Bisnis Darah dan Nyawa Manusia</strong> dan <strong>Penangkapan Ustadz Ba’asyir dan Kehancuran NKRI</strong>. Sebelumnya juga, website resmi mereka di cabang Jogya telah menurunkan sebuah artikel untuk memprotes kebijakan pemerintah terhadap teroris dalam sebuah tulisan berjudul <strong>Menjustifikasi Kematian Teroris</strong>. Tidak ketinggalan pula <strong>Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)</strong>, melalui juru bicaranya <strong>Muhammad Ismail Yusanto</strong> mengecam penangkapan <strong>Abu Bakar Ba’asyir (ABB)</strong>.</p>
<p>Seperti apakah pandangan Islam atas tertangkapnya tokoh yang berpaham Teroris Khawarij? Bagaimana pula sikap Islam terhadap orang-orang yang membelanya? Catatan ringan ini insya Allah mencoba menghadirkan bukti-bukti ilmiah akan benarnya tindakan yang telah diambil oleh POLRI dan sekaligus sebagai bantahan atas kekeliruan sekelompok kecil orang-orang yang menyalahkan pemerintah atas penangkapan <strong>ABB</strong>.</p>
<p><strong>Benarkah Abu Bakar Ba’asyir berpaham Teroris Khawarij?</strong><strong></strong></p>
<p>Sebelum kita membuktikan benarnya tindakan penangkapan atas <strong>ABB</strong> (semoga insya Allah bisa dilanjutkan dengan penangkapan orang-orang yang semisal dengannya), tentunya kita harus membuktikan dulu bahwa pemahaman dan ajaran yang diamalkan dan disebarkan oleh <strong>ABB</strong>, kelompoknya dan jaringannya adalah ajaran sesat Teroris Khawarij.</p>
<p>Kami sebut sebagai ajaran Teroris, karena dampak dari ajaran-ajaran mereka bermuara pada aksi-aksi terorisme. Adapun penyebutan Khawarij, inilah sebenarnya akar kesesatan mereka. Khawarij adalah satu kelompok sesat yang akarnya telah ada di zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan akan terus berlanjut sampai akhir zaman, hingga generasi terakhir mereka akan bergabung bersama Dajjal <em>–wal’iyadzu billah-</em>.</p>
<p>Akar Khawarij bermula dari protes terang-terangan atas nama “amar ma’ruf nahi munkar” oleh seorang yang bernama <strong>Dzul Khuwaisiroh</strong> terhadap kebijakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam distribusi harta kekayaan negara, bahkan dia menuduh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak berlaku adil, sampai dia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah”. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata, “Celaka engkau, siapa lagi yang bisa berlaku adil jika aku tidak berlaku adil. Sungguh engkau celaka dan merugi jika aku tidak berlaku adil.” (<strong>HR. Muslim</strong>, no. 2505)</p>
<p>Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p><strong>يخرج من ضئضئ هؤلاء قومٌ يتلون كتاب الله رطباً لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية</strong></p>
<p>“Sesungguhnya akan keluar dari orang ini satu kaum yang membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dengan mudah, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang meleset dari sasarannya.” <strong>(HR. Muslim, </strong>no. 2500<strong>)</strong></p>
<p>Beliau juga bersabda:</p>
<p><strong>ينشأ نشأ يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم كلما خرج قرن قطع كلما خرج قرن قطع حتى يخرج في أعراضهم الدجال</strong></p>
<p>“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur‘an namun bacaan mereka tidak melewati kerongkongannya.<em> </em>Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas”. (Dalam satu riwayat<strong> Ibnu Umar</strong> <em>radhiyallahu’anhuma</em> berkata, “Saya mendengar Rasulullah mengulang kalimat,<em> “</em>Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas”<strong> </strong>lebih dari 20 kali”).<em> </em>Hingga beliau bersabda,<em> </em>“Sampai muncul Dajjal dalam barisan mereka.” (<strong>HR. Ibnu Majah</strong>, dihasankan <strong>Asy-Syaikh Al-Albani</strong> dalam <strong>Shahihul Jami’</strong>, no. 8171)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa eksistensi kelompok Khawarij akan tetap ada sampai akhir zaman. Berikut ini kami akan menyebutkan insya Allah, bukti-bukti ajaran ABB dan jaringannya adalah ajaran Teroris Khawarij:</p>
<p><strong>Pertama: Mengkafirkan kaum muslimin, khususnya pemerintah muslim</strong></p>
<p>Tidak terhitung lagi pernyataan <strong>Abu Bakar Ba’asyir</strong> dan kelompoknya yang menganggap kafir pemerintah muslim, bahkan sebuah web yang dibuat khusus untuk <em>free</em> ABB dengan tegas mengutip pernyataan jaringan mereka bahwa pemerintah Indonesia adalah <strong>pemerintah murtad</strong>. Demikian pula dalam khutbah Idul Adha 1430 H, ABB mengkafirkan para ulama dan penguasa-penguasa Arab dan menjuluki mereka sebagai thogut dan antek-antek zionis.</p>
<p>Inilah ciri Khawarij yang paling menonjol, yaitu pemahaman <em>takfiri</em>, mengkafirkan kaum muslimin yang pada zaman modern ini dihidupkan kembali oleh <strong>Sayid Qutb</strong>, tokoh <strong>Ikhwanul Muslimin</strong> Mesir, yang buku-bukunya banyak dikonsumsi oleh gerakan-gerakan Islam di tanah air. <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> <em>rahimahullah</em> menjelaskan diantara sifat Khawarij adalah, “Mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka.” (Lihat <strong>Majmu’ Al-Fatawa</strong>, 3/355)</p>
<p>Padahal Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan bahaya gegabah dan terburu-buru dalam mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda:</p>
<p><strong>أيما امرئٍ قال لأخيه كافر فقد باء بها أحدهما إن كان كما قال وإلا رجعت عليه</strong></p>
<p>“Siapa saja berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir!” maka salah satu dari keduanya menjadi kafir. Jika yang dipanggil benar-benar kafir, jika tidak maka kembali kepada yang mengatakannya.” (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> dan <strong>Muslim</strong> dari <strong>Abdullah bin Umar</strong> <em>radhiyallahu’anhuma</em>)</p>
<p>Adapun bimbingan ulama Ahlus Sunnah dalam menghukumi seseorang atau sebuah pemerintahan dengan kekafiran atau murtad, adalah hak para ulama yang mendalam ilmunya, bukan anak-anak muda hasil binaan <strong>ABB, Abu Jibril, Aman Abdurrahman</strong> dan yang semisal dengan mereka, yang hanya bermodal semangat tanpa ilmu. <strong>Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan</strong> <em>hafizhahullah</em> berkata:</p>
<p>“Menghukumi seseorang telah murtad atau keluar dari agama Islam adalah kewenangan para ulama yang mendalam ilmunya, mereka adalah para qadhi di mahkamah syari’at dan para ahli fatwa yang diakui keilmuannya. Sebagaimana pula dalam permasalahan lainnya, berbicara dalam masalah seperti ini bukanlah hak setiap orang, bukan pula hak para penuntut ilmu atau yang menisbatkan diri kepada ilmu agama padahal pemahamannya tentang ilmu agama masih sangat terbatas.</p>
<p>Bukanlah hak mereka untuk menghukumi seseorang telah murtad, karena perbuatan tersebut akan melahirkan kerusakan. Bisa jadi mereka memvonis seseorang telah murtad padahal dia tidak murtad. Sedang mengkafirkan seorang muslim yang tidak melakukan salah satu pembatal keislaman sangat berbahaya. Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya, “wahai kafir” atau “wahai fasik”, padahal dia tidak seperti itu maka perkataan itu kembali kepada orang yang mengucapkannya. Olehnya, yang berhak memvonis murtad hanyalah para qadhi syar’i dan ahli fatwa yang diakui keilmuannya. Adapun yang merealisasikan hukumnya adalah pemerintah kaum muslimin, selain itu hanya akan melahirkan kekacauan.” (Lihat <strong>Min Fatawa As-Siyasah Asy-Syar’iyyah</strong>, <em>softcopy</em> dari www.sahab.net)</p>
<p>Pada kesempatan lain, ketika <strong>Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan</strong> <em>hafizhahullah</em> ditanya, “Apakah masih ada di zaman ini orang yang mengusung pemikiran Khawarij?” Baliau menjawab, “Subhanallah, mengkafirkan kaum muslimin, bukankah itu perbuatan Khawarij?! Bahkan lebih parah lagi, membunuh dan memusuhi kaum muslimin. Ini adalah mazhab Khawarij, yang terdiri dari tiga bagian. <strong><em>Pertama:</em></strong> Mengkafirkan kaum muslimin. <strong><em>Kedua:</em></strong><em> </em>Keluar dari ketaatan kepada penguasa. <strong><em>Ketiga:</em></strong> Menumpahkan darah kaum muslimin. Ini adalah mazhab Khawarij, meskipun seseorang hanya meyakini dalam hati tanpa mengatakan atau melakukan aksi apa pun, dia telah menjadi seorang Khawarij dalam aqidah dan pemikirannya.” (<strong>Muhadharah: Ya Ahlal Haramain wa ‘Askaral Islam, Asy-Syaikh Sulthon Al-‘Ied</strong> <em>hafizhahullah</em>, hal. 6)</p>
<p><strong>Kedua: Memahami Al-Qur’an dengan pemahaman Khawarij, bukan pemahaman Ahlus Sunnah</strong></p>
<p>Inilah sebab utama penyimpangan <strong>Abu Bakar Ba’asyir</strong> dan kelompoknya yang kemudian melahirkan pemahaman <em>takfiri</em> dan sejumlah kesesatan lainnya. Diantaranya kesalahan fatal mereka dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala:</p>
<p><strong>وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”</em> (<strong>Al-Maidah: 44</strong>)</p>
<p>Dengan modal pemahaman yang salah terhadap ayat inilah mereka mengkafirkan kaum muslimin, <strong>Al-Imam Al-Mufassir Al-Jasshash</strong> <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>“Khawarij mentakwikan ayat ini untuk mengkafirkan orang yang meninggalkan hukum Allah meskipun dia tidak mengingkari (hukum Allah tersebut).” (Lihat <strong>Ahkamul Qur’an</strong>, 2/534)</p>
<p>Adapun pemahaman Ahlus Sunnah, yaitu sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang dibina oleh beliau dan para ulama Ahlus Sunnah setelahnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Sahabat yang mulia <strong>Abdullah bin Abbas</strong> <em>radhiyallahu’anhuma</em> menjelaskan tafsir ayat di atas adalah, “Barangsiapa yang mengingkari hukum Allah maka dia kafir, adapun yang masih mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka dia zalim lagi fasik.” [Dikeluarkan oleh <strong>Ath-Thobari</strong> dalam <strong>Jami’ul Bayan</strong> (6/166), dihasankan <strong>Asy-Syaikh Al-Albani</strong> dalam <strong>Ash-Shahihah</strong> (6/114)]</p>
<p><strong>Al-Imam Ahmad bin Hanbal</strong> <em>rahimahullah </em>berkata, “Bukan kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam (yakni kufur asghar).” (Lihat <strong>Suaalat Ibni Hani’,</strong> 2/192)</p>
<p><strong>Al-Imam Ibnul Jauzi</strong> <em>rahimahullah</em> berkata, “Kesimpulannya, barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah disertai pengingkaran terhadapnya, padahal dia tahu bahwa itu adalah hukum Allah, seperti yang dilakukan oleh Yahudi, maka dia kafir. Adapun orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah karena menuruti hawa nafsu tanpa disertai pengingkaran terhadapnya, maka dia zalim lagi fasik.” (Lihat <strong>Zadul Masir</strong>, 2/366)</p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> <em>rahimahullah</em> berkata, “Perkataan Salaf bahwa, “Bisa jadi dalam diri seseorang terdapat keimanan dan kemunafikan”, sama dengan perkataan mereka, “Pada dirinya ada keimanan dan kekafiran”, maka yang dimaksudkan adalah bukan kekafiran yang menyebabkan murtad, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas dan murid-murid beliau dalam menjelaskan firman Allah, <em>“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”</em> (Al-Maidah: 44), maksud ayat ini bukanlah kekafiran yang menyebabkan murtad. Pemahaman terhadap ayat ini kemudian diikuti oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama Ahlus Sunnah lainnya.” (Lihat <strong>Majmu’ Al-Fatawa</strong>, 7/312)</p>
<p><strong>Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim</strong> <em>rahimahullah</em> berkata, “Yang benar dalam permasalahan ini adalah, sesungguhnya berhukum dengan selain hukum Allah mencakup dua bentuk kekafiran, yaitu kufur asghar (kecil) dan kufur akbar (besar), maka hukumnya tergantung keadaan pelakunya. Jika dia meyakini wajibnya berhukum dengan hukum Allah, hanya saja dia berpaling karena mempertututkan nafsu kemaksiatannya dengan tetap meyakini bahwa dia telah salah hingga berhak dihukum, maka yang seperti ini kufur asghar (tidak sampai murtad). Adapun jika dia meyakini bahwa tidak wajib berhukum dengan syari’at Allah, atau boleh memilih antara hukum syari’at dan hukum buatan manusia, padahal dia yakin bahwa itu memang hukum Allah, maka yang seperti ini kufur akbar (menyebabkan murtad). Akan tetapi jika dia jahil dan tersalah karena kejahilannya itu maka hukumnya sama dengan hukum kepada orang yang jahil (yakni dimaafkan dan diajarkan).” (Lihat <strong>Madarijus Salikin</strong>, 1/336)</p>
<p>Inilah sesungguhnya pemahaman ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap ayat di atas. Maka tidak boleh gegabah dan terburu-buru memvonis kafir penguasa muslim karena telah melakukan satu bentuk kekafiran dan tetap wajib bagi setiap muslim untuk menaati penguasa dalam perkara yang ma’ruf meskipun penguasa tersebut zalim dan fasik, sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel: <a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/15/pemerintah-indonesia-masihkah-layak-ditaati/" target="_blank"><strong>Pemerintah Indonesia, Masihkah Layak Ditaati?</strong></a></p>
<p><strong>Ketiga: Memuji dan memberi semangat kepada pelaku aksi Teroris Khawarij</strong></p>
<p>Setiap kali polisi berhasil membunuh atau menangkap teroris, <strong>ABB</strong> pun berkomentar bahwa mereka itu adalah mujahid bukan teroris. Tidak diragukan lagi, pujian-pujian ABB dan kelompoknya kepada para pelaku terorisme sebagai “mujahid” merupakan pembakar semangat bagi anak-anak muda yang miskin ilmu. Hal ini mengingatkan kita kepada salah satu sekte Khawarij yang bernama Al-Qa’adiyah, sebagaimana ABB yang mungkin sudah uzur untuk turun langsung “berjihad” namun masih menjadi motivator ulung untuk membakar semangat “mujahid” menjadi “pengantin surga”.</p>
<p>Demikian pula Al-Qa’adiyah, mereka tidak turun langsung berperang melawan pemerintah kaum muslimin, namun kerjaan mereka adalah memprovokasi kaum muslimin untuk memberontak.</p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar </strong><em>rahimahullah</em> berkata, “<strong>Al-Qa’adiyah</strong> memprovokasi pemberontakan kepada para penguasa, meskipun mereka tidak terlibat langsung.” [Lihat <strong><em>Hadyus Sari</em></strong>, oleh <strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar</strong> –<em>rahimahullah-</em>, (hal. 459), sebagaimana dalam <strong><em>Syarru Qatla tahta Adimis Sama’</em></strong><em>, </em>(hal. 20)]</p>
<p>Bahkan sekte Khawarij inilah sebenarnya yang paling berbahaya, karena dengan sebab ceramah-ceramah mereka kemudian orang-orang terprovokasi untuk menentang penguasa dan melakukan aksi-aksi terosisme.<strong> Abdullah bin Muhammad Adh-Dha’if </strong><em>rahimahullah</em> berkata: “Kelompok Al-Qa’adiyah ini merupakan pecahan khawarij yang paling jelek!”<em> </em>[Riwayat <strong>Abu Dawud</strong> dalam <strong><em>Masaa’il Al-Imam Ahmad</em></strong>, (hal. 271), sebagaimana dalam <strong><em>Syarru Qatla tahta Adimis Sama’</em></strong><em>,</em> (hal. 21)]</p>
<p><strong>Keempat: Memberontak kepada pemerintah muslim, baik dengan demonstrasi, menyebarkan aib penguasa melalui mimbar-mimbar terbuka ataupun pernyataan di media masa, hingga membentuk organisasi yang menyerupai negara dalam negara</strong></p>
<p>ABB dalam ceramah-ceramahnya selalu mengritik pemerintah Indonesia secara terang-terangan, demikian pula kelompok dan jaringannya tidak segan-segan untuk melakukan aksi-aksi demo melawan pemerintah. Padahal mengingkari kemungkaran penguasa secara terang-terangan di depan khalayak dengan demonstrasi dan orasi di mimbar-mimbar terbuka atau menulis artikel sebagai teguran kepada pemerintah di media massa adalah bentuk pemberontakan kepada penguasa yang dicontohkan oleh kaum Khawarij. Adapun tuntunan Islam dalam menasihati penguasa adalah dengan tidak menampakkannya kepada khalayak ramai, sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel: <a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/05/tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa-sebuah-renungan-bagi-para-pencela-pemerintah/" target="_blank"><strong>Tuntunan Islam dalam Menasihati Penguasa, Sebuah Renungan Bagi Para Pencela Pemerintah</strong></a>.</p>
<p><strong>Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul</strong><em> hafizhahullah</em> berkata, “Nasihat kepada penguasa secara rahasia merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Manhaj Salaf yang diselisihi oleh <em>ahlul ahwa’ wal bida’</em>, seperti Khawarij.”</p>
<p>Beliau (<strong>Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul</strong><em>–hafizhahullah-</em>) juga menjelaskan bahwa menyebarkan aib-aib penguasa merupakan bentuk pertolongan kepada Khawarij dalam membunuh penguasa muslim, sehingga jelas bahwa pemberontakan itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan lisan.</p>
<p>Beliau berkata: “Hal tersebut dilarang karena bisa mengantarkan kepada perbuatan menumpahkan darah dan pembunuhan, sebagaimana yang dikeluarkan oleh <strong><em>Ibnu Sa’ad</em></strong> dalam<strong><em> At-Tabaqot</em></strong>, dari <strong>Abdullah bin Ukaim al-Juhani</strong>, bahwa beliau berkata:</p>
<p><em>“Aku tidak akan menolong pembunuhan seorang Khalifah selamanya setelah <strong>Utsman</strong>”, maka dikatakan kepadanya, “Wahai <strong>Abu Ma’bad</strong>, apakah engkau telah membantu (Khawarij) dalam membunuh <strong>Utsman</strong>?” Maka beliau berkata, “Sungguh aku menganggap perbuatan membicarakan keburukan-keburukan beliau sebagai bentuk pertolongan kepada (Khawarij) dalam membunuhnya”. </em></p>
<p>Maka camkanlah baik-baik atsar ini, tatkala beliau menganggap pembicaraan tentang kejelekan-kejelekan penguasa termasuk perkara yang membantu pembunuhannya.”</p>
<p>Kemudian beliau (<strong>Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul </strong><em>hafizhahullah</em>) memberikan komentar pada catatan kaki, “Atsar ini berfaedah pelajaran bahwa pemberontakan itu dapat terjadi dengan senjata (pedang), maupun dengan ucapan. Berbeda dengan pendapat (yang salah) bahwa pemberontakan itu tidak terjadi kecuali dengan senjata. Maka camkanlah ini baik-baik dan ingatlah selalu.”</p>
<p>Beliau juga menukil penegasan <strong>Asy-Syaikh Bin Baz</strong><em>–rahimahullah</em>-, <em>“Bukan termasuk manhaj Salaf menelanjangi aib-aib penguasa dan membicarakannya di atas mimbar-mimbar, karena hal tersebut mengantarkan kepada kudeta dan ketidaktaatan masyarakat dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa. Lebih dari itu, mengantarkan kepada pemberontakan yang hanya membahayakan dan tidak bermanfaat.”</em> [Lihat <strong><em>As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah,</em></strong> oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –<em>hafizhahullah-, softcopy </em>dari www.sahab.net]</p>
<p>Terlebih lagi membentuk organisasi yang menyerupai negara dalam negara, dimana para anggota menyebut pemimpinnya sebagai Amir, membuat aturan-aturan khusus yang harus ditaati dan anggotanya pun berjanji atau melakukan bai’at (sumpah setia) untuk mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut sebagaimana layaknya ketaatan kepada seorang pemimpin negara. Lebih parah dari itu, apabila ada anggotanya keluar atau memisahkan diri dari kelompoknya maka mereka mengatakan kepadanya, “Anda telah keluar dari jama’ah”. Bahkan tidak jarang disertai dengan pengucilan dan pengkafiran anggota yang keluar dari jama’ah mereka.</p>
<p>Hal ini terjadi karena kebodohan mereka dalam memahami makna jama’ah yang ada dalam dalil-dalil syar’i. Mereka mengira bahwa jama’ah yang dimaksud adalah <em>asal ngumpul</em> lalu mengangkat seorang amir. Padahal jama’ah yang dimaksudkan adalah pemerintah kaum muslimin yang memiliki kekuatan dan wilayah kekuasaan. Oleh karena itu, langkah yang mereka tempuh dengan membentuk jama’ah dalam jama’ah adalah bentuk pemberontakan kepada pemimpin kaum muslimin.</p>
<p><strong>Kelima: Menyerukan slogan-slogan Khawarij, yakni perkataan yang benar namun yang diinginkan dengannya adalah kebatilan</strong></p>
<p>ABB dan kelompoknya di mana-mana selalu meneriakkan jihad dan penegakkan syari’at Islam, meskipun hakikatnya mereka tidak menerapkan syari’at itu dalam diri dan keluarga mereka. Seruan jihad dan penegakkan syari’at Islam adalah seruan yang mulia, namun yang mereka inginkan di balik seruan yang mulia tersebut sebenarnya adalah kebatilan. Sebab jihad mereka bukanlah jihad yang syar’i, sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel: <strong><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/03/105/" target="_blank">Nasihat Kepada Teroris, Ketahuilah Beda Jihad dengan Terorisme</a></strong>.</p>
<p>Demikian pula penegakkan syari’at yang mereka serukan adalah syari’at yang sesuai manhaj Khawarij, bukan manhaj Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Hal ini mengingatkan kita kepada Khawarij generasi awal yang diperangi oleh <strong>Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>. Dimana Khawarij generasi awal pun meneriakkan slogan yang sama, yakni penegakkan syari’at Islam, seperti yang dituturkan oleh <strong>Ubaidullah bin Abi Rafi’</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em> berikut ini:</p>
<p><strong>أن الحرورية لما خرجت على علي بن أبي طالب وهو معه فقالوا لا حكم إلا لله قال علي كلمة حق أريد بها باطلٌ إن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} وصف لنا ناساً إني لأعرف صفتهم في هؤلاء يقولون الحق بألسنتهم لا يجاوز هذا منهم وأشار إلى حلقه</strong></p>
<p>“Bahwasannya kaum Khawarij Haruriyah ketika memberontak kepada pemerintahan <strong>Ali bin Abi Thalib</strong> <em>radhiyallahu’anhu </em>mereka mengatakan, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah”. Maka <strong>Ali</strong> berkata, “Perkataan yang benar, namun yang diinginkan dengannya adalah kebatilan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjelaskan  kepadaku tentang ciri-ciri sekelompok orang yang telah aku tahu sekarang bahwa ciri-ciri tersebut ada pada mereka (Khawarij), yaitu mereka mengucapkan perkataan yang benar hanya dengan lisan-lisan mereka, namun tidak melewati kerongkongan mereka (yakni mereka tidak memahaminya).” (<strong>HR. Muslim</strong>, no. 2517)</p>
<p>Namun yang sangat mengherankan, ketika mereka butuh dengan hukum buatan manusia yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, mereka pun tak segan-segan menggunakan jasa para pengacara yang setiap harinya berkecimpung dalam hukum-hukum hasil kerajinan tangan manusia dan peninggalan penjajah Belanda yang mereka kecam. Ini semua menunjukkan kebodohan mereka terhadap syari’at Allah Ta’ala.</p>
<p>Oleh karena itu kami nasihatkan kepada kaum muslimin, khususnya para pemuda, janganlah mudah tertipu dengan seruan-seruan jihad dan penegakkan syari’at yang selalu mereka dengung-dengungkan. Karena hakikatnya, mereka tidak memahami jihad dan penegakkan syari’at seperti yang dipahami Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.</p>
<p>Demikian pula, jangan engkau tertipu dengan penampilan yang islami, seperti memelihara jenggot, menggunakan pakaian tanpa menutupi mata kaki dan istri-istri mereka menggunakan jilbab syar’i dan menggunakan cadar. Tidak diragukan lagi, ini semua merupakan bagian dari syari’at Islam, sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel: <a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/03/nasihat-kepada-kaum-muslimin-ketahuilah-cadar-celana-ngatung-dan-jenggot-bukan-ciri-ciri-teroris/" target="_blank"><strong>Peringatan: Cadar, Celana Ngatung dan Cadar bukan Ciri-ciri Teroris.</strong></a></p>
<p>Akan tetapi semua itu tidaklah berarti sama sekali bagi seseorang jika aqidahnya rusak, karena mengikuti aqidah sesat Khawarij. Inilah keadaan kaum Khawarij dahulu, sangat nampak keshalihan dan kuatnya ibadah mereka, namun sayang aqidah mereka menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan:</p>
<p><strong>يخرج قومٌ من أمتي يقرءون القرآن ليس قراءتكم إلى قراءتهم بشيء ولا صلاتكم إلى صلاتهم بشيء ولا صيامكم إلى صيامهم بشيء</strong></p>
<p>“Akan keluar satu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bacaan mereka, demikian pula sholat kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sholat mereka, juga puasa kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan puasa mereka.” (<strong>HR. Muslim</strong>, no. 2516)</p>
<p>Perhatikanlah bagaimana hebatnya ibadah mereka, namun bersamaan dengan itu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyatakan mereka adalah anjing-anjing neraka, sebagaimana dalam hadits berikut ini:</p>
<p><strong>كلاب النار شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه</strong></p>
<p>“Mereka adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [<strong>HR. At-Tirmidzi</strong>, (no. 3000), dari <strong>Abu Umamah Al-Bahili</strong> -radhiyallahu’anhu-, dihasankan <strong>Asy-Syaikh Al-Albani</strong> dalam <strong>Al-Misykah</strong>, (no. 3554)]</p>
<p>Maka jelaslah, mengikuti aqidah dan pemahaman generasi As-Salafus Shalih, yaitu generasi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, adalah perkara yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba, agar selamat dari jeratan-jeratan kelompok sesat dan selamat dari adzab Allah Tabaraka wa Ta’ala di negeri akhirat.</p>
<p>Wallahul Musta’an.</p>
<p>Bersambung insya Allah Ta’ala…</p>
<p>Sumber : http://nasihatonline.wordpress.com/2010/08/23/perang-terhadap-teroris-khawarij-bukan-perang-terhadap-islam/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=73&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/08/26/perang-terhadap-teroris-khawarij-bukan-perang-terhadap-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Bersama Ikhwani – Syubhat dan Bantahan (V)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-syubhat-dan-bantahan-v/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-syubhat-dan-bantahan-v/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 13:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihi ————————————————————— Syubhat dan tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang Ikhwani Saudaraku… mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu. Sesungguhnya, masalah jamaahmu ini adalah sangat unik dan aneh, hal ini dilihat dari cara muamalah di antara anggotanya. Mereka mengerahkan kesungguhan yang tidak gampang untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=67&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihi</p>
<p>—————————————————————</p>
<p><strong>Syubhat dan tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang Ikhwani</strong></p>
<p>Saudaraku… mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu.</p>
<p>Sesungguhnya, masalah jamaahmu ini adalah sangat unik dan aneh, hal ini dilihat dari cara muamalah di antara anggotanya.</p>
<p>Mereka mengerahkan kesungguhan yang tidak gampang untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk mencari jalan keluarnya. Kemudian syubhat dan kedustaan tersebut mereka lontarkan kepada orang-orang yang terikat dengan mereka… supaya tetap tinggal dengan mereka dan dikuasai oleh mereka dan oleh otak-otak mereka, kemudian sesudahnya mereka akan tetap bersama kelompok ini dan loyalitas mereka tetap kepada kelompok ini…!</p>
<p>Barangkali masalah ini sangat aneh menurut pandanganmu. Tidak… bukan berarti saya mengada-ada kedustaan atas mereka, akan tetapi dikarenakan kurang atau tidak adanya perhatian kepada masalah ini, juga karena kamu tidak mendengar dari sisi-sisi yang lain.</p>
<p>Aku sodorkan kepadamu sebagiannya….</p>
<p>Syubhat Pertama<br />
—————<br />
Mereka membedakan antara salafiyyah yang ada di medan Islam dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yaitu mereka membagikan pembahasan di dalam masalah ini dengan judul “Mufradaat as-Salafiyyah al-Jadidah” (Keganjilan-keganjilan Salafiyyah Gaya Baru) dan saya adalah termasuk<br />
orang-orang yang menerima bagian pembahasan ini tatkala saya berada di dalam tanzhim (organisasi) mereka. Dan sungguh mereka membuat kebingungan yang mencegangkan. Hal itu mereka lakukan agar bisa memberi kerancuan kepada orang yang bergabung dengan kelompok mereka dan membuat suatu tameng di dalam diri mereka yang memisahkan antara mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (salafiyyah). Mereka menyangka di dalam pembahasan yang dibagi-bagi ini bahwa salafiyyah yang ada sekarang ini tidaklah mempunyai perhatian kecuali hanyalah takfir (mengkafirkan), tabdi’ (membid’ahkan), tafsiq (memfasiqkan) dan tadlil (menyesat-nyesatkan) dan bahwa mereka adalah alat pada suatu badan keamanan…. Tongkat-tongkat yang ada di bawah ketiak-ketiak peraturan yang timpang. Mereka adalah penakut untuk mengkritik para penguasa dan peraturan-peraturan yang ada, padahal semua hal tersebut pantas untuk mendapat kritik. Dan mereka juga penakut untuk terlibat langsung dengan masalah-masalah yang terjadi serba bisa menimbulkan kemurkaan bagi hakim (penguasa) dan peraturan.</p>
<p><span id="more-67"></span>Dan sesungguhnya mereka adalah lemah di dalam masalah adab bergaul bersama kaum muslimin, karena mereka didominasi oleh sifat kasar dan kaku. Mereka lemah di dalam masalah-masalah i’tikad (keyakinan) yang lurus dan selamat. Dan mereka juga lemah di dalam ilmu tentang realitas umat dan apa-apa yang menimpa mereka. Mereka pun mempunyai hukum-hukum yang serampangan, di antaranya perkataan: Bahwa sesungguhnya Abu Hanifah adalah seorang Jahmiy, Murjiy dan seorang ahli bid’ah (mubtadi’) yang sesat. Merupakan kesialan bagi Islam dan ahlinya. Tidak terlahir di dalam Islam orang yang lebih sial/malang melebihi dia.</p>
<p>Hal itu disaksikan oleh lebih dari dua puluh orang alim dari para ulama salaf, sehingga dia pantas untuk diberi nama Abu Jiifah (bapaknya bangkai).</p>
<p>Ibnu Taimiyyah: Tidak bisa diambil darinya hukum-hukum al-Wala’ dan al- Bara’.<br />
Ibnul Qayyim: Pada dirinya terdapat tashawwuf dan kebid’ahan.<br />
An-Nawawi: Seorang Jahmi dan Asy’ari, bukan dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.<br />
Al-’Izz bin Abdussalam: seorang Jahmi dan Asy’ari, pada dirinya terdapat karakter (watak) Khawarij.<br />
Adz-Dzahabi: Lunak di dalam hukum-hukumnya dan mutasahil (bersikap remeh/gampangan) terhadap ahli bid’ah dan juga dia adalah seorang kuburi.<br />
Ibnu al-Jauzi: Seorang Jahmi tulen.<br />
Muhammad bin Abdul Wahhab: Bukanlah seorang salafi di dalam masalah hadits, fiqh, dan sebagian masalah-masalah i’tikad.<br />
Ibnu Jibrin: Tidak ada ilmunya.<br />
Ibnu Bazz: Lemah ilmunya terhadap hadits, meragukan di dalam berfatwa, diam terhadap ahli bid’ah dan tertipu dengannya.<br />
Ibnu Utsaimin: Permainan di tangan Sururiyyin.<br />
Ibnu Qu’ud: Seorang yang berfaham Khawarij dan loyal terhadap jamaah-jamaah sesat. Jihad di Bosnia, bukanlah jihad fi sabilillah. Pertempuran di Kashmir, Filipina dan Palestina, bukan jihad… dan seterusnya.</p>
<p>Mereka juga mempunyai akhlak-akhlak dan perangai-perangai tertentu, di antaranya: Saling mengisolir di antara mereka, saling membenci, memaki dan mencela. Sangat kaku terhadap manusia. Menuduh dengan rusaknya akidah, semata-mata karena seseorang dituduh mempunyai buku-buku yang mereka tuduh dengan kebid’ahan…. Pendustaan secara terang-terangan terhadap rivalnya…. Membantu orang-orang zhalim dan fasik untuk menindas saudara-saudara mereka kaum muslimin dari para ulama dan dai. Hal itu dengan cara menulis pernyataan-pernyataan, menyebarkan tuduhan dan menganjurkan para penguasa untuk melawan mereka.</p>
<p>Dan tuduhan-tuduhan dusta serta lacut lainnya yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang takut kepada Allah dan hari akhir terhadap saudaranya yang muslim. Semoga Allah melindungi kami dan saudara dari ketergelinciran dan kesesatan. 1)</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah memberi petunjuk kepada saya dan anda terhadap jalan kebenaran.</p>
<p>Tahukah anda, kenapa kedustaan besar yang mereka rekayasa di dalam pembahasan ini? Tidak lain adalah agar bisa memberikan kerancuan terhadap anda, sehingga anda benci terhadap salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan anda tetap berpegang dengan jamaah, kesesatan dan kegelapan mereka, serta menjadi penyeru kepada manhaj mereka, sembari menyangka bahwa itu adalah manhaj yang benar.</p>
<p>Dan dari sanalah, anda tidak akan melihat nur (cahaya) selamanya, kecuali jika Allah memperbaiki anda dengan rahmat-Nya.</p>
<p>Karena itulah, berikut ini akan saya jelaskan kedustaan mereka terhadap Salafiyah:</p>
<p>PERTAMA: Bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ath-Thaifah al-Manshurah dan salafiyyah. Hal itu karena manhaj mereka adalah Kitab dan Sunnah yang shahih, serta apa yang salaful ummah ridwanallahi ‘alaihim ada di atasnya. Berbeda dengan jamaahmu, maka mereka di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang generasi akhir umat ini berada di atasnya berupa bentuk-bentuk pemikiran dan pergerakan. Demikian mereka menyangka. Masalah itu telah jelas bagimu tatkala saya menampilkan manhaj para pemimpinmu pada waktu yang telah lewat.</p>
<p>KEDUA: Kata-kata pembahas- Semoga Allah memberi petunjuk kepadanya- bahwa salafiyyah mengkafir-kafirkan dan menyesat-nyesatkan serta berbuat ini dan itu seperti yang telah saya jelaskan, tidak lain hanyalah kedustaan dan rekaan. Hal itu dilakukan adalah untuk melarikan saudara- saudara pemula dan para pemuda dari dakwah yang benar ini.</p>
<p>KETIGA: Perbedaan dia (semoga Allah membalasnya dengan apa-apa yang menjadi haknya) antara salafiyyah sekarang dengan ulama- ulama istimewa terdahulu seperti: Abu Hanifah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain serta persangkaan dia bahwa salafiyyah sekarang mencela dan menganggap sesat mereka seperti di dalam pembahasan, tidak lain hanyalah menunjukkan atas kejelekan isi hati penulis dan hizbiyyah yang pahit dan menyesatkan sampai batas sejauh ini. Dan itu dilakukan untuk mengacaukan dakwah salafiyyah. Karena itulah saya berkata agar diketahui oleh semuanya bahwa pimpinan salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan ath-Thaifah al-Manshurah adalah satu, yaitu Nabiyyul Huda Muhammad ‘alaihi shalatu wassalam. Dan mereka (salafiyyin) menempuh jalan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang ditempuh oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat semua serta pengikut mereka dengan baik seperti: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad bin Ibrahim, Abdurrahman bin Sa’di. Dan di antara orang-orang zaman sekarang adalah seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani dan banyak lagi lainnya – semoga Allah memberi ridha kepada mereka semua-. Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) berkeyakinan ahwa mereka tidak maksum kecuali Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka jika terjadi ketergelinciran pada salah seorang dari mereka, ditinggalkan ketergelincirannya, karena mereka tidak maksum. Dan mereka di dalam perkara tersebut berada diantara satu atau dua pahala seperti di dalam sunnah yang shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hukum mujtahid. Jika benar dia mendapat dua pahala dan jika salah dia mendapat satu pahala. Hal itu terjadi karena madzhab mereka adalah dalil yang shahih serta meneliti jejak langkah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya yang mulia. Berbeda dengan al-Banna, at-Tilmisani, Sa’id Hawa dan lainnya, sebagaimana tidak samar lagi bagi setiap orang yang mempunyai bashirah (ilmu) tentang keadaan mereka rahimahullaha ajma’in.</p>
<p>KEEMPAT: Perlu anda ketahui bahwa ulama salafiyyah sekarang yang mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka adalah: Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin, Ibnu Qu’ud, Shalih aalu asy-Syaikh, al-Fauzan, Rabi’ al-Madkhali, Ibnu Ghashun dan lainnya 2). Dan sesungguhnya tidak ada perbedaan di antara mereka dengan salafiyyah, sebagaimana anggapan penulis -semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-. Tetapi dia membedakan di dalam masalah tersebut agar bisa menyampaikan fikrah yang dia inginkan kepada para pemuda, yaitu bahwa manhaj yang para ulama besar sekarang seperti Ibnu Baz, al-Albani, Ibnu Utsaimin dan lainnya. Dan sungguh buah pemikiran tersebut telah nampak ketika seorang pemuda Ikhwani yang terancukan pikirannya dan seorang yang membawa akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi tidak suka dan benci terhadap setiap orang yang menamakan diri dengan salafiyyah, walaa haula walaa quwwata illa billah.</p>
<p>2) Hal ini tidaklah berarti bahwa salafiyyah adalah monopoli seseorang, seperti yang dianggap oleh sebagian orang.</p>
<p>Subhat Kedua<br />
————-<br />
Perkataan mereka bahwa salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan ath-Thaifah al-Manshurah) menentang amal jama’i (kerja sama) dan tanzhim (organisasi).</p>
<p>Samahatusy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i seorang muhaddits negeri Yaman telah ditanya: Apakah benar wahai Syaikh bahwa anda tidak melihat perlunya tanzhim pada semua urusan dakwah?</p>
<p>Maka beliau hafizhahullah menjawab setelah menetapkan adanya tanzhim di dalam Sirah (biografi) Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata: “Yang kami ingkari adalah tanzhim yang menyelisihi Kitab dan Sunnah.</p>
<p>Inilah yang kami ingkari. Dan kami katakan: Sungguh seseorang hidup sendirian itu lebih baik daripada masuk ke dalam tanzhim thaghut yang menyelisihi Kitab dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam… ya, dan ini adalah perkara yang disebarkan bahwa Ahlus Sunnah menentang tanzhim dan bahwa mereka menentang amal jama’i (kerja sama). Saya katakan: Yang menentang amal jama’i atau yang mengingkari tanzhim bukanlah seorang sunni, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong di dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)</p>
<p>Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin dengan seorang mukmin lainnya adalah seperti bangunan, saling menguatkan sebagian atas sebagian yang lainnya.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/450 - Fathul Bari) dan Muslim (2585), pent.]</p>
<p>Dan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin di dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah seperti tubuh. Jika mengeluh salah satu anggota dari tubuh tersebut, akan merasakan seluruh jasad baik dengan demam atau tidak bisa tidur. [Bukhari (X/347 - Fathul Bari) dan Muslim (2586), pent.]</p>
<p>Al-Amal al-Jama’i (kerja sama) yang menyelisihi Kitab dan Sunnah contohnya adalah yang al-Ikhwan al-Muflisun (orang-orang yang bangkrut)<br />
3) berada di atasnya.</p>
<p>3) Syaikh hafizhahullah memaksudkan al-Ikhwan al-Muslimin. Al-Muflisun artinya adalah orang-orang yang bangkrut. (pent.)</p>
<p>Syubhat Ketiga :<br />
————–<br />
Perkataan mereka adalah salafiyyah adalah salah satu jamaah dari jamaah-jamaah tanzhim, walaupun menentang tanzhim dan termasuk jamaah-jamaah hizbiyyah, walaupun menolak tahazzub (pengelompokan). 4)</p>
<p>4) Artinya tanzhim yang mereka berada di atasnya, dan hizbiyyah yang mereka terkungkung di dalamnya.</p>
<p>Di sini saya katakan, sudah jelas kedustaan ini bertentangan dengan syubhat kedua.</p>
<p>Tetapi ini adalah kebiasaan ahli batil, para pendusta dan para pendengki dari kalangan hizbiyyin. Mereka mempertentangkan diri mereka dengan pribadi mereka sendiri dengan bersandar kepada kedustaan dan rekayasa. Karena mereka tidak mampu untuk membantah dengan bantahan yang ilmiah dan benar terhadap ahlul haq tentang apa yang mereka jelaskan dari kemungkaran-kemungkaran dan bid’ah-bid’ah yang terdapat pada hizb-hizb ini.</p>
<p>Sama sekali mereka tidak akan mampu melakukan hal tersebut!</p>
<p>Orang yang memperhatikan sirah Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan dan memperoleh hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir 5) -semoga Allah membinasakan mereka- terhadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang mereka mengatakan bahwa beliau adalah seorang penyair, dan syi’ir tidak mungkin mampu kecuali orang yang mempunyai akal yang istimewa…. Dan pada kesempatan lain mereka mengatakan bahwa beliau gila…, maka lihatlah pertentangan tersebut!</p>
<p>5) Tentu dengan adanya perbedaan antara orang-orang kafir dan orang Ikhwan, maka mereka (Ikhwan) adalah orang-orang muslim.</p>
<p>Tujuan mereka dari kedustaan ini jelas sekali tidak ada kesamaan di atasnya, mereka ingin menggambarkan kepada orang-orang yang tergabung di dalam jamaah mereka bahwa salafiyyah adalah hizb seperti hizb-hizb yang lain. Keadaan salafiyyah seperti keadaan mereka. Masing- masing menyempurnakan sebagian atas sebagian yang lain seperti yang mereka sangka. Ini adalah kedustaan dan rekayasa. Hal ini dilihat dari beberapa segi:</p>
<p>PERTAMA: Bahwa salafiyyah tidak mempunyai pendiri dan pemimpin selain Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Berbeda dengan Ikhwanul Muslimin, pemimpin dan pendiri manhaj mereka adalah Hasan al-Banna rahimahullah dan orang yang sesudahnya.</p>
<p>KEDUA: Bahwa salafiyyah tempat kembalinya (rujukan) mereka adalah Al-Kitab, Sunnah dan apa yang salaful ummah ada di atasnya. Berbeda dengan mereka, tempat kembali mereka adalah Kitab, Sunnah danpandangan pemikiran serta gerakan yang disangka oleh mereka.</p>
<p>KETIGA: Bahwa salafiyyah, loyalitas adalah kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Berbeda dengan Ikhwan, maka loyalitas mereka diberikan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang tergabung di dalam Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Syubhat Keempat :<br />
—————-<br />
Perkataan dan lontaran mereka pada akal-akal para anggota (al-Ikhwan) bahwa diskui dan dialog ilmiah dengan tenang untuk menjelaskan kebenaran kepada firqah-firqah ini dan lainnya tentang beberapa masalah adalah merupakan perdebatan yang tidak bermanfaat dan wajib untuk ditinggalkan.</p>
<p>Mereka menginginkan dengan lontaran tersebut untuk menjaga orang yang tergabung di dalam hizb mereka. Karena mereka tahu bahwa semata-mata dengan perginya orang tersebut saja untuk berdiskusi dan dialog dengan seorang salafi (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), hasilnya adalah dia akan meninggalkan hizb yang dia tergabung di dalamnya… jika dia termasuk orang yang bertakwa kepada Allah. Karena dia akan terbakar hangus dengan dalil-dalil yang tetap (tsabit) dari Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang salaful ummah ada di atasnya.</p>
<p>Footnote :<br />
1) Barangsiapa yang ingin untuk membaca pembahasan tersebut, layangkanlah surat kepada saya dengan alamat yang akan saya jelaskan pada akhir tulisan, insya Allah.</p>
<p>(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=354">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=354</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=67&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-syubhat-dan-bantahan-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Bersama Ikhwani – Fatwa Ulama tentang Mereka (IV)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-fatwa-ulama-tentang-mereka-iv/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-fatwa-ulama-tentang-mereka-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 13:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihi ——————————————————————- Saudaraku… mudah-mudahan Allah menjagamu. Apakah kamu mendengar perkataan ahli ilmu tentang jamaah yang kamu berada di dalamnya? Telah ditanya al-Muhadits Syaikh Muqbil al-Waadi’i seorang alim dari negeri Yaman, “Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin, Tablighi dan Quthbiyyin (orang-orang yang mengikuti pemikirannya Sayyid Quthub) termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=65&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihi</p>
<p>——————————————————————-</p>
<p>Saudaraku… mudah-mudahan Allah menjagamu. Apakah kamu mendengar perkataan ahli ilmu tentang jamaah yang kamu berada di dalamnya?</p>
<p>Telah ditanya al-Muhadits Syaikh Muqbil al-Waadi’i seorang alim dari negeri Yaman, “Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin, Tablighi dan Quthbiyyin (orang-orang yang mengikuti pemikirannya Sayyid Quthub) termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau bukan?”</p>
<p>Maka beliau pun menjawab: “Adapun jamaah Ikhwan (Ikhwanul Muslimin, red), jamaah Tabligh dan al-Quthbiyyin, maka lebih baik untuk dihukumi kepada manhaj mereka. Dan manhaj (prinsip dan cara berfikir) mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun individu (masing-masing jamaah), maka kalian pun tahu bahwa sebagian orang terkecoh, menyangka seseorang sebagai salafi 1) dan mendatangkan dia dalam rangka membela agama Allah Ta’ala, dan berjalan dengan mereka, karena mereka campur aduk.</p>
<p>Individu-individu ini campur baur tidak bisa dihukumi atas mereka dengan satu hukum yang umum akan tetapi manhaj-manhaj mereka, bukanlah dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” [Kaset Al-As-ilah as- Saniyyah li 'Allamah al-Bilaad al-Yamaniyyah]</p>
<p>Al-Muhaddits as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah pernah ditanya juga tentang apa hukum banyaknya jumlah jamaah-jamaah dan kelompok-kelompok Islam, sementara masing-masing berbeda dalam manhajnya, cara-cara dakwahnya dan akidahnya serta dasar-dasar yang tegak di atas jamaah-jamaah ini, terlebih dikatakan bahwa jamaah yang haq adalah satu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits?</p>
<p>Maka beliau pun menjawab: “Ringkas kata dalam masalah ini kitakan, “Tidak tersamar<br />
bagi setiap muslim yang tahu akan kitab dan sunnah dan apa-apa yang ada pada Salaf ash-Shalih Radhiallahu ‘anhum bahwasanya:<br />
1. Pengelompokan (tahazzub) dan perkumpulan (takatul) dalam jamaah-jamaah yang berlainan pola berfikirnya<br />
2. Manhaj-manhaj (prinsip) dan cara-cara (model-model mereka)</p>
<p><span id="more-65"></span>Tidak ada sedikipun yang berasal dari Islam, bahwa semua itu adalah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat- ayatNya di dalam Al-Qur’an al-Karim. Di antaranya:<br />
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ<br />
artinya : “Dan janganlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan<br />
Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka<br />
menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan<br />
apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 32)<br />
Dan firman-Nya yang lain:<br />
وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ</p>
<p>إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ<br />
artinya : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang- orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. ” (Hud: 118-119)</p>
<p>Dan Allah Ta’ala mengecualikan dari perselisihan ini satu golongan yang dikasihi, di mana Allah berfirman: (“Kecuali orang-orang yang diberi rahmah oleh Tuhanmu.”)</p>
<p>Maka tidak ada keraguan dan kebimbangan, bahwasanya jamaah manapun yang menginginkan dengan perhatian yang maksimal dan ikhlas karena Allah Ta’ala untuk bisa termasuk dari umat yang dikasihi ini yang dikecualikan dari perselisihan yang pasti terjadi, tidak ada cara untuk sampai kepada jalan itu dan untuk merealisasikannya secara amaliah dalam masyarakat Islam, kecuali dengan kembali kepada Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang telah ditempuh oleh Salaf ash-Shalih radhiallahu ‘anhum ajma’in.</p>
<p>Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan manhaj dan jalan yang selamat, tidak hanya satu hadits yang shahih saja dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau pada suatu hari membuat satu garis lurus di atas tanah, dan membuat garis-<br />
garis di sekitar garis lurus itu, kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:<br />
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ<br />
artinya : “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)</p>
<p>Kemudian beliau menunjuk dengan ujung jarinya di atas garis yang lurus, seraya bersabda, “Dan masing-masing golongan dari dua kelompok ini ada setan yang mengajak manusia kepadanya.” Tidak ragu lagi bahwa jalan-jalan yang pendek inilah yang menjadi perumpamaan adanya kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah yang banyak sekali.<br />
(Sampai di sini perkataan beliau).</p>
<p>Demikian pula Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hafizhahullah ditanya: Apakah ada nash-nash dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang dibolehkannya ta’addud al-Jama’at (banyaknya jumlah jamaah) dan jamaah Ikhwan ? Maka beliau pun menjawab: “Saya katakan, tidak ada dalam kitab dan juga di sunnah hal- hal yang membolehkan banyaknya jumlah jamaah dan kelompok-kelompok, bahkan dalam kitab dan sunnah mencela masalah ini. Firman Allah Ta’ala:<br />
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ<br />
artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’am: 159)</p>
<p>مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ<br />
artinya : “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 32)</p>
<p>Tidak ragu lagi bahwa kelompok-kelompok ini menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah, bahkan Allah membatasinya dengan firman-Nya:<br />
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ<br />
artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)</p>
<p>Dan perkataan sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa “tidak mungkin dakwah ini menjadi kuat kecuali jika berdiri di bawah satu kelompok.”</p>
<p>Kami katakan: Ini tidak benar, bahkan dakwah ini akan semakin kuat selama manusianya berlindung di bawah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam dengan ittiba’ (mengikuti) kepada atsar-atsar (perilaku/jejak langkah) Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan Khulafa ar-Rasyidin (Khalifah yang empat yang diberi petunjuk, red).”</p>
<p>Sebagaimana telah bangkit sebagian ahli ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mereka memiliki bashirah (wawasan) tentang manhaj jamaah ini (yakni Ikhwanul Muslimin) dengan memberi peringatan kepada manusia dari (bahayanya) jamaah ini, lebih-lebih al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Shalih al-<br />
Fauzan – anggota ikatan ulama-ulama besar Saudi Arabia- dan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali 2) serta yang lainnya masih banyak lagi….</p>
<p>Disini saya katakan kepadamu, sekaligus saya beri peringatan atas suatu permasalahan:<br />
Bukankah kamu lihat bahwa yang mengkritik jamaah ini dan mentahdzir (memberi peringatan) dari jamaah in pada masa sekarang, mereka adalah dari kalangan ulama-ulama besar dan para pencari ilmu (thalabatul ilmi), berbeda dengan orang-orang yang hanya sekedar memuji kepada jamaah ini.</p>
<p>Tidakkah hal ini sedikit membekas pada jiwamu? Katakanlah: Ya, dan tengoklah kembali jiwamu!</p>
<p>Footnote :<br />
1) Saya katakan: Inilah kebanyakan yang terjadi di kalangan anak muda – mudah-mudahan Allah memberi petunjuk mereka- di mana mereka bertemu dalam tanzhim Ikhwan tanpa mereka tahu dan memperhatikan manhaj ini, seandainya mereka tahu apa yang ada dalam tanzhim ini dari penyimpangan-penyimpangan kepada Ahlus Sunnah wal<br />
Jama’ah pasti mereka akan berlepas diri dan waspada darinya. Oleh karenanya yang saya harapkan kepada kawula muda yang terorganisasi dalam kelompok ini, supaya jangan mengajak kepada kelompok ini tanpa mereka mengetahui manhajnya dan supaya mereka tidak merasa cukup dengan mendengar pujian-pujian atas pendiri-pendiri jamaah ini dan manhajnya dari kalangan pimpinan-pimpinannya, bahkan mestinya mereka mencari dan membongkar buku-buku al-Banna, Tilmisani dan Sayyid Sa’id Hawa serta yang lainnya, agar al-haq ini nampak oleh mereka dengan jelas tanpa kerancuan dan debu yang menutupinya.</p>
<p>2) Dan orang yang paling luas pandangan tentang asapnya (kejelekannya) jamaah-jamaah ini pada masa kini adalah Syaikh Rabi’ al-Madkhali hafizhahullah, telah berkata demikian Syaikh Muqbil al- Wadi’i, kaset Al-As-ilah as-Saniyyah li ‘Allamah al-Bilaad al-Yamaniyyah</p>
<p>(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)</p>
<p>Fatwa Syaikh Bin Baz tentang Ikhwanul Muslimin</p>
<p>Pertanyaan : Samahatusy Syaikh, … gerakan Ikhwanul Muslimin telah memasuki kerajaan (Saudi Arabia) sejak beberapa waktu yang lalu. Mereka telah memiliki kegiatan yang jelas di antara thalabatul ilmi (para pelajar). Bagaimana pendapatmu tentang gerakan itu ? Dan seberapa jauh hubungannya dengan manhaj sunnah dan jamaah ?</p>
<p>Jawaban :</p>
<p>Gerakan Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para ulama yang utama karena mereka tidak memiliki dakwah kepada tauhid dan tidak mengingkari kesyirikan serta bid’ah-bid’ah. Mereka memiliki cara-cara khusus yang menyebabkan kurangnya kegiatan berdakwah kepada Allah dan tidak adanya pengarahan kepada aqidah yang benar yang mana ahlus sunnah wal jamaah berada di atasnya. Seharusnyalah bagi Ikhwanul Muslimin untuk memiliki perhatian kepada dakwah salafiyah, dakwah kepada tauhid, pengingkaran terhadap peribadatan kubur, istighatsah (mengadu) kepada ahlul kubur seperti kepada Husain, Hasan atau al-Badawy dan yang seperti itu. Wajib mereka memiliki perhatian terhadap perkara yang sangat mendasar ini, karena ia adalah dasar dien ini dan awal pertama ajakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di Mekkah. Beliau mengajak untuk mengesakan Allah dan mengajak kepada makna Laa Ilaaha Illallah.</p>
<p>Kebanyakan para ahli ilmi (ulama) mengkritik mereka karena masalah ini, yaitu tidak adanya semangat mereka untuk berdakwah kepada tauhidullah dan keikhlasan kepada-Nya serta pengingkaran kepada apa yang telah diada-adakan oleh orang-orang bodoh seperti ketergantungannya kepada orang-orang mati, beristighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, karena hal ini adalah merupakan syirik besar. Demikian pula para ulama membantah mereka karena tidak adanya perhatian mereka terhadap sunnah, ittiba’ kepadanya dan tidak adanya perhatian terhadap hadis yang mulia serta tidak adanya perhatian terhadap apa yang ada diatasnya salaful ummah dalam hukum-hukum syariat. Dan masih banyak permasalahan lain yang aku dengan saudara-saudaraku (para ulama) mengkritik mereka padanya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada mereka, membantu mereka dan memperbaiki keadaan mereka.</p>
<p>(Diterjemahkan dari majalah Al-Majalla, no. 806, 23-29 Juli 1995 M/ 25 Shafar – 2 Rabiul Awwal 1416 H, London. Dimuat dalam Majalah Salafy)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=348">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=348</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=65&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-fatwa-ulama-tentang-mereka-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Bersama Ikhwani – Penyempalannya (III)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-penyempalannya-iii/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-penyempalannya-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 13:11:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihhi —————————————————————– Al-hizbiyyah dan kejelekan-kejelekan tanzhim yang bersifat rahasia Saudaraku… mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada apa yang Allah sukai dan Allah ridhai. Sebenarnya aku menilai sikap hizbiyyah yang sempit dan hidup di jamaahmu, adalah termasuk dari sebab yang paling asasi dan telah menjadikan umat ini dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=63&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihhi</p>
<p>—————————————————————–</p>
<p>Al-hizbiyyah dan kejelekan-kejelekan tanzhim yang bersifat rahasia</p>
<p>Saudaraku… mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada apa yang Allah sukai dan Allah ridhai.</p>
<p>Sebenarnya aku menilai sikap hizbiyyah yang sempit dan hidup di jamaahmu, adalah termasuk dari sebab yang paling asasi dan telah menjadikan umat ini dalam firqah-firqah serta kelompok-kelompok.</p>
<p>Barangkali kamu akan keheranan dengan hal ini…</p>
<p>Akan tetapi aku katakan: Kemarilah bersamaku untuk melihat sejauh mana kebenaran penilaianku. Sebelum saya mulai, saya ingin bertanya kepadamu dengan satu pertanyaan.</p>
<p>Apakah kamu masuk dalam tanzhim rahasia yang ada di jamaahmu? Jika jawabnya, “Ya…”, maka perhatikanlah… Apa yang kamu rasakan dari muamalah mereka terhadapmu sebelum dan sesudah kamu masuk dalam tanzhim ini?</p>
<p>Bukankah di dalamnya ada perbedaan-perbedaan besar? Tidakkah kamu bertanya-tanya mengapa berbeda seperti ini? Akan aku katakan kepadamu mengapa demikian….</p>
<p>Dikarenakan loyalitas dan muamalah mereka dengan manusia berasaskan tanzhim ini, … maka barangsiapa yang berada dalam tanzhim ini, dialah kawan akrabnya, dialah orang yang patuh, … dialah saudara…, dan dialah syaikh 1), … dialah… dialah…</p>
<p>Dan barangsiapa yang belum menjadi anggota dan masuk dalam tanzhim mereka ini, tapi dia membela pemikiran mereka ini, maka dia adalah penolong… dialah yang membantu… dialah yang bisa diajak kerjasama. Orang biasa… orang yang baik….</p>
<p>Adapun orang yang tidak masuk dalam tanzhim mereka, akan tetapi dia mengikuti dalil dari Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, dari shahabat Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat…, maka dia adalah orang yang suka mengkafirkan (mukaffir), dialah orang yang suka membid’ahkan…, dia orang pemerintahan dan dia adalah utusan dari badan keamanan (intelijen)…, dialah orang yang bodoh dengan waqi’ (fakta), dialah orang yang suka memecah belah… dialah… dialah… dan seterusnya.</p>
<p><span id="more-63"></span></p>
<p>Oleh karenanya aku katakan: Sebaiknya kamu tahu wahai saudaraku, mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu…. Bahwa perbedaan yang mencolok antara jamaahmu dan jamaah ahli haq dalam masalah ini… bahwasanya dilihat, loyalitas mereka adalah untuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam serta orang-orang yang beriman.</p>
<p>Adapun jamaahmu 2) maka loyalitasnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam serta untuk orang yang masuk dalam tanzhim kelompok Ikhwanul Muslimin. Barangkali kata-kata terakhir ini terasa amat berat di hatimu, akan tetapi itulah kenyataan yang tidak ada keraguannya.<br />
Di sini saya katakan kepadamu…. Seandainya kamu bepergian ke salah satu negeri… kemudian di perjalanan ketemu dengan tiga orang, seorang dari mereka dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi, ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong), al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), seorang lagi dari Jamaatut Tabligh dan yang lainnya dari Ikhwanul Muslimin… maka kamu duduk dengan mereka dan terjadi perbincangan di antara kalian dan saling mempersilahkan sebagian kalian dengan sebagian yang lain, dan kamu mulai memperkenalkan dirimu kepada mereka, kemudian masing-masing mereka pun memperkenalkan dirinya.</p>
<p>Maka berkata seorang dari mereka: Saya Fulan bin Fulan seorang ikhwani (pengikut Ikhwanul Muslimin, red), kemudian yang kedua pun mengatakan saya Fulan bin Fulan seorang salafi, yakni orang yang mengikuti kitab dan sunnah atas pemahaman salaful ummah, maka sekarang sikap apa yang akan kamu tampakkan dari mereka ini?</p>
<p>Saya katakan kepadamu: Pasti kamu merasa bahagia dan sangat condong kepada orang yang pertama kamu mendengar bahwa dia adalah seorang ikhwani, kemudian kamu akan merasa berat hati, dan menjaga jarak serta berbagai basa-basi akan muncul olehmu, ketika kamu mendengar bahwa dia adalah seorang tablighi (pengikut Jama’ah Tabligh, red).</p>
<p>Adapun ketika kamu mendengar nama yang ketiga bahwa dia seorang salafi, maka akan nampak raut muka yang masam di wajahmu dan perubahan yang cepat (salah tingkah) dalam muamalah terhadapnya. Maka inikah wala’ (loyalitas) untuk orang-orang beriman ataukah untuk jamaah Ikhwanul Muslimin? Tidak ragu lagi, loyalitas ini adalah untuk jamaah Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Adapun borok-borok tanzhim rahasia, maka Allah-lah tempat dimintai pertolongan. Hal ini karena tanzhim inilah yang telah membawa kita kepada bencana, dan tanzhim inilah yang telah membuat jurang yang menganga di antara Hukkaam (penguasa negara) dan para dai serta orang-orang yang berbuat islah (perbaikan) dengan apa yang telah memberi kesempatan kepada orang yang menyimpang dari kalangan sekuler dan yang lainnya, agar mereka bisa lebih mendekatkan diri kepada kelompok yang punya kedudukan untuk mereka bisa mencapai maksud dan tujuan mereka.</p>
<p>Bahkan tanzhim inilah yang telah menjadikan semua pemerintahan mengarahkan pandangan mereka kepada shahwah al-Islamiyyah (kebangkitan Islam) dengan pandangan takut dan waspada akan terjadi satu bentuk perubahan. Hal ini jelas sekali, tidak ada kerancuan dan tidak ada debu yang menghalangi (menutupi).</p>
<p>Maka wahai saudaraku…</p>
<p>Apa perlunya kita kepada “kerahasian” (sirriyah) di negeri-negeri Islam, lebih-lebih di negara-negara Teluk? Kecuali hanya sekedar kebutuhan orang-orang Ikhwan (Ikhwanul Muslimin, red) yang mereka sangat takut untuk menampakkannya?</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam kitabnya Az-Zuhd halaman 353 dari Umar bin Abdul Aziz, katanya: “Jika kamu lihat satu kaum yang mereka saling mengadakan ‘pembicaraan rahasia’ dalam agama mereka, tanpa menceritakannya kepada orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka berada dalam satu dasar kesesatan.”</p>
<p>Oleh karenanya saya katakan: “Sesungguhnya akidah kami; salafiyyin (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong), al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat) terhadap Hukkam (penguasa negara) kami kaum muslimin, bahwa kita tidak boleh keluar dari (ketaatan) mereka, walaupun pada mereka terdapat kezhaliman, kepalsuan, kefasikan dan kesenjangan, selagi mereka tidak mengumumkan secara jelas di depan orang banyak bahwa mereka tidak menghendaki dan tidak menyukai syariat Allah Ta’ala, dan mereka kafir kepada Allah dengan kekafiran yang nampak jelas oleh kita dengan petunjuk dari Allah Ta’ala dan dalil dari Kitab (Al Quran, red) dan Sunnah. Maka kalau seandainya mereka berbuat demikian, bolehlah untuk keluar dari ketaatan terhadap mereka dengan syarat yang kedua, yakni kita memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk menggulingkan mereka, tanpa mengakibatkan kerusakan yang lebih parah dari yang pertama.</p>
<p>Kalau tidak demikian, kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah bekerja sama dengan pemerintah Islam dengan doa dan nasehat kepada mereka dengan cara hikmah, penuh bijaksana dan nasehat yang baik, tidak dengan revolusi dan kebrutalan. Dan kita taat kepada mereka dalam suka ataupun duka, kecuali dalam kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan kepada mereka. Maka kami pun memberi peringatan kepada orang yang keluar dari ketaatan terhadap mereka dari kalangan kaum muslimin…!</p>
<p>Dan kami namakan mereka (orang-orang yang keluar dari ketaatan pemerintah Islam) orang-orang yang membangkang, dan kami hukumi mereka sebagaimana layaknya orang yang membangkang. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu: ‘ Rasulullah mengajak kami, maka kami pun membaiatnya, dan beliau ambil dari kami adalah, agar kami membaiatnya ats dasar mendengar dan taat dalam suka maupun duka, dalam keadaan susah ataupun mudah dan dalam keadaan yang tidak kita sukai atau kita inginkan serta supaya kita tidak merampas kekuasaan dari ahlinya kemudian beliah bersabda: “Kecuali kalian melihat kekafiran yang sangat jelas oleh kalian dengan petunjuk dari Allah Ta’ala.” [HR. Muslim -lihat Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, di kitabul Imarah, bab Wujubu ath-tha'ah al-umara fi ghairi ma'shiyah wa tahrimuha fi al-ma'shiyah]</p>
<p>Saudaraku… mudah-mudahan Allah menjagamu. Barangkali di sini ada satu pertanyaan yang muncul, yakni selama jamaah ini demikian kondisinya, manakah jalan yang benar…?</p>
<p>Sesungguhnya jalan yang benar adalah jalan yang pernah ditempuh oleh Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia serta orang orang yang mengikuti mereka dengan baik yakni “Manhaj Shalafus Shalih” radhiallahu ‘anhum ajma’in. Hal ini berdasarkan hadits Abi Najih al-’Irbadh bin Sariyyah berkata:<br />
‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang dengannya bergetar hati-hati dan berlinanglah air mata, maka kami katakan, “Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami.” Maka beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, mendengar dan taat, walaupun kalian diperintah oleh seorang hamba (budak), maka sesungguhnya barangsiapa yang hidup dari kalian, pasti akan mendapatkan perselisihan yang banyak. Oleh karenanya, wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku serta sunnah para khalifar ar-rasyidah yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru maka sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.” [Disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Arba'in Nawawiyyah dan berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan Hadits Hasan]</p>
<p>Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa perselisihan (ikhtilaf) akan terjadi, tapi beliau tidak membiarkan kita (dalam perselisihan) dengan tanpa bayyinah (penjelasan). Bahkan beliau telah memberikan kepada kita jalan keluar dari perselisihan ini dengan sabdanya: Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, yakni wajib bagi kalian untuk mengikuti jalanku dan jalan yang telah ditempuh oleh Khulafa ar-Rasyidin, bukan jalannya Al-Banna dan bukan pula jalan yang lain.</p>
<p>Footnote:<br />
1) Selintas pandang, ketika aku berada di tanzhim mereka ini, sebagian dari mereka memanggilku dengan “Syaikh” dan saat itu aku larang panggilan ini, karena saya tahu bahwa saya masih menempuh jalanku di awal mencari ilmu dan aku bukan ahlinya dalam hal ini… dan tatkala aku menyelisihi mereka dan aku tinggalkan tanzhim mereka, lenyaplah kalimat ini dan diganti dengan katan-kata yang lain seperti tukang mengkafirkan, tukang membid’ahkan dan tukang memfasikkan orang dan diutus dari badan keamanan…, maka betapa mengherankan basa-basi dan hizbiyyah ini.<br />
Subhanallah.</p>
<p>2) Kami katakan: Adapun jamaahmu, loyalitas mereka adalah terbatas hanya pada orang-orang yang masuk di bawah panji-panji mereka, karena seandainya loyalitas mereka karena Allah dan Rasul-Nya dengan benar, pasti hal ini diberikan kepada kaum muslimin<br />
semuanya. Allahu a’lam.</p>
<p>(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=347">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=347</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=63&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-penyempalannya-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Bersama Ikhwani – Kondisi Pimpinannya (II)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-kondisi-pimpinannya-ii/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-kondisi-pimpinannya-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 13:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihhi —————————————————————- Kondisi sebagian pimpinan kelompok ini dan manhaj mereka Saudaraku, mudah-mudahan Allah Ta’ala menjagamu… Saya ingin bertanya kepadamu satu pertanyaan, tidak hanya satu, bahkan beberapa pertanyaan. - Apa yang kamu ketahui tentang jamaah (kelompok) yang kamu ada di dalamnya? - Apa yang kamu ketahui tentang manhaj dari jamaah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=61&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihhi</p>
<p>—————————————————————-</p>
<p><strong>Kondisi sebagian pimpinan kelompok ini dan manhaj mereka</strong><strong><br />
</strong><br />
Saudaraku, mudah-mudahan Allah Ta’ala menjagamu… Saya ingin bertanya kepadamu satu pertanyaan, tidak hanya satu, bahkan beberapa pertanyaan.<br />
- Apa yang kamu ketahui tentang jamaah (kelompok) yang kamu ada di dalamnya?<br />
- Apa yang kamu ketahui tentang manhaj dari jamaah ini…?<br />
- Dan apa yang kamu mengerti dari sebagian pimpinan dan pendiri jamaah ini…? Seperti Hasan Al-Banna, Tilmisani, dan … dan …<br />
- Apakah mereka berada dalam al-haq atau tidak?</p>
<p>Jangan kamu tergesa-gesa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini… kenapa? Dikarenakan jika kamu mengatakan kepadaku bahwa mereka dalam al-haq, maka akan saya tanyakan kepadamu: Apa dalilnya…?</p>
<p>قُلْ هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ<br />
artinya : “Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang benar.” (QS Al Baqarah 111)</p>
<p>Oleh karenanya saya katakan, kemarilah bersamaku untuk melihat dan menelaah: Apakah jamaahmu berada dalam al-haq atau tidak? Dan apa dalilnya…?</p>
<p>Maka kita memulai dengan menyebut para pendiri jamaahmu dan pimpinannya agar kita mengetahui manhaj mereka dan sedikit dari perbuatan mereka, akan tetapi… janganlah kamu marah, dan gelisah dulu, juga jangan ta’ashub (fanatik golongan)! Dan janganlah kamu menyangkal, kecuali dengan dalil!</p>
<p><span id="more-61"></span></p>
<p>Apabila kamu merasa ragu atau diragukan dengan apa yang saya nukil dari sebagian perkataan dan perbuatan mereka… maka tidak ada jalan lain bagimu, kecuali kamu merujuk kembali kepada rujukan-rujukan yang akan saya jelaskan, dan rujukan itu adalah dari hasil karya para pemimpin jamaahmu, bukan dari orang lain.</p>
<p>Saudaraku… -Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjagamu-, Apa yang akan kamu katakan, kalau seandainya ada seseorang yang mengabarkan kepadamu akan dirinya bahwa dia merayakan bid’ahnya perayaan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam waktu 12 hari, dari awal bulan Rabi’ul Awwal setiap tahun, mengelilingi kampung bersama para pengikutnya, bersuka ria sambil mendendangkan nasyid- nasyid ?</p>
<p>Maka apakah kamu akan menyetujui dan diam (terhadap kemungkaran itu)?</p>
<p>Apakah kamu akan mengikutinya? Dan menjadikannya sebagai pimpinanmu?</p>
<p>Tidak ragu dan tidak bimbang lagi: Tidak (jawabnya, pent), jika engkau dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah! Kenapa? Karena apa yang dilakukannya adalah bid’ah sebagaimana telah kamu ketahui!</p>
<p>Sekarang tahukah kamu siapa dia? Dialah Hasan Al-Banna pendiri kelompok Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Jangan… jangan… jangan marah dulu!</p>
<p>Karena dia sendiri yang berkata akan dirinya, bukan saya. Sebagaimana disebutkan<br />
dalam bukunya Mudzakkiraat ad-Da’wah wa ad-Da’iyyah halaman 48 dalam judul<br />
“Contoh yang Baik”, ketika beliau mengatakan: “Aku sebutkan bahwasanya sebagian dari kebiasaan kami adalah keluar pada acara Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada sebuah arak-arakan setelah sebelumnya kumpul. Hal ini berlangsung setiap malam dari awal sampai tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dimulai dari rumah salah seorang ikhwan. Suatu malam secara kebetulan kami bertemu, dan saat itu giliran pertemuan ada di rumah saudara kami Syaikh Syalaby ar-Rajjaal, maka kami pergi ba’da Isya’ sebagaimana biasa, maka kami dapati sebuah rumah yang terang-benderang, bersih dan semua serba siap. Kemudian dibaginya minuman kopi dan qirfah (sejenis makanan dari kulit kambing) sebagaimana biasa. Dan kami keluar pada sebuah arak-arakan sambil mendendangkan nasyid-nasyid tertentu dengan penuh suka cita dan bahagia.”</p>
<p>Perhatikanlah dan renungkanlah… mudah-mudahan Allah merahmatimu.</p>
<p>Bahkan saudara dia (yakni Hasan Al-Banna), yaitu Abdurrahman Al-Banna, menguatkan masalah ini sebagaimana di kitabnya “Hasan Al-Banna bi Aqlaami talaamidzatihi wa mu’ashirihi” yang ditulis oleh Jabir Rizq, dalam bab berjudul “Hasan Al-Banna zamiil ash Shibaa wa Rafiq asy Syabab”. Di mana Abdurrahman Al-Banna mengatakan di halaman 71-72: “Maka berjalanlah -yakni Hasan Al-Banna- dalam sebuah arak-arakan, sambil mendendangkan nasyid-nasyid pujian kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hilal bulan Rabi’ul Awwal telah nampak. Kami berjalan dalam sebuah arak-arakan di sore hari pada setiap malam sampai malam 12 Rabi’ul Awwal sambil mendendangkan qasidah-qasidah pujian kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan di antara qasidah terkenal yang kami dendangkan di acara yang penuh berkah ini:</p>
<p>“Bershalawat sang Ilah kepada Nur yang telah nampak<br />
bagi alam yang melebihi matahari dan bulan.”</p>
<p>Bait yang mulia didendangkan secara koor, sedangkan aku dan saudaraku (yakni Hasan Al-Banna) mendendangkan bersama bait-bait di bawah ini:</p>
<p>“Sang kekasih bersama yang lain telah hadir<br />
Mengampuni semua yang telah lewat dan berlalu<br />
Sungguh-sungguh beliau memutar khamrnya<br />
Hampir-hampir cahayanya menghilangkan pandangan<br />
Wahai Sa’ad, ulangilah bagi kami penyebutan kekasih ini.<br />
Benar-benar mengacaukan pendengaran kami wahai penyanyi.<br />
Sungguh beliau tidak menyusun larangan yang miring pakaiannya<br />
Tidak diragukan lagi bahwa kekasih kaum telah hadir.”</p>
<p>Tahukah kamu siapakah Al-Habib (kekasih) yang mereka maksudkan telah hadir di tengah-tengah mereka? Dan mengampuni dosa-dosa mereka? Tidak lain maksud mereka<br />
adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam! Laa haula wala quwwata illa billah.</p>
<p>Wahai saudaraku… demi Allah, kamu mesti sadar dari kelalaianmu… cemburulah kepada syariat dan akidahmu (dengan pujian yang melampaui batas ini, red) ! Karena, bagaimana mungkin kamu ikuti orang yang mendudukkan nabimu memilikimu sifat maghfirah (mengampuni) yang itu adalah hak khusus bagi Allah Ta’ala saja.</p>
<p>Mereka beri’tikad bahwa nabi kita dan teladan kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam telah menghadiri bid’ah mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Maha suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah kedustaan yang besar.</p>
<p>Saudaraku… mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadaku dan kepadamu ke jalan yang lurus…. Apa yang akan kamu katakan, kalau seandainya seseorang bercerita kepadamu bahwa dia bergaul dengan ahli bid’ah dan mengambil bid’ah dari mereka, bahkan terbiasa dengan majlis-majlis bid’ah mereka yang mereka namakan hadhrah (kehadiran) tiap malam… sampai dia berterus-terang kepadamu tentang masalah ini bahwasanya dia telah sangat kenyang dengan fikrahnya (pemikiran) tarikat Al- Hashafiyyah yang bid’ah itu…!</p>
<p>Tidak ragu lagi pasti dan pasti kamu akan sangat mengingkarinya… hal ini dikarenakan dia telah berbuat bid’ah dalam ad Dien ini.</p>
<p>Saya katakan: Tenanglah… jangan marah dulu, dikarenakan Hasan Al-Banna adalah pimpinanmu jamaahmu! Dia berkata di bukunya: Mudzakirat ad-Da’wah wa ad-Da’iyah hal 23: “Dan aku berkawan dengan orang-orang Al-Hashafiyyah di Damanhur, dan aku biasa hadir di masjid At-Taubah setiap malam. Dan di halaman 27 dari kitab ini juga dia berkata: “Aku singgah di kota Damanhur dalam kondisi kenyang dengan fikrah AlHashafiyyah, kota Damanhur ini adalah tempat dimakamkannya Syaikh Sayyid Hushain al-Hashafi, Syaikhnya Tarikat Al-Hashafiyyah yang pertama.</p>
<p>Sekarang tahan sedikit dengan pertanyaanku… Apa yang akan kamu katakan tentang menganggap entengnya Al Banna pada khilaf yang terjadi antara Salaf dan Khalaf tentang sifat Allah Ta’ala…? Dan apa yang kamu katakan pula tentang tuduhannya (Al Banna) kepada Salaf, bahwasanya Salaf itu kadang-kadang menta’wil (membelokkan ke makna lain, red) , kadang-kadang ghuluw (berlebihan) dan kadang-kadang melampaui batas dalam hal ini (yakni dalam memahami sifat Allah Ta’ala)?</p>
<p>Dan apa yang akan kamu katakan tentang adopsi kepada madzhab Tafwidh? Mudah-mudahan Allah menyelamatkan aku dan engkau dari penyimpangan dan kesesatan. Inilah yang dia (Al-Banna) jelaskan dalam kitabnya Al-’Aqaid hal 74, tatkala dia mengatakan setelah membeberkan dua jalan, Salaf dan Khalaf: “Dan dua tarekat ini (Salaf dan Khalaf) merupakan sumber khilaf yang besar di antara ulama ahlul kalam dari imam-imam kaum muslimin. Dan masing-masing mendasari madzhabnya dengan hujjah-hujjah dan dalil-dalil, seandainya kamu teliti masalah ini pasti kamu akan mengetahui bahwasanya jarak perselisihan di antara dua jalan ini (Salaf dan Khalaf) tidak berarti sedikitpun (dari perselisihan ini), seandainya masing-masing dari dua kelompok ini meninggalkan sikap memberontak dan melampaui batas, dan bahwasanya pembahasan dalam permasalahan seperti ini tidak membawa hasil pada akhirnya kecuali satu, yaitu tafwidh bagi Allah Ta’ala.”</p>
<p>Dan perkataannya juga tentang tuduhannya kepada Salaf dengan ta’wil hal 26: “Apabila telah ditetapkan ini, maka sepakatlah antara Salaf dan Khalaf dalam asas ta’wil.”</p>
<p>Dan perkataannya juga pada hal 77-78: “Dan kesimpulan dari pembahasan ini ialah<br />
bahwasanya Salaf dan Khalaf telah bersepakat bahwa yang dikehendaki adalah bukan<br />
zhahir yang diketahui di antara manusia, maka inilah ta’wil secara umum. Dan kedua kelompok ini (Salaf dan Khalaf) sepakat pula bahwasanya setiap ta’wil yang berlawanan dengan dasar-dasar syariat adalah tidak diperbolehkan.</p>
<p>Maka perselisihan ini terbatas hanya pada menta’wil lafazh-lafazh yang dibolehkan oleh syara’, dan ini masalah yang sepele sebagaimana kamu lihat. Dan masalah yang mestinya orang-orang salaf kembali lagi kepadanya. Sementara masalah yang paling penting untuk diarahkan dan diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini adalah mengarahkan dan menuju kepada persatuan barisan dan penyatuan kalimat semacam kita.”</p>
<p>Aku katakan: Nukilan ini sebagaimana kamu lihat -mudah-mudahan Allah menjagamu-<br />
tidak ada satu makalah pun (perkataannya Al-Banna), kecuali ada tiga point yang mestinya diperhatikan.</p>
<p>Pertama: Tuduhannya (Al-Banna) kepada Salaf bahwa mereka kadang-kadang Tafwidh 1), dan kadang-kadang suka menta’wil, dan orang-orang salaf berlepas diri dari tuduhan ini.<br />
Kedua: Adopsinya dia (Al-Banna) kepada madzhab tafwidh, yang hal ini lebih jelek dari ta’wil.</p>
<p>Dan kamu pun tahu bahwa akidah kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah menetapkan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan tentang diri-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa merubah (tahrif), tanpa mengosongkannya (ta’thil) dan tanpa mempertanyakannya (takyif), serta tanpa menyerupakannya (tamtsil). Adapun Al-Banna maka dia telah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini dan mengadopsi madzhab At-Tafwidh yang hal ini adalah lebih jelek dari madzhab ta’thil.</p>
<p>Maka berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh Al-Banna dalam memahami asma-asma<br />
Allah dan sifat-sifat-Nya: “…seharusnya bagi kita untuk diam dari sifat ini dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jika Allah Ta’ala menyifati diri-Nya bahwasanya Allah Ta’ala itu Maha Mendengar, maka wajib bagi kita untuk diam dari makna sifat ini, dengan menyerahkannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah satu kesesatan -kita berlindung kepada Allah darinya- hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan apa yang mereka mengerti dari asal makna sebagaimana telah tetap demikian dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun dari segi hakekat dan kenyataannya yang telah ditunjukkan dengan makna (arti) tersebut, maka itu termasuk dari apa-apa yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu-Nya yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.</p>
<p>Oleh karenanya, maka apabila Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya bahwasanya Allah memiliki sifat mendengar, maka sifat “mendengar” adalah maklum dari segi asal makna kata tersebut, yakni mengetahui suara, akan tetapi hakekatnya (makna tersebut) dari segi mendengarnya Allah Ta’ala, tidak bisa diketahui. Dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hafizhahullah telah menjelaskannya dalam Syarh Aqidah Safariniyyah (Ad-Durah al-Madhiyyah li Aqidah al-Firqah al-Mardhiyah).</p>
<p>Di mana beliau mengatakan ketika mengomentari perkataan pengarang buku itu:<br />
“Dan setiap apa yang datang dari ayat atau berita yang shahih dari orang yang tsiqah<br />
dari hadits-hadits, maka kami membiarkannya sebagaimana telah datang, maka<br />
dengarlah dan ketahuilah.”</p>
<p>Maka beliau (Syaikh Ibnu Utsaimin) hafizhahullah berkata: “Ini adalah satu kaidah yang disebutkan oleh pengarang buku ini, bahwasanya semua datang dalam Al-Qur’an atau apa yang telah shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya kita membiarkannya sebagaimana adanya, dan seperti inilah yang telah diriwayatkan dari as-salaf yang mereka berkata dalam mengimani ayat-ayat sifat (yakni sifat-sifat Allah Ta’ala) dan hadits-haditsnya: ‘Biarkanlah sebagaimana datangnya tanpa mempertanyakan (hakekatnya)’. Maka wajib bagi kita untuk membiarkannya sebagaimana adanya.”</p>
<p>Akan tetapi apakah kita memberlakukannya secara lafazh, artinya kita memberlakukan lafazhnya saja (tanpa makna, pent) atau memberlakukan lafazh dan maknanya sekaligus? Jawabannya adalah yang kedua: “Adapun yang pertama, maka ini adalah madzhab yang batil yang disebut sebagai madzhab ahli tafwidh atau mufawidhah, sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Termasuk sejelek-jelek perkataan ahli bid’ah dan ilhad (yakni madzhab tafwidh). Dikarenakan mereka dengan madzhab ini telah berbuat kesalahan yang besar. Dimana mereka menjadikan (menuduh) kaum muslimin bodoh dengan makna dari ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat (Allah). Ini adalah satu bahaya besar, jika kita beribadah dengan lafazh-lafazh hukum syar’i seperti shalat, wudhu, zakat dan haji, maka bagaimana kita tidak beribadah dengan ayat-ayat<br />
sifat sehingga kita paham dengan makna-maknanya?</p>
<p>Yang penting kita membiarkannya, sebagaimana datangnya dan sudah menjadi satu kejelasan bahwa lafazh-lafazh itu datang dengan membwa makna, maka wajib untuk<br />
menetapkan lafazh ini dan menetapkan makna yang dikehendaki dari lafazh itu.” (sampai di sini perkataan Ibnu Taimiyah).</p>
<p>Ketiga: Adopsinya dia (Hasan Al-Banna) kepada madzhab taqrib (pendekatan) diantara kelompok-kelompok sesat dan ahli al-haq. Dan ini nampak dari perkataannya di kitabnya Al-’Aqaid hal. 78: “dan hal yang paling penting untuk diarahkan perhatian kaum muslimin sekarang ini adalah ‘menyatukan barisan dan menyatukan kalimat semampu kita, kesanalah jalan yang kita tempuh’.”</p>
<p>Dan ini adalah “alasan” dalam kaidah mereka yang terkenal: “Kita bekerja sama dengan apa yang kita sepakati, dan saling memberikan udzur (toleransi) dengan apa yang kita berbeda dalam masalah itu.” Oleh karenanya kita dapati dalam jamaah ini yang kamu ada di dalamnya, bahwasanya masuk ke dalam jamaah ini seorang Salafi 2), Asy’ari, Sufi dan orang-orang yang semodel itu, bahkan orang Nashrani sekalipun. 3)</p>
<p>Bukan…bukan…bukan saya yang berbicara demikian, akan tetapi yang berbicara adalah Dr. Hasan Hathut, seroang Doktor dari generasi Ikhwanul Muslimin tahun 50-an di mana dia berkata di buku Hasan Al-Banna bi aqlaami talamidzatihi wa mu’ashirihi di bawah judul Tuhmah at-Ta’ashub (Tuduhan Fanatik) hal 188-189: “Ketika menyebut fitnahnya orang-orang Qibty (Mesir) maka banyak dari mereka yang berusaha untuk menempelkan terhadap orang ini 4) dan dakwahnya dengan tuduhan ta’ashub (fanatik) melawan orang Nashrani atau memecah-belah diantara umat. Dan Allah Ta’ala serta orang-orang yang hadir dari orang-orang yang benar menjadi saksi bahwa sedikitnya itulah yang benar… dan orang ini (yakni Hasan al-Banna) bukanlah dai yang mengajak kepada kebencian dan perpecahan. Dan dia dulu memberikan penjelasan bahwa dakwah untuk menegakkan syariat Islam tidak mungkin hanya untuk orang-orang Qibti (Mesir), dikarenakan syariat<br />
Islam ini akan ditegakkan kepada kita dan kepada mereka (yakni orang-orang Nashrani) secara sama-rata. Dan dakwah ini tidaklah menuntut secara mutlak akan kenasraniannya seorang Nashrani, akan tetapi syariat ini adalah kumpulan undang-undang yang tidak didapatkan penggantinya pada agama Nashrani. Dan hukum-hukumnya tidak akan terbantah. Dan hal ini seandainya ada di kitab Injil undang- undang ini, pasti orang-orang Nashrani akan bergegas mengambil undang-undang kitab Injil, dan tidak didapatkan pada Islam kepura-puraan padamasalah ini. Selagi pendapat orang banyak tidak dinafikan (dilenyapkan) bersama agama yang minoritas, maka tidaklah ada orang yang zhalim dan yang dizhalimi.” (sampai disini perkataannya).</p>
<p>Kemudian selanjutnya penulis itu sendiri menyatakan, “Dan dakwah orang ini (yakni Hasan al-Banna) telah berkumandang dan dibenarkan oleh orang-orang yang paham dari kalangan kaum muslimin dan orang-orang Mesir 5), dan cukup saya sebutkan orang-orang yang menuduh bahwa orang ini (yakni Hasan al-Banna), adalah musuh orang-orang Nashrani, bahwasanya ustadz Louis Faanus dari pembesar orang- orang Qibti (Mesir) -dan dia sudah mati- dia dahulu adalah orang yang aktif hadir pelajaran hari Selasa yang disampaikan oleh Hasan al-Banna, dan hubungan antara dua orang ini adalah sangat erat sekali. Dan ketika Hasan al-Banna dicalonkan pada pemilu untuk jadi anggota parlemen, wakilnya yang memegang kendali di salah satu panitia pemilu adalah seorang Qibti (yakni Nashrani, subhanallah).</p>
<p>Di dalam buku “Dikrayaat La Mudzakaraat”, yang dikarang oleh Tilmisani, pada halaman 263-264 mengatakan, “Dan pada tahun empat puluhan –seingat saya Sayyid al-Qummy, dia bermadzhab Syi’ah- menjadi tamu bagi orang-orang Ikhwanul Muslimin di markas pusat, dan pada saat itu al-Imam as-Syahid (yakni Hasan Al-Banna yang mati digantung, digelari syahid, red) bekerja secara sungguh-sungguh dalam rangka pendekatan di antara madzhab-madzhab yang ada.” (sampai di sini perkataannya).</p>
<p>Dan Tilmisani juga berkata dengan menukil perkataan Al-Banna di kitab yang sama, halaman 264, “Syi’ah itu memiliki golongan-golongan (sekte-sekte) yang menyerupai pendekatan di antara madzhab yang empat dari kalangan ahli sunnah, … dan di sana ada perkataan 6) yang mungkin untuk dilenyapkan, seperti nikah mut’ah dan jumlah istri bagi seorang muslim, dan ini hanya dianut oleh sebagian firqah mereka dan permasalahan permasalahan seperti ini yang tidak pantas untuk dijadikan sebab pemutusan hubungan di antara Ahli Sunnah dan Syi’ah.</p>
<p>Wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmatimu-.</p>
<p>Inilah jalan dan madzhab yang ditemput Al-Banna dalam rangka ‘pendektan di antara firqah-firqah’, yang orang-orang Salafus Shalih dan Ahlus Sunnah wal- Jama’ah menghukuminya sebagai satu kesatuan.</p>
<p>Maka demi Allah, tidaklah jalan ini yang -telah ditempuh Hasan Al-Banna- bisa membangkitkan ghirah (kecemburuan) di hatimu dan akidahmu yang shahih dan benar?</p>
<p>Dan tidakkah nukilan-nukilan yang telah saya jelaskan kepadamu tentang keadaan tokoh dan pimpinan jamaah ini dan manhajnya, cukup untuk sebagai alasan kamu berpisah dari jamaah ini dan manhajnya (yang sesat)? Hal ini tidak diragukan lagi… akan tetapi jika engkau dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.</p>
<p>Saudaraku -mudah-mudahan Allah menunjukkan dan membimbingmu ke jalan yang benar-…</p>
<p>Bukankah engkau dari Ahli Sunnah wal Jama’ah? Kamu tentu akan menjawab,<br />
“Ya…”, kalau begitu saya akan bertanya kepadamu.</p>
<p>Apa yang akan kamu kerjakan seandainya kamu berada di salah satu kuburan, dan kamu lihat kaum muslimin ber-istighatsah 7) dengan kubur-kubur sebagian dari para wali dan orang-orang shalih? Apakah kamu akan mengingkari mereka dalam masalah ini?</p>
<p>Tidak ragu lagi pasti kamu akan menjawab, “Ya.” Kenapa?</p>
<p>Dikarenakan perbuatan mereka ini adalah satu kesyirikan yang besar sebagaimana tidak tersamar lagi bagimu. Kemudian masalah ini tidak bisa diremehkan dan tidak didiamkan begitu saja.</p>
<p>Akan tetapi aku katakan, “Tenang dan pelan-pelanlah -mudah-mudahan Allah menjagamu-, dikarenakan jika itu kamu kerjakan, berarti kamu telah dicela dan dianggap jelek (dan kotor) oleh pimpinanmu dan ketua jamaahmu yang ketiga, Umar Tilmisani, di mana dia mengikrarkan dalam bukunya Syahiid al-Mihrab halaman 197, katanya, “Maka tidak perlu -kalau demikian- kepada sikap keras didalam mengingkari orang-orang yang beri’tikad akan adanya karamah bagi para wali dan merendahkan diri kepada mereka di kubur-kubur mereka yang nampak, dan berdoa di kubur-kubur itu ketika terkena musibah.”</p>
<p>Sekarang kita bersama teladanmu dan salah seorang pimpinanmu!</p>
<p>Apa yang akan kamu katakan jika ada orang yang kamu percaya kepadanya, kemudian<br />
dia bercerita tentang seorang Zaid. Dan dia berkata kepadamu, bahwa Zaid ini dari kalangan dai besar yang memiliki ketakwaan dan wara’ (sikap hati-hati) dan dia termasuk dari kalangan orang-orang yang mengikuti Nabimu shalallahu ‘alaihi wasallam dan seterusnya kemudian setelah kamu mendengar cerita itu, tiba-tiba kamu dikejutkan dengan Zaid yang telah dipuji-puji ini, kamu dapatkan dia sedang mendengarkan musik, bahkan mendatangkan sejumlah penari-penari perempuan Perancis dan dia (Zaid itu) ikut menari dan berdansa dengan mereka di salah satu bar!</p>
<p>Bahkan apa yang akan kamu katakan seandainya kamu tahu, bahwa dia saking getolnya dan perhatiannya kepada film sinema, dia shalat Zhuhur dan Ashar dengan dijama’ dan diqashar (diringkas) pada hari Jum’at, dia lakukan demikian karena takut akan luput darinya film sinema ini!</p>
<p>Bukankah kamu akan membencinya karena Allah? Dan bukankah kamu akan mengingkarinya? Tidak ragu lagi kamu akan mengatakan, “Ya.” Tahukah kamu siapa<br />
orang ini?</p>
<p>Aku katakan, tenang… tenanglah wahai saudaraku.</p>
<p>Sesungguhnya orang itu adalah pimpinan jamaahmu yang ketiga yakni Umar Tilmisani. Jangan gelisah dan jangan kamu berdusta!</p>
<p>Bukanlah saya yang mengada-ada terhadapnya, akan tetapi dia sendiri yang berbicara tentang dirinya. Oleh karenanya, saya katakan: Ikuti saya dan perhatikan apa yang saya nukilkan dari bukunya Dzikrayaat la Mudzakkiraat dimana dia berkata pada halaman 10 ketika menceritakan sejarah masa mudanya, “Aku belajar dansa ala Perancis di aulanya Imaduddin, dan sekali belajar tarian membayar 3 junaih 9), maka aku pelajari Dinset Foks Troot, Syar Liston dan Tanjo, juga aku belajar bermain gitar.</p>
<p>Di sini, saya katakan, jangan tergesa-gesa dulu dengan apa yang telah jelas bagimu… yakni bahwa tarian yang dia pelajari dulu, adalah waktu masa mudanya kemudian dia bertaubat darinya. Maka kalau seandainya demikian jangan dia (Tilmisani) itu diingkari, dikarenakan kita semua adalah punya kesalahan. Dalam hadits dikatakan: “Semua anak Adam adalah bersalah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang mau bertaubat.” (Lihat Shahihul Jami’ no. 4515)</p>
<p>Akan tetapi orang ini (Tilmisani) menguatkan dan meyakinkan perbuatannya, seolah-oleh dia menyangka bahwa dia dari kalangan Samaahatul Islam – mudah- mudahan Allah mengasihi dan mengampuninya-.<br />
Bahkan dia menuduh bahwa orang yang mengingkarinya adalah termasuk orang-orang yang keras (Mutasyaddidiin), seperti dia katakan dalam mukadimah kitabnya, Dzikrayaat la Mudzakkirat halaman 3-4, “Dan kehidupanku, ada yang tidak disenangi oleh orang-orang yang ‘berhaluan keras’ dari kalangan Ikhwan (sendiri) atau yang lainnya, seperti tarian (ala) Perancis dan musik serta kesenangan untuk frontal dalam kehidupanku yang jauh dari ikatan keteguhan dan komitmen, yang hal ini tidak pernah diperintahkan oleh agama apapun, apalagi agama Islam yang Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam menyifatinya secara makna, “Bahwa agama ini longgar (samhah) tidak seorang pun yang keras terhadapnya kecuali dia akan terkalahkan.”</p>
<p>Dan perkataannya pada halaman 100 dari buku yang sama dalam judul “Keajaiban di penjara Qanaa”, “Dan terjadilah satu peristiwa antara kau dengan dia 11) tentang Ummu Kultsum 12), yang dia berkeinginan untuk menyenangkanku, maka dia pun tahu kalau salah satu dari lagu-lagunya Ummu Kultsum yang memikat perhatianku dan aku senang untuk mendengarkannya. Dan aku pun beranjak ke tempat tidurku di rumah sakit penjara, ketika itu dia ada di situ juga (rumah sakit). Ketika aku sedang terlelap tidur, seakan-akan aku mendengar lagu ini dari Ummu Kultsum, maka aku pun pelan-pelan mencari kejelasan asal suara itu. Tiba-tiba aku melihat radio transistor ada di dekat pipi sampingku, dan Ummu Kultsum sedang mendendangkan lagu ini.”</p>
<p>Dan perkataannya juga pada halaman 16 dalam judul ‘Shalaitu fi as-Sinema’ dari buku ini juga, “Bahwasanya ketika aku bekerja sebagai pembela (di dalam pengadilan), aku singgah pada hari Jum’ah untuk nonton film-film di gedung film, segera aku bergegas mengambil kesempatan untuk istirahat al-Intrakaat untuk menunaikan shalat Zhuhur dan Ashar dengan dijama’ dan diqashar di salah satu pojok gedung film di mana saat itu aku berada.”</p>
<p>Maka sekarang wahai saudaraku….</p>
<p>Bukankah sudah saatnya kamu bangkit dan bangun dari tidurmu?</p>
<p>Demi Allah! Sesungguhnya saya sangat heran kepada orang yang telah mengetahui apa yang aku tunjukkan, kemudian dia tetap dalam sikapnya (yang batil) dengan penuh kesombongan dan ta’ashub (fanatik) ?</p>
<p>Footnote :<br />
1) Ketika dia (al-Banna) berkata tentang madzhab salaf dalam mengimani sifat- sifat Allah Ta’ala hal 75: “Aku telah mengetahui bahwa madzhab orang salaf pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala, mereka menyikapi ayat ayat dan hadits-hadits itu sebagaimana adanya dan mereka diam dari menafsirinya* atau menta’wilnya.” Pada hal 66 dia berkata: “Adapun orang-orang salaf -mudah-mudahan Allah meridhai mereka- mereka mengatakan: “Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits ini sebagaimana adanya, dan kami membiarkan penjelasan maksudnya Allah Ta’ala.” Maka menetapkan adanya tangan, maka bersemayam (istiwa’), sifat tertawa, sifat heran… dan sebagainya, yang semua itu dengan makna-makna yang kita tidak mengetahuinya.” (Kitab ‘Aqa’id).</p>
<p>Aku katakan: Yang nampak olehku -wallahu a’lam- bahwa Al-Banna rahimahullah belum jelas baginya madzhab as-salaf dalam masalah ini. Hal ini terlihat jelas pada perkataannya tentang orang-orang salaf dalam mengimani sifat-sifat Allah Ta’ala, bahwa mereka dia dari menafsirinya. Dan perkataannya juga, bahwa semua itu yakni “menyikapi sifat-sifat Allah dengan makna-makna yang kita tidak mengetahuinya”, tidak ragu lagi bahwa ini adalah tafwidh. Dan salaf rahimahullah berlepas diri dari tuduhan ini sebagaimana kamu ketahui, bahwa mereka menafsiri sifat-sifat Allah dari sisi makna tidak dari sisi hakikat dan keberadaannya.</p>
<p>* Sementara imam Sufyan Ibnu Uyainah berkata: “Semua apa yang Allah<br />
Ta’ala telah menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya maka tafsirnya adalah<br />
membacanya dan diam.” (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, hal. 70). pent.</p>
<p>2) Dari kalangan ahli sunnah, setelah mendapat kerancuan dan syubhat dari<br />
kelompok ini.</p>
<p>3) Yaitu ketika salah seorang Nashrani menjadi wakil al-Banna pada salah satu<br />
kepanitiaan pemilihan umum, dan akan dijelaskan dari nukilan-nukilan berikut.</p>
<p>4) Yakni Hasan al-Banna dan dakwahnya.</p>
<p>5) yakni orang-orang Nashrani.</p>
<p>6) Yakni di antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah.</p>
<p>7) Minta pertolongan untuk dilepaskan dari kesulitan (rsd)</p>
<p>Dan kami alhamdulillah dari akidah kami adalah menetapkan adanya karamah para wali, dan kamu sependapat dengan dia dalam sisi ini, adapun sisi yang kedua dari omongannya maka itu adalah perkataan yang sangat batil. Wal’iyadzubillah.</p>
<p>9) Mata Uang Mesir</p>
<p>11) Salah seorang penghuni penjara</p>
<p>12) Seorang artis Mesir terkenal</p>
<p>(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=346">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=346</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=61&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-kondisi-pimpinannya-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Bersama Ikhwani – Pendahuluan (I)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-pendahuluan-i/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-pendahuluan-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 11:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog dengan Ikhwani]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan Ikhwanul Muslimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihhi —————————————————————— Mukadimah penulis Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=59&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Asy-Syihhi</p>
<p>——————————————————————</p>
<p>Mukadimah penulis</p>
<p>Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.</p>
<p>Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ<br />
artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا<br />
artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah<br />
kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا<br />
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا<br />
artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)</p>
<p><span id="more-59"></span></p>
<p>Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.</p>
<p>Kemudian, sebagai pembukaan, saya katakan:</p>
<p>Ketahuilah -mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik kepadamu dengan apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya- bahwasanya “dialog” yang ada di hadapanmu adalah dialog yang telah dirancang menurut manhaj Ikhwanul Muslimin dalam memberikan kerancuan kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah tanpa bisa mengetahui apa sebenarnya manhaj kelompok ini dan pemimpin-pemimpinnya.</p>
<p>Dialog yang saya tulis ini adalah terbersit dari sayang dan cinta kepadamu dan sebagai manifestasi dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits shahih:</p>
<p>“Agama itu nasehat”, maka kami (shahabat) bertanya, “Bagi siapa?” Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta orang-orang awam dari mereka.” (HR. Muslim)</p>
<p>Barangkali pembicaraan ini akan berat bagimu, tapi itulah al-haq -insya Allah-, oleh karenanya harapanku, agar kamu ikuti terus sampai selesai pembahasan ini kemudian kamu perhatikan: “Dengan siapa kebenaran (al-haq) itu? Maka jika kamu melihat<br />
bahwa kebenaran ada pada jamaahmu (Ikhwanul Muslimin) dengan dalilnya, maka janganlah kamu kikir untuk memberikan nasehat dan petunjuk kepada kami.</p>
<p>Akan tetapi jika sebaliknya (yakni al-haq tidak ada pada Ikhwanul Muslimin), maka tidak ada jalan bagimu, kecuali menerima al-haq itu dari manapun datangnya.</p>
<p>وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا<br />
artinya : “Tidak patut bagi laki-lagi yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka dan barangsiapa yang mendurhakai<br />
Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)</p>
<p>(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=345">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=345</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=59&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/06/26/dialog-bersama-ikhwani-%e2%80%93-pendahuluan-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakwah Yang Haq</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/04/04/dakwah-yang-haq/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/04/04/dakwah-yang-haq/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 02:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah yang Haq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/2010/04/04/dakwah-yang-haq/</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuhu Membuka internet dan mencoba melihat usaha2 dakwah, maka Alhamdulillah, telah banyak blog ataupun situs yang membawakan dakwah yang haq yaitu dakwah salafiyah. (seperti blog antosalafy, blog sunniy salafy (tapi bukan blog abusalafy karena didalamnya penuh dengan kebohongan). kalo situs seperti salafy.or.id, almakassari.com, assyariah.com, tapi bukan salafyindonesia.com). Dakwah yang bagi kelompok ahlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=56&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuhu</p>
<p>Membuka internet dan mencoba melihat usaha2 dakwah, maka Alhamdulillah, telah banyak blog ataupun situs yang membawakan dakwah yang haq yaitu dakwah salafiyah. (seperti blog antosalafy, blog sunniy salafy (tapi bukan blog abusalafy karena didalamnya penuh dengan kebohongan). kalo situs seperti salafy.or.id, almakassari.com, assyariah.com, tapi bukan salafyindonesia.com). Dakwah yang bagi kelompok ahlu bid’ah sering dikatakan sebagai dakwah yang tidak berakhlak maka <em>naudzubillah</em>,, semoga Allah memberikan kepada ana dan mereka Hidayah agar mereka mengetahui akan indahnya dakwah salafiyah yang kebenarannya seperti terangnya matahari disinar bolong, ngga ada yang ditutup-tutupi, benar2 merupakan dakwah yang mencontoh dakwah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, didalamya penuh dengan hujjah al qur’an dan hadist sehingga antum2 sekalian tidak mungkin ragu lagi akan kebenarannya. Tidak seperti jamaah tabligh yang juga mengaku sebagai pembawa dakwah Rasulullah, padahal nyata-nyata mereka itu banyak melakukan  bid’ah2 yang Rasullullah telah melarangnya, apalagi dimarkaznya disana (india, pakistan), mesjidnya terdapat kuburan ynag dijadikan sebagai tempat untuk beribadah, maka <em>naudzubillahi min dzalika</em>, selidik demi selidik, ternyata dakwah mereka dibangun diatas 4 tarekat sufiyah yang menyesatkan. Bukan juga dakwah ikhwanul muslimin, yang mencari-cari dalil akan bolehnya masuk parlemen untuk membela islam, padahal nyata-nyatanya setelah mereka duduk diparlemen, mereka jauh dari membela islam, kok diam aja tuh melihat berbagai aneka kesyirikan masih merajalela dibumi indonesia padahal kesyirikan inilah sumber malapetaka bagi indonesia, (bukan korupsi sebagaimana sanggkaan orang indonesia tapi kesyirikan, makanya perlu juga kayaknya lembaga Komisi Pemberantasan Kesyirikan, hehehhehe, afwan bercanda) bahayanya lagi, mereka ini punya ilmu agama yang mumpuni, tapi kok malah banyak memberikan syubhat atau kebatilan pada masyarakat ya (semoga Allah memberikan ana  dan beliau Hidayah oleh Allah), bukan juga dakwah Hizbut Tahrir  yang gimana ya, dipikarannya cuman khilafah saja, gimana tuh…mendirikan khilafah kalo diri2 kalian saja masih jauh dari tuntunan Rasullullah, katanya sih jago pikir, tapi kok, yang beginian tidak bisa dipikir. Pikir dong alias tafakkurri, bukannya dakwah Rasulullah itu dakwah kepada tauhid dulu mas, kalo iya, ngapain mau langsung bikin khalifah, padahal kesyirikan masih banyak. Kalo energi mas2 ini digunakan untuk mempelajari tauhid dan mendakwahkan kepada masyarakat itu lebih baik daripada mikirin khalifah yang masih dalam angan2. ya bagusnya sih jangan dulu mas karena khalifah itu akhir dari perjuangan dakwah tauhid mas.</p>
<p><span id="more-56"></span>Wah…. Kaget ya baca tulisanku.afwan ya tidak ada dalilnya soalnya kan cuman curhat, kalo ada dalilnya kan itu namanya tulisan ilmiah, dan ana bukan dalam kapasitas itu, so tulisan2 ilmiah yang menguraikan kesalahan2 kelompok2 diatas mungkin bisa diakses diblog atau situs2 yang lain. Sebenarnya kelompok2 yang menyimpang dari jalan yang lurus itu udah banyak, makanya kadang bikin bingung cari yang benarnya, tapi ngga usah bingung kalo niat qt ikhlas, pasti ditunjukin oleh Allah, makanya harus dilepaskan dulu tali2 yang mengikat selama ini (nda sadar ya!!!!), seperti tali taassub kepada suatu kelompok, tali2 keterikatan kepada adat-istiadat keluarga yang salah, tali rasa cemas takut miskin, takut nda dapat pekerjaan, tali2 yang membuat qt tidak merdeka, lepaskan semua ikatan itu, jadilah hamba Allah yang merdeka sebenarnya yaitu dengan menjadi hamba2 yang bertauhid, ikhlas dalam segala amalanya, dan  cuman ngikut pada satu petunjuk yaitu petunjuk Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Kira2 antum mungkin menganggap ana taassub juga ya sama salaf. insyaAllah kalo ngaji salaf itu nda mengajar qt untuk taassub, karena qt nya Cuman disuruh ngikutin perintah Allah dan Rasulnya ato dengan kata lain, ikuti alqur’an dan hadist yang shahih, sesuai dengan pemahaman salafussholih (ini..ni yang membedakan dengan jamaah lain, karena mereka tidak menyandarkan pemahaman mereka pada salaf yang sudah dijamin oleh Allah akan kebenaran mereka, dalilnya s. At taubah ayat 100). Jadi ngga benar kalo qt itu taassub, tapi kalo taassub kepada alqur’an dan hadist shahih maka bukannya itu yang harus diikuti&#8230;nah LOH!!!</p>
<p>Trus kalo ada yang bilang qt ini juga membuat suatu kelompok baru yang memecah2 kaum muslimin, maka qt jawab, siapa sih yang bikin kelompok baru, qt ini bukan kelompok baru, walaupun qt dikenal sbg suatu kelompok (=kumpulan manusia) , itukan keharusan dari suatu nama, dan tujuan kami menamakan salafy, hanya untuk mempertegas perbedaan kami dengan kelompok lain dan juga untuk memudahkan pemahaman qt terhadap suatu kelompok yang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya secara murni dan konsekuen, jadi esensinya salafy itu ya yang pemimpinya Rasulullah, qt2 ini cuman ngikut aja sama Rasulullah dan qt menyandarkan amalan qt benar-tidaknya dengan memahamai agama ini sesuai dengan pemahamannya para salafussholih&#8230; Nah..uda jelaskan?!! Kalo uda jelas, apa lagi coba yang menghalangi antum2 sekalian untuk ngikutin salaf. Syubhat2 apalagi yang masih bersemayam dihati antum yang membuatmu menjauh?!!!!!</p>
<p>Kalo antum bilang lagi, salaf itu memang benar, tapi ngga bisa diterapkan pada zaman yang udah modern ini, maka cepat2lah bertaubat, karena itu sama saja antum mengatakan bahwa Alqur’an dan hadist shahih udah ngga relevan lagi dengan jaman sekarang, maka apa benar kamu mau punya keyakinan yang seperti ini??? Kan sebagai muslim yang benar ngga boleh berkeyakinan seperti ini.. Nah loh&#8230;..?!!!!</p>
<p>Sbgmana yang ana bilang kalo dakwah yang haq itu adalah dakwah salafiyah, maka doronglah hati2 antum untuk mengenal dakwah ini baru kemudian antum berkomentar sendiri, moga2 Allah senantiasa memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada Ana dan antum2 sekalian. Kebenaran hanya datang dari Allah, sedangkan yang menyampaikan ini tidak lepas dari dosa dan kesalahan, Ikutilah dakwah salafiyah yang Haq, jangan ikuti orangnya kalo memang dia menyelisihi aqidah dan manhaj salaf yang haq.</p>
<p>Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=56&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/04/04/dakwah-yang-haq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbaikilah Qalbumu Wahai Saudaraku</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/01/18/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/01/18/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 13:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Perbaikilah Qalbumu Wahai Saudaraku]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya. Semoga Allah terima kebaikan ayahanda kami Al [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=52&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam</p>
<p>Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya.</p>
<p>Semoga Allah terima kebaikan ayahanda kami Al ‘Allaamah Syaikh Robi’ Al Madkholiy atas nasehat yang telah beliau sampaikan, yang nasehat tersebut menunjukkan semangat besar beliau atas kaum muslimin secara umum dan atas saudara-saudara beliau para ahlus sunnah secara khusus. Dalam nasehat ini, beliau telah mengingatkan kita dengan nasehat ayahanda dan syaikh kita Al ‘Allaamah Al Waadi`iy semoga Allah merahmati beliau. Beliau dahulu seringkali berwasiat dengan keikhlasan untuk Allah. Beliau pernah berkata:</p>
<p>“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri terhadap dakwah ini, daripada (perlakuan buruk) dari orang lain terhadapnya”.</p>
<p>Maka wasiat-wasiat ahlul ilmi dan nasehat-nasehat mereka, haruslah senantiasa dijadikan pelajaran, diterima, dicamkan sungguh-sungguh dan dilaksanakan. Maka perkataan Syaikh kita Al Waadi’iy -semoga Allah merahmati beliau-:</p>
<p>“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri”</p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Ini adalah perkara penting. Yaitu agar kita semua tahu bahwa kesalahan-kesalahan kita dan pelanggaran- pelanggaran kita lebih membahayakan dakwah kita daripada apa yang diperbuat oleh para lawan terhadapnya di sekian banyak kesempatan.</p>
<p>Kalau pelanggaran- pelanggaran ini dipertahankan oleh para pelakunya secara bersikukuh, dengan memberikan sanggahan dan melontarkan bantahan.</p>
<p>Maka wahai para ikhwah, aku ajak diriku dan saudara-saudaraku -semoga Allah menjaga mereka- untuk memberi perhatian terhadap perbaikan qalbu-qalbu kita.</p>
<p>Modal kita adalah qalbu-qalbu kita. Kalau baik qalbu-qalbu ini, maka bergembiralah. Dan hendaknya kita meneladani orang-orang yang paling baik dan paling mulia setelah para Nabi dan Rasul, yaitu para Sahabat rodhiyallaahu’anhum. Para Sahabat, qalbu-qalbu mereka dipenuhi kebaikan. Sehingga ketika turun firman Allah:</p>
<p>لله ما في السموات وما الأرض وإن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله</p>
<p>“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…” (Q.S.2:284)</p>
<p>Mereka langsung menemui Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dan berlutut serta berkata: “Wahai Rasulullah, telah Allah turunkan ayat ini kepadamu, maka kami tidak dapat menyanggupinya!”</p>
<p>Padahal dalam ayat itu tidak ada amalan-amalan zohir! Di dalamnya tidak ada kewajiban-kewajiban baru untuk amalan-amalan zohir. Dalam ayat itu hanya diterangkan bahwa Allah akan menghisab para hamba atas apa yang ada dalam qalbu mereka. Allah akan menghisab mereka atas apa yang terdapat dalam qalbu mereka.</p>
<p>Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami diperintah untuk berjihad, maka kami berjihad. Kami diperintah untuk bershodaqoh, maka kami bershodaqoh. Kami diperintah untuk berhijrah, maka kami berhijrah. Akan tetapi kami tidak dapat menyanggupi ayat ini.</p>
<p>Ini adalah salah satu tanda kefaqihan mereka, kejujuran mereka dan keikhlasan mereka, yaitu mereka ingin qalbu-qalbu mereka diridhoi oleh Allah.</p>
<p>Maka Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam berkata: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti yang dikatakan oleh Orang-orang Yahudi dan Nasrani: (kami mendengar dan kami bangkang). Katakanlah: (kami mendengar dan kami taati)”.</p>
<p>Mereka pun berkata: “Kami dengar dan kami taati”. Maka Allah menurunkan ayat “Rasul telah beriman.. (hingga akhir ayat)” (Q.S.2:285). Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>Poinnya adalah bahwa para Sahabat senantiasa khawatir atas kejelekan-kejelekan qalbu, kerusakan-kerusakan qalbu dan penyakit-penyakitny a.</p>
<p>Siapakah orang yang selamat qalbunya?</p>
<p>Ketika turun firman Allah:</p>
<p>وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ<br />
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai . Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (Q.S.3:152)</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang menginginkan dunia sampai turunnya ayat ini”. Karena mereka berjihad di jalan Allah. Orang-orang Muhajirin dan Anshor rodhiyallaahu’anhum:</p>
<p>Orang-orang Muhajirin: mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, sahabat, anak-anak, harta benda, dan mereka berhijrah demi Allah dan Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam.</p>
<p>Orang-orang Anshor: mereka telah membela Allah dan membela Rasul-Nya, mereka mengerahkan harta benda mereka, mempersiapkan diri dan bersemangat untuk berjihad, berdakwah, mengajar dan sebagainya. Lalu turun ayat ini:</p>
<p>مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ</p>
<p>“..Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat..” (Q.S.3:152)</p>
<p>Maksudnya adalah bahwa asal kesalahan yang terjadi itu adalah sikap menginginkan dunia. Dan yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” di sini adalah “ghonimah” (harta rampasan perang). Yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” bukan menghendaki dunia secara terus menerus seperti yang sedang terjadi saat ini!</p>
<p>Kalau kita periksa qalbu-qalbu kita, apa yang akan kita temukan?!!</p>
<p>Apa yang akan kita temukan di dalamnya?!!</p>
<p>Dari hal-hal yang kalau kita paparkan dalil-dalil tentang hal-hal tersebut, maka kita akan tahu bahwa qalbu-qalbu kita perlu diselamatkan! Perlu diperbaikin! Perlu diperiksa ada apa di dalamnya!</p>
<p>Berkata Al ‘Allaamah Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya- : Orang yang tersandung di jalan itu tidak lain adalah orang yang belum mengikhlaskan amalnya untuk Allah”.</p>
<p>Engkau lihat salah seorang dari kita, ada yang telah menempuh jarak sedemikian jauh dalam kebaikan, ia selalu bersegera kepada kebaikan, bersemangat di dalamnya dan giat terhadapnya, namun setelah itu engkau melihat kemunduran dan kelalaian padanya yang membuatmu merasa aneh! Padahal kita tahu bahwa setiapkali seseorang berusaha melaksanakan ketaatan, Allah akan mengganjarnya dengan semakin besarnya kecintaannya, pengagungannya dan ketekunannya serta kekonsistenannya atas kebaikan tersebut. Kita baca firman Allah:</p>
<p>والذين اهتدوا زادهم هدى<br />
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka” (Q.S.47:17)</p>
<p>Maka melaksanakan suatu ibadah dan ketaatan merupakan bagian dari petunjuk yang akan Allah tambahkan petunjuk-Nya kepada orang yang taat. Akan tetapi sebagaimana yang telah kalian dengar, perhatian kita untuk memperbaiki qalbu adalah suatu perkara yang sangat penting.<br />
Jangan kau tanyakan perihal qalbumu kecuali kepada dirimu sendiri.</p>
<p>Lihatlah, di manakah engkau?</p>
<p>Lihatlah, di manakah engkau?</p>
<p>Oleh karena itu, telah datang suatu riwayat di dalam Shahih Bukhori dan Muslim, dari hadis Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda:</p>
<p>“Ada salah seorang nabi yang berperang. Lalu ia berkata kepada kaumnya: “Jangan ikut aku orang yang sudah beristri dan ingin bermalam bersamanya tapi belum bermalam dengannya sampai sekarang, dan orang yang telah membangun rumah namun belum memasang atapnya, dan orang yang telah membeli kambing atau ternak betina yang sedang hamil dan dia sedang menunggu ternaknya itu beranak..” al hadis.</p>
<p>Nabi ini tidak menerima orang yang di hatinya ada keterpautan dengan perkara-perkara dunia karena ditakutkan dengan sebab kesibukannya dan keterpautan hatinya atas perkara-perkara itu, ia menjadi tidak ikhlas kepada Allah dan tidak bersungguh-sungguh serta tidak sabar berjihad di jalan Allah, dan akan selalu menunggu-nunggu kapan ia bisa pulang kembali kepada perkara-perkara duniawinya itu!</p>
<p>Maka salah satu sebab penyakit hati adalah cinta dunia, cinta dunia. Maka wahai saudara-saudaraku, (cinta dunia itu) adalah salah satu malapetaka dan penyakit berbahaya.</p>
<p>Masing-masing kita memiliki naluri, kita telah dijadikan dan diciptakan dalam keadaan cenderung kepada cinta dunia. Dan tidak ada orang yang bisa menghindari ini dan bisa selamat kecuali sebesar usahanya memperbaiki qalbunya dan memerangi nafsunya, dan dengan melihat di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?</p>
<p>Di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?</p>
<p>Kalau qalbu ini tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan takut kepada Allah, dengan ikhlas kepada Allah dan bersungguh-sungguh bersama Allah, ia akan dipenuhi dengan fitnah dan penyakit.</p>
<p>Berkata Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya- : “Azh Zhulmu (kezoliman) itu dinamai dengan zhulmun, karena ia dari zhulmatul qolbi (kegelapan qalbu). Karena qalbu yang terang itu tidak akan menerima kegelapan. Dan kalau ia tidak terang, ia menjadi gelap dan darinyalah kezoliman itu datang”.</p>
<p>Maka qalbu itu membutuhkan cahaya, makanan, kesembuhan dan itulah makanannya yang telah Allah pilihkan dan telah Ia turunkan sebagai rahmat dari-Nya kepada kita dan sebagai inayah untuk memberi kita hidayah dan tawfiq.</p>
<p>Cahaya qalbu, makanannya, kesembuhannya dan obatnya terdapat dalam Al Quran Al Karim dan As Sunnah Al Muthohharoh.</p>
<p>Apakah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu?!! Ilmu syar’iy?!!<br />
Ilmu itu adalah cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari dan bulan. Maka janganlah kita menyia-nyiakan diri kita dan hidup tanpa dibarengi dengan belajar, tanpa halqoh ilmu, tanpa berinteraksi dengan Al Quran.<br />
Belajar, mengajar, mengkaji, memberi nasehat kepada orang banyak, berdakwah dan mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Kalau tugas kita tidak sedemikian, dengan sungguh-sungguh, tekad yang kuat, kesabaran dan kerelaan serta kesadaran, maka kita akan hancur dan hancurlah dakwah kita serta hancurlah ukhuwah kita.</p>
<p>Berkata Syaikh kita Al Waadi’iy: “Ahlus Sunnah itu banyak, namun mereka berpencar. Mereka tidak saling mencari dan tidak saling berkenalan!”<br />
Ini adalah salah satu dari sejumlah kesalahan dan kelalaian yang ada pada kita.</p>
<p>Oleh karena itu wahai ikhwah sekalian, pembicaraan ini bisa melebar ke mana-mana. Maka singkatnya: nasehat ayahanda kita Syaikh Robi’ semoga Allah menjaganya: ikhlas kepada Allah. Dan betapa indahnya apa yang beliau katakan itu. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dan demikian pulalah hendaknya orang-orang yang tulus itu memberikan nasehatnya.<br />
Berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam. Ini merupakan -sebagaimana yang kalian ketahui- sebuah prinsip agung yang tidak ada yang dapat melaksanakannya kecuali Ahlus Sunnah.</p>
<p>Adapun selain Ahlus Sunnah, maka mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan prinsip ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -semoga Allah merahmatinya- : “Para ahli bid’ah itu berselisihpendapat, menyelisihi Al Quran dan bersepakat untuk menyelisihi Al Quran”.</p>
<p>Berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah itu tidak akan diwujudkan kecuali oleh orang yang meridhoi Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad shollallahu’alayhiwasallam sebagai Rasul dan Nabinya ‘alayhishsholaatuwas sallaam. Barangsiapa yang menghendaki Allah dan tidak menginginkan dunia, dan barangsiapa yang mengasihi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah semoga Allah merahmatinya: “Ahlus Sunnah itu golongan yang paling memahami kebenaran dan yang paling mengasihi orang banyak”,<br />
Maka rasa kasih itu akan datang ketika kita belajar, berbekal dengan ilmu, dan berupaya memberikan nasehat dan bimbingan kepada orang banyak. Umat ini dan orang banyak sedang membutuhkan nasehat dan pengajaran. Dan sebagaimana yang kalian ketahui, baarokallaahu fiikum, bahwa dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Dakwah Salafiyyah, telah Allah jadikan bermanfaat untuk orang banyak di timur maupun di barat. Dan bahwa ia pada masa sekarang ini, telah tumbuh dari negeri ini (Saudi), dan semoga Allah menjadikan negri ini bermanfaat untuk orang banyak di timur ataupun di barat. Oleh karena itu aku nasehatkan kepada para ulama dan para da’i -walaupun aku sebenarnya adalah orang yang paling membutuhkan nasehat, tapi tidak ada halangan untuk kami ingatkan- maka aku nasehatkan kepada para ulama di negeri ini, aku maksudkan para ulama Ahlus Sunnah, dan kepada para da’i serta para penuntut ilmu untuk terus melanjutkan penyebaran dakwah yang dengannya Allah telah memuliakan kalian, sebagai dakwah yang murni dan bersih. Bukan hizbiyyah, bukan paham ketimuran, bukan paham kebaratan, dan juga bukan bid’ah. Akan tetapi berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Dan tanpa mengoyak, tanpa mengganti, tanpa merubah. Akan tetapi dengan ittiba’, berpegang teguh dan meneladani serta berpegang erat dengan minhaj nubuwwah.</p>
<p>Kita mohonkan kepada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya, agar Ia menambahkan hidayah, ketakwaan kepada kita, dan agar Ia memperbaiki qalbu-qalbu kita serta agar Ia senantiasa menjaga ukhuwah kita dalam agama ini. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Allah Tuhan semesta alam.</p>
<p>Diterjemahkan oleh Abu Abdil Halim Zulkarnain dari tautan: <a rel="nofollow" href="http://www.sh-emam.com/play-441.html" target="_blank">http://www.sh- emam.com/ play-441. html</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://darussunnah.or.id/artikel-islam/nasehat/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku-yang-salafiy/" target="_blank">Sumber : http://darussunnah. or.id/artikel- islam/nasehat/ perbaikilah- qalbumu-wahai- saudaraku- yang-salafiy/</a></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=52&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2010/01/18/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Ilmiah Terhadap Silsilah Pembelaan WI (Bag.1)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2009/12/29/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wi-bag-1/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2009/12/29/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wi-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 03:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan terhadap WI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Jawaban Ilmiah Terhadap Silsilah Pembelaan Wahdah Islamiyah (Bag. 1 ) Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray (Mantan Kader &#38; Da’i Wahdah Islamiyah Makassar) - حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين – Editor : Al-Ustadz Abdul Qodir Sesuatu yang sungguh sangat saya khawatirkan akhirnya terjadi juga, yaitu kesalahpahaman orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=47&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;font-size:medium;">بسم الله الرحمن الرحيم </span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;font-size:medium;"><strong>Jawaban Ilmiah Terhadap Silsilah Pembelaan <span style="color:red;">Wahdah Islamiyah</span> (Bag. 1 )</strong></span></span><strong><br />
</strong> <span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray </strong><strong></strong></span><strong><br />
</strong> (Mantan Kader &amp; Da’i Wahdah Islamiyah Makassar) <strong><br />
</strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;font-size:medium;"><strong>- حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين –<br />
</strong></span><strong>Editor : Al-Ustadz Abdul Qodir</strong></p>
<p><strong></strong> Sesuatu yang sungguh sangat saya khawatirkan akhirnya terjadi juga, yaitu kesalahpahaman orang-orang Wahdah Islamiyah (WI) atas nasihat yang saya sampaikan, pandangan yang jelek dan sinis kepada Penulis serta emosi yang berlebihan dalam menyikapi sebuah kritikan. Padahal pada bagian muqaddimah dan juga pada bagian akhir artikel yang berjudul <strong><em>&#8220;Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah&#8221;</em></strong> telah saya jelaskan beberapa argumentasi ilmiah mengapa saya menulis artikel tersebut. Tidak lain hakikatnya adalah karena kecintaan saya kepada WI, mantan guru-guru saya yang sangat saya cintai dan kaum muslimin seluruhnya, <em>hadaaniyllahu wa iyyakum</em>.</p>
<p>Oleh karenanya, sebelum jauh melangkah, saya ingatkan kembali satu <em>atsar</em> yang sangat mengagumkan, yang menunjukkan pemahaman Salaf yang sangat mendalam terhadap agama ini :</p>
<p>Abu Shalih al-Farra’ -rahimahullah- berkata, &#8220;Aku menceritakan kepada <em> Yusuf bin Asbath</em> tentang <em> Waki’</em> bahwasanya beliau terpengaruh sedikit dengan perkara fitnah ini&#8221;.<a name="_ftnref1" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn1">[1]</a> Maka dia ( Yusuf bin Asbath) berkata, &#8220;Dia serupa dengan gurunya –yaitu A <em> l-Hasan</em><a name="_ftnref2" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn2">[2]</a><em> bin</em><em> Shalih bin</em><em> Hay </em><a name="_ftnref3" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn3">[3]</a> -&#8221; . Aku pun berkata kepada Yusuf, &#8220;Apakah kamu tidak takut perkataanmu ini merupakan ghibah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Kenapa begitu wahai orang dungu, justru saya lebih baik bagi mereka dibanding ibu dan bapak mereka sendiri; saya melarang manusia dari mengamalkan kebid’ahan mereka, karena bisa mengakibatkan semakin banyaknya dosa-dosa para pengajak kepada bid’ah tersebut. Adapun yang memuji mereka, justru lebih membahayakan mereka . ” [Lihat <strong> At-Tahdzib</strong> 2/249 no. 516 sebagaimana dalam <strong> Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur</strong>, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan al-Haritsiy, muraja’ah : As-Syaikh Sholih Al-Fauzan –hafizhahullah-, (hal. 27)]</p>
<p>Hanya saja, barangkali kecintaan mereka kepada organisasi yang bernama <strong>Wahdah Islamiyah</strong><strong></strong> terlalu sangat mendalam sehingga teramat sulit menerima satu bentuk kritikan dengan lapang dada sehingga melahirkan pandangan yang buruk serta kebencian kepada orang-orang yang menasihati mereka. <em>Insya Allah</em>, pada artikel ini, saya akan menjawab beberapa kesalahpahaman dan kekeliruan dalam memahami nasihat-nasihat yang disampaikan asatidzah salafiyyin.</p>
<p>Perlu saya tegaskan bahwa pada hakikatnya, jawaban-jawaban WI yang dimuat di <em>alinshof</em>, bukanlah sesuatu yang baru bagi saya, karena hampir seluruhnya telah saya dengarkan sejak masih menjadi santri di WI. Kemudian, karena penulis di <em>alinshof</em> tidak menampakkan dirinya, maka saya anggap ini adalah <span style="text-decoration:underline;"><strong>jawaban resmi WI </strong></span>sebagai <strong>kelompok</strong>. Lantaran itu, saya sebut saja penulisnya adalah Wahdah Islamiyah (WI). Namun sebelumnya, saya ingin mengingatkan satu permasalahan penting, yakni ketika membaca artikel ini, pembaca sebaiknya menahan emosi dulu dan tetaplah menganggap saya sebagai saudara yang mencintai Anda dan menginginkan kebaikan bagi Anda, agar Anda bisa mencerna dengan baik setiap untaian kalimat dari nasihat ini -<em>semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu-. </em></p>
<p><em><span id="more-47"></span><br />
</em></p>
<p>Pembaca yang budiman, kali ini kami akan memberikan jawaban ringkas terhadap syubhat-syubhat orang-orang WI yang mereka torehkan dengan judul <strong><em>&#8220;</em></strong><strong><em> SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT</em></strong><strong><em> &#8221; </em></strong><strong> (SPPUD) </strong> agar para pembaca semakin yakin bahwa mereka telah tolong-menolong dalam kebatilan.</p>
<p>Jawaban ini akan kami turunkan –Insya Allah- dalam beberapa edisi, sesuai dengan kondisi dan waktu yang Allah berikan kepada kami. Kami harapkan jawaban ini menyadarkan Penulis syubhat tersebut beserta para pengekornya.</p>
<p>Dengan meminta pertolongan kepada Allah -Ta’ala-, kami katakan:</p>
<ul>
<li><strong> <span style="color:#0000ff;">Pertama</span>: Tidak Bisa Membedakan antara Nasihat dan Hinaan </strong></li>
</ul>
<p>Pembaca yang budiman, dalam menanggapi dalil dan atsar-atsar para Ulama Salaf tentang kewajiban berhati-hati dari pelaku kesesatan yang kami sampaikan, maka WI berkata:</p>
<p><em> &#8220;Pembaca sekalian, ini adalah sebagian hujjah dan dalil yang sering digunakan oleh al-akh Sofyan dan kelompok “salafy”-nya untuk membenarkan sikap mereka menyerang, mencaci maki, serta men-</em> tahzir<em> umat dari para ulama dan kelompok selain mereka&#8221;. </em></p>
<p><strong> Tanggapan: </strong></p>
<p>Inilah <em> syubhat usang</em> yang senantiasa menjadi senjata WI untuk “mengamankan” anggotanya jangan sampai keluar dari WI. Mereka berusaha semampu mungkin untuk menggiring pemahaman anggotanya bahwa hakikat dari nasihat yang disampaikan asatidzah salafiyin hanyalah penyerangan dan caci maki, sebagaimana jelas dalam paragraf di atas.</p>
<p>Wahai saudaraku, pahamilah bahwa sungguh beda antara nasihat dengan cacian; nasihat ingin menyelamatkan Anda dan kaum muslimin dari kesesatan , sedang orientasinya adalah akhirat. Adapun cacian, tujuannya sekedar merendahkan dan menghinakan Anda, sedang orientasinya adalah dunia. Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> menegaskan:</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ »</span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Agama (Islam) ini adalah nasihat.&#8221; Kami bertanya: &#8220;Untuk siapa wahai Rasulullah?&#8221; Kata beliau: &#8220;Untuk Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya, serta untuk para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.&#8221;</em> [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 194) dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Dari <em>-radhiyallahu anhu-</em>]</p>
<p><strong> Al-Imam Abu Sulayman Al-Khatthabi</strong><em>-rahimahullah- </em>menerangkan, <em>“Nasihat adalah mengerahkan segala kemampuan demi (kebaikan) orang yang dinasihati.”</em> (Lihat <strong><em>Syarah Muslim</em></strong>, karya Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- (2/226), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1420 H)</p>
<p>Oleh karena itu, nasihat adalah sebaik-baiknya pengamalan hadits Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam-,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">« لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ »</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><em>“Tidaklah sempurna iman seorang diantara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya (berupa kebaikan)&#8221;. </em> (Muttafaqun ‘alaihi dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Tatkala seseorang melihat dirinya berada di atas suatu kebaikan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan bimbingan para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sepatutnya ia mengajak saudaranya kepada kebaikan tersebut, meski terkadang pahit untuk disampaikan<a name="_ftnref4" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p><strong> Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambaly -</strong><em>rahimahullah-</em> telah mengarang sebuah risalah yang beliau beri judul <strong><em>al-Farqu bayna an-Nashihah wat-Ta’yir</em></strong> (beda nasihat dan hinaan). Diantara perkara yang beliau jelaskan dalam kitab itu, <em>“Memang antara nasihat dan hinaan terdapat kesamaan, yaitu penyebutan tentang seseorang yang tidak ia sukai, sehingga menjadi samar perbedaan antara keduanya pada kebanyakan manusia dan Allah-lah yang memberikan hidayah kepada kebenaran. Ketahuilah bahwa penyebutan tentang seseorang yang tidak ia sukai (ghibah) adalah haram, jika dimaksudkan sekedar untuk menghinakan, menyebarkan aib dan kekurangan. Adapun jika perbuatan tersebut terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin secara umum, khususnya lagi bagi sebagian mereka, sedang maksud dari perbuatan tersebut demi mencapai maslahat, maka tidaklah diharamkan, bahkan disukai melakukannya<a name="_ftnref5" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn5">[5]</a>.”</em></p>
<p>Beliau juga menerangkan,<em> “Maka membantah ucapan-ucapan yang lemah dan menerangkan al-haq ketika ucapan-ucapan tersebut menyelisihi dalil-dalil syar’i, tidaklah termasuk perkara yang dibenci oleh para ulama, bahkan mereka (para ulama) mencintai dan memuji orang yang melakukannya serta menyanjungnya”.</em></p>
<p>Lantaran itu, perkataan Al-Imam Abdullah bin al-Mubarak – rahimahullah- tatkala menyaksikan seseorang yang meng-<em>ghibah</em> saudaranya yang muslim, tidak pantas kalian (orang-orang WI) arahkan kepada orang-orang yang ingin memperingatkan kaum muslimin dari bahaya kesesatan, <em>“Apakah engkau pernah berperang melawan Romawi?”</em> Ia menjawab, <em>“Tidak”</em>. <em>“Apakah engkau pernah memerangi Persia”</em>. Ia menjawab, <em>“Tidak”</em>. <em>“Apakah engkau pernah memerangi as-Sanad dan India”</em>. Ia menjawab, <em>“Tidak”</em>. Beliau –Abdullah bin al-Mubarak- lantas berkata, “ Selamat darimu Romawi, Persia, as-Sanad dan India, namun tidak selamat dari –kejelekan lisanmu- saudaramu yang muslim “.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambaly <em>-rahimahullah- </em>menegaskan, <em>“Oleh karena itu, tidaklah nasihat seperti ini termasuk dalam bab ghibah secara keseluruhan, walaupun diduga bahwa seseorang akan membenci apabila kesalahannya yang menyelisihi al-haq ditampakkan, sehingga kebenciannya pada hal ini tidaklah dianggap. Karena kebencian akan ditampakkannya kebenaran, hanya karena menyelisihi pendapat orang tersebut bukanlah termasuk perangai yang terpuji, bahkan wajib bagi setiap muslim untuk mencintai ditampakkannya kebenaran, sehingga kaum muslimin mengetahuinya, sama saja apakah kebenaran itu selaras dengan pendapatnya ataukah berlawanan.” </em> ( Lihat <strong> Al-Farqu baina an-Nashihah wat Ta’yir</strong> , karya al-Imam al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambaly <em>rahimahullah</em>, <em> soft copy</em> dari <a href="http://www.sahab.net/"> www.sahab.net</a> )</p>
<p><em> Duh, pembaca yang budiman, seakan fatwa dan nasehat</em> Ibnu Rajab – rahimahullah – <em> khusus terarah pada kenyataan yang terjadi pada dakwah ahli sunnah hari ini, khususnya di Indonesia</em> . Lebih khusus lagi kepada orang-orang yang tidak bisa membedakan antara nasihat dan peringatan dengan cacian dan ghibah .<a name="_ftnref6" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Mungkin Anda mengatakan, &#8220;<em>Itu kan kesalahan menurut pendapat Anda?&#8221;</em> Maka kami jawab,</p>
<p><strong> <span style="color:#ff0000;">Pertama</span></strong> : Bukanlah termasuk kesalahan secara mutlak apabila seseorang memperingatkan kesalahan orang lain, meski orang yang diperingatkan tersebut tidak menganggap hal itu sebagai kesalahan.<a name="_ftnref7" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>: Bahkan itu adalah kesalahan menurut al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang dijelaskan para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana detailnya akan kami jelaskan insya Allah pada bagian-bagian berikutnya<a name="_ftnref8" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn8">[8]</a>.</p>
<ul>
<li><strong> <span style="color:#0000ff;">Kedua</span>: Membela Tokoh dan Kelompok Sesat</strong></li>
</ul>
<p>Adapun perkataan WI bahwa asatidzah salafiyin <em>“men-tahdzir umat dari ulama dan kelompok selain mereka”</em>, maka saya katakan, “Kalau yang Anda maksudkan dengan “ulama” adalah Sayid Quthub, Salman al-‘Audah, ‘Aidh al-Qarni, Safar al-Hawali dan yang semisal mereka diantara idola-idola kalian, maka ketahuilah, kami bukan yang pertama men-<em>tahdzir</em> para “ulama” (menurut versi WI) tersebut, bahkan kami hanyalah menyampaikan nasihat dan peringatan Ulama Sunnah tentang bahaya pemikiran dan manhaj “ulama” yang kalian maksudkan, sebagaimana nanti -<em>insya Allah</em>- pada bagian-bagian selanjutnya akan kami tampilkan fatwa-fatwa dan peringatan Ulama terhadap tokoh-tokoh idola WI tersebut.”<a name="_ftnref9" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Adapun jika yang Anda maksudkan dengan <em>“kelompok selain mereka”</em> adalah kelompok yang menyimpang seperti <strong>Ikhwanul Muslimin</strong>, maka ketahuilah bahwa <em>tahdzir </em>itu adalah nasihat. Hendaklah kalian berlapang dada dengan nasihat yang disampaikan kepada kalian mekipun itu pahit rasanya, bahkan semestinya kalian berterima kasih kepada orang-orang yang men-<em>tahdzir</em> kalian, bukannya ucapan ULAMA tentang orang yang menyimpang dalam masalah ini, kalian arahkan terhadap orang-orang yang menasihati kalian<em>. </em> Malah sikap dan <em>“perbuatan seperti ini membantu orang-orang yang memiliki tujuan-tujuan buruk dari kalangan sekuler”</em>.</p>
<p>Demikian pula tidak pantas ucapan seorang ulama tentang seorang yang lebih mencintai orang kafir dibanding seorang mukmin yang bermaksiat, kalian arahkan kepada orang-orang yang menginginkan kebaikan bagi kalian, <strong><em>“</em></strong><em> Ada sebagian orang lebih membenci orang mukmin yang bermaksiat dibandingkan orang kafir. </em><em> Ini adalah perkara yang sangat aneh dan merupakan pemutarbalikkan hakikat”.</em></p>
<p>Lebih tidak pantas lagi perkataan kalian yang sangat jelek, diarahkan kepada orang-orang yang telah berusaha meluruskan penyeleweng demi membela agama ini, <em>“Sikap keras kelompok “salafy” tersebut sangat nyata –dan tidak ada keraguan- diarahkan kepada kaum muslimin yang lain dan terkhusus pada kelompok dakwah Ahli Sunnah yang tidak sepaham dengan mereka. </em><em> Sementara di sisi lain, orang-orang kafir –yang nyata memusuhi Islam-, kelompok sesat pengusung bid’ah, sekuler, orientalis, baik secara personal maupun organisasi, selamat dan merasa aman dari “hujatan” mereka.”<a name="_ftnref10" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn10">[10]</a><strong></strong></em></p>
<p>Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid <em>rahimahullah</em> telah menulis sebuah buku yang menjelaskan bahwa membantah seorang yang menyimpang adalah termasuk pokok Islam, bukanlah perbuatan memusuhi sesama muslim dan mengacuhkan sekulerisme. Buku tersebut beliau beri judul, <strong><em>“Ar-Raddu ‘alal Mukhalif min Ushulil Islam”</em></strong> (membantah orang yang menyimpang termasuk pokok Islam). Diantara yang beliau jelaskan adalah sebagaimana yang dikutip Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> dalam <strong><em>Madarikun Nazhar</em></strong><a name="_ftnref11" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn11">[11]</a>:</p>
<p>“Orang-orang yang bersilat lidah demi mengingkari <em>naqd</em> (bantahan) terhadap kebatilan –walaupun sebagian diantara mereka nampak kesholehan-, tapi semua ini adalah bentuk lemahnya semangat dan kurang memahami kebenaran. Bahkan pada hakikatnya, itu adalah bentuk larinya seseorang dari medan laga di hari peperangan; lari dari daerah pertahanan agama Allah. Ketika itu orang yang terdiam dari ucapan kebenaran laksana orang yang berbicara dengan kebatilan dalam dosa.</p>
<p><strong> Abu Ali Ad-Daqqoq</strong> berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">.</span></strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"><strong> &#8221; الساكتُ عن الحقِّ شيطانٌ أخرسُ، والمتكلمُ بالباطلِ شيطانٌ ناطقٌ &#8220;</strong></span><strong></strong></span></p>
<p><em> “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, sedang yang berucap dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”</em> .” [Lihat <strong> Ar-Raddu ‘alal Mukhaalif min Ushulil Islam</strong>, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid <em>–rahimahullah-</em>, hal. 75-76<a name="_ftnref12" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn12">[12]</a>]</p>
<p>Beliau juga menjelaskan, <em>&#8220;Oleh karena ini, jika Anda melihat ada orang yang membantah orang yang menyelisihi (kebenaran, -pent) dalam hal keganjilan fiqih, atau ucapan bid’ah, maka bersyukurlah kepadanya atas pembelaannya, sesuai kemampuannya. </em><em> Janganlah engkau menggembosinya dengan ucapan yang hina ini, (&#8220;<strong>Kenapa orang-orang sekuler tak dibantah?!</strong>&#8220;). Manusia masing-masing memiliki kemampuan dan bakat<a name="_ftnref13" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn13">[13]</a>, sedang membantah kebatilan adalah wajib (bagi setiap orang,-pent), walaupun bagaimana tingkatannya. Setiap muslim berada dalam batas pertahanan agamanya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Ar-Rodd ala Al-Mukholif</em></strong> (hal.57) <a name="_ftnref14" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn14">[14]</a> , dan <strong><em>Sittu Duror</em></strong> (hal.111)]</p>
<p><em> Duh, pembaca yang budiman, seakan fatwa dan nasehat Syaikh –</em> rahimahullah<em> – khusus terarah pada kenyataan yang terjadi pada dakwah ahli sunnah hari ini, khususnya di Indonesia.</em> Lebih khusus lagi kepada orang-orang yang tidak bisa membedakan antara nasihat dan cercaan, bahkan menuduh niat orang-orang yang menasihati mereka hanyalah karena hasad dengan kenikmatan dunia yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, sehingga keluarlah ucapan sebagian mereka yang sangat keji, &#8220;Sebenarnya tidak ada <em> <span style="text-decoration:underline;">perbedaan pendapat</span></em> antara kami dan kalian, yang ada hanya <em> <span style="text-decoration:underline;">beda pendapatan</span></em> &#8220;. Wallahul Musta’an , sampai kapan kesalahan ini terus dipertahankan?!<a name="_ftnref15" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn15">[15]</a></p>
<ul>
<li><strong> <span style="color:#0000ff;">Ketiga</span>: Tidak Bisa Memahami Hikmah dan Memetik Pelajaran dari Konsep <em>al-Hajr</em> kepada Pelaku Kesesatan </strong></li>
</ul>
<p><strong> WI berkata: </strong></p>
<p><em> </em><em>Seandainya pun benar, bahwa mereka yang dituding oleh kelompok “salafy” itu sebagai ahli bid’ah (secara hakiki), maka apakah penerapan konsep </em> hajr<em> (boikot dan memutuskan hubungan) terhadap mereka dimana kita tidak boleh duduk-duduk bersama mereka, tidak berbicara, tidak menjawab salam dan sebagainya, pantas untuk diaplikasikan pada zaman kita sekarang ini, dengan dalih perbuatan dan perkataan salaf terdahulu seperti yang ditampilkan oleh al-akh Sofyan Khalid di atas? </em></p>
<p><strong> Tanggapan: </strong></p>
<p>Inilah kalimat-kalimat <em>syubhat usang</em> yang dulu mampu menahan saya sekian lama sebagaimana halnya banyak orang WI untuk terus bersama WI. Mereka gambarkan seakan-akan yang paling mengerti hikmah dalam dakwah dan penerapan <em>hajr</em> di zaman ini hanyalah WI dan yang semisal dengan mereka, dan membuat opini bahwa <em>asatidzah</em> salafiyin tidak mengerti permasalahan ini. Padahal –<em>alhamdulillah</em>- setelah saya bergaul dengan <em>asatidzah</em> salafiyin, barulah saya tahu bahwa mereka sangat mengerti dengan hikmah dalam dakwah dan penerapan <em>hajr</em> di zaman ini<a name="_ftnref16" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn16">[16]</a> , bahkan mereka telah meluruskan kesalahan sekian banyak Ikhwan Salafiyin dalam masalah ini<a name="_ftnref17" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn17">[17]</a>, dan mereka (asatidzah salafiyin dan tentunya para ulama) adalah orang-orang yang paling mengasihi ummat serta paling lembut kepada ummat. Oleh karenanya, kita melihat di berbagai penjuru negeri ini –<em>alhamdulillah-</em> dengan pertolongan Allah <em>Jalla wa ‘Ala</em>-, dakwah Salaf diterima oleh masyarakat luas.</p>
<p>Adapun perbuatan sebagian Ikhwan Salafiyin yang baru <em>ngaji</em> beberapa bulan, sehingga karena semangat yang tinggi -padahal ilmunya masih sangat terbatas-, terkadang berlebihan dalam menyikapi suatu permasalahan. Ini bukanlah hujjah bagi kalian untuk menggeneralisir semua <em>asatidzah</em> salafiyin dengan kesalahan sebagian ikhwan ataupun sebagian <em>asatidzah</em> itu sendiri.</p>
<p>Namun sayang sekali, <em>dengan hanya berbekal secuil ilmu dan kerdilnya pemahaman</em>, plus emosi berlebihan ketika WI digugat, telah menghalangi mereka dari memahami nasihat dengan baik. Padahal hakikatnya, yang dinasihatkan asatidzah salafiyin bukanlah agar WI meng-<em>hajr</em> para pelaku bid’ah secara serampangan (sebagaimana yang mereka opinikan), tapi yang dinasihatkan diantaranya hanyalah sesuatu yang sangat sederhana: <strong><em>“Janganlah kalian menolong seorang pelaku kebid’ahan dan orang-orang yang sangat dikhawatirkan darinya suatu kesesatan”</em></strong>, yaitu dengan memuliakan orang tersebut sebagai pemateri pada dauroh dan seminar-seminar kalian, sehingga dia bisa menghembuskan syubhat-syubhatnya dan menipu manusia seakan mereka layak mempelajari agama ini darinya.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><em> “</em><em>Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan</em><em> lah</em><em> tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran</em><em> , dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya</em><em> .</em><em> ”</em><strong> (QS</strong><strong> .</strong><strong> Al</strong><strong> -</strong><strong> Maidah: 2)</strong><strong></strong></p>
<p><strong> Al-Imam Fudhail bin ‘Iyadh</strong><em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang memuliakan pelaku kebid’ahan maka sungguh dia telah menolongnya untuk menghancurkan Islam.”</em> (Lihat <strong><em>Syarhus Sunnah</em></strong> (hal. 128), karya Imam Al-Barbahari <em>–rahimahullah-</em>, <em>tahqiq </em>Kholid bin Qosim Ar-Roddadiy, cet. Dar As-Salaf dan Dar Ash-Shumai’iy, 1421 H]</p>
<p><strong> Muhammad bin Sirin</strong><em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama ini.”</em> (HR. Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 26)]</p>
<p>Selain itu, telah dimaklumi bahwa termasuk sebesar-besarnya kezhaliman adalah perbuatan bid’ah dalam agama Allah dan mengajak kepada kelompok-kelompok bid’ah, sedang Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p>“<em>Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka.</em>” <strong> (</strong><strong> QS . Hud: 113) </strong></p>
<p>“Dikatakan (oleh para Ulama Mufassirin), bahwa ayat ini umum, mencakup orang-orang kafir maupun orang-orang beriman yang melakukan maksiat, sebagaimana firman Allah Ta’ala :</p>
<p>“<em>Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka.</em>” (Al-An’am: 68), dan telah berlalu penjelasan ayat ini<a name="_ftnref18" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn18">[18]</a> .</p>
<p>Pendapat inilah yang benar tentang makna ayat ini (yaitu juga mencakup orang-orang beriman yang melakukan pelanggaran). Jadi, ayat ini menunjukkan wajibnya meninggalkan para pelaku kekafiran dan pelaku maksiat dari kalangan ahli bid’ah dan selain mereka, karena bersahabat dengan mereka juga termasuk kekafiran atau kemaksiatan, sebab suatu persahabatan tidak terjadi kecuali karena atas dasar cinta. Seorang yang bijaksana telah berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">&#8220;عَنِ الْمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ, وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ, فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِيْ&#8221;</span></strong><strong></strong></span></p>
<p>“Tentang seseorang tidak usah engkau tanyakan, namun tanyakanlah siapa temannya, karena setiap orang menyerupai temannya”. ”<a name="_ftnref19" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn19">[19]</a> [Lihat <strong> Tafsir al-Qurthubi</strong> (9/112), cet. Dar Al-Hadits, 1416 H]</p>
<p>Wahai orang-orang WI, apakah hal ini sangat sulit bagi kalian untuk memahaminya, ataukah sebenarnya kalian telah paham, namun ingin memberikan <em>talbis</em> kepada angota-anggota kalian agar tidak lari dari WI, meski dengan memfitnah salafiyin sebagai orang-orang yang tidak memahami penerapan <em>hajr</em> di zaman ini?!<a name="_ftnref20" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn20">[20]</a></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong> Keempat: </strong></span><strong>Menempatkan Fatwa Ulama Bukan Pada Tempatnya </strong></li>
</ul>
<p><strong> WI berkata: </strong></p>
<p><em> “Fatwa dan Nasehat berharga Syaikh bin Baz –rahimahullah- tentang adab mengkritik dan mengoreksi di kalangan para da’i Ahlu Sunnah”,</em> kemudian mereka menukil fatwa Asy-Syaikh Bin Baz <em>-rahimahullah- </em>dari kitab <strong> Majmuu’ Fatawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah</strong> , VII/313 (Program Al-Maktabah Al-Syamilah, vol. 3.3), yang mengisi hampir separuh halaman artikel Silsilah Pembelaan mereka. Bagi yang mau membaca, silakan rujuk sumber tersebut.<a name="_ftnref21" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p><strong> Tanggapan:</strong><strong></strong></p>
<p><strong> Pertama</strong> : <em>S</em><em>yubhat usang</em> ini masih terus <em>dihembuskan</em> oleh WI, demi menjaga kesetiaan anggota-angotanya . Mereka men-<em>talbis</em> dan menggambarkan bahwa yang di-<em>tahdzir</em> oleh ahlus sunnah adalah sesama “ahlus sunnah” (WI). Padahal mereka (WI) tahu bahwa asatidzah salafiyin tidak menggolongkan mereka sebagai ahlus sunnah<a name="_ftnref22" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn22">[22]</a> disebabkan penyimpangan-penyimpangan dari manhaj ahlus sunnah<a name="_ftnref23" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn23">[23]</a> .</p>
<p>Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> pernah ditanya tentang kelompok-kelompok yang memiliki penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah, apakah masih layak digolongkan kepada Ahlus Sunnah, berikut nashnya:</p>
<p>Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> ditanya, <em>&#8220;Apakah jama’ah-jama’ah yang ada sekarang masuk dalam 72 golongan yang binasa<a name="_ftnref24" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn24">[24]</a>?&#8221;</em> Maka beliau –<em>hafizhahullah-</em> berkata, <em>“Ya, setiap muslim yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah baik dalam permasalahan dakwah, atau aqidah, atau satu masalah pokok keimanan, maka dia masuk dalam 72 golongan tersebut, dan ia terancam dengan adzab Allah (dalam hadits iftiroq) dan ia layak mendapat celaan dan hukuman sesuai kadar penyimpangannya.” </em>[Lihat <strong><em>Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘anil Asilatil Manahijil Jadidah</em></strong>, (hal. 36), cet. Dar Al-Minhaj, 1426 H]</p>
<p>Syaikh Al-Fauzan juga ditanya, &#8220;Apakah orang yang menggolongkan diri kepada jama’ah-jama’ah ini dianggap sebagai mubtadi’?&#8221;</p>
<p>Beliau <em>hafizhahullah</em> menjawab, <em>“Ini sesuai dengan jama’ah-jama’ah yang ada. Jadi, jama’ah-jama’ah memiliki berbagai penyelisihan terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, orang yang menggolongkan diri ke dalam jama’ah tersebut dianggap sebagai seorang mubtadi’”. </em>(Lihat <strong><em>Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘anil Asilatil Manahijil Jadidah</em></strong>, (hal. 27), cet. Dar Al-Minhaj, 1426 H]</p>
<p><em> Perhatikan fatwa yang kami nukil di atas, agar jelas bagi pembaca siapa yang lebih “alim”, Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, anggota <strong>Lajnah Daimah</strong> dan <strong>Haiah Kibaril Ulama</strong>, ataukah para ustadz WI. </em></p>
<p>Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>–hafizhahullah-</em> menerangkan bahwa sebuah jama’ah ataupun seorang yang menjadi anggota jama’ah tersebut dapat digolongkan ke dalam 72 golongan ahlul bid’ah, jika menyimpang dalam permasalahan dakwah, berbeda dengan “fatwa” salah seorang Ustadz WI, bahwa yang boleh dikatakan sebagai ahlul bid’ah, jika penyimpangannya pada masalah aqidah.</p>
<p><strong> Kedua</strong> : Jika seperti itu keadaannya, maka mengarahkan fatwa Asy-Syaikh Bin Baz –<em>rahimahullah-</em> kepada asatidzah ahlus sunnah salafiyin adalah <strong>salah alamat</strong>, kalau tidak mau disebut kedustaan, sebab yang diperingatkan di sini adalah kelompok-kelompok yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah, bukan sesama “Ahlus Sunnah”<strong>!!<a name="_ftnref25" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn25">[25]</a></strong></p>
<ul>
<li> <strong> <span style="color:#0000ff;">Kelima: Masalah Penyebutan Nama Tokoh dan Kelompok dalam Menasihati </span></strong></li>
</ul>
<p>Diantara fatwa Asy-Syaikh Bin Baz <em>rahimahullah</em> yang dinukil dan digaris bawahi oleh WI, menerangkan diantara adab menasihati sesama “Ahlus Sunnah” yang bersalah adalah, <em>“</em><em> Tanpa menyebut (nama) pelakunya,”.</em><a name="_ftnref26" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p>Kemudian diberi catatan kaki oleh WI (no. 19): &#8220;Perhatikan isi artikel yang ada di hadapan anda yang ditulis oleh al-Akh Sofyan Khalid<a name="_ftnref27" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn27">[27]</a>, satu-persatu dia rinci nama-nama ustadz yang hendak beliau jatuhkan dan rendahkan. Padahal, nama-nama yang  ia sebutkan itu, adalah orang-orang yang pernah berjasa kepadanya mengajarkan ilmu syar’i ini&#8221;.<strong></strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Tanggapan: </strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#006600;">Pertama</span></span> :</strong> Merupakan kedustaan atas nama ulama, jika fatwa Asy-Syaikh Bin Baz <em>–rahimahullah</em>- diarahkan kepada Ahlus Sunnah yang men-<em>tahdzir</em> kelompok-kelompok yang menyimpang<a name="_ftnref28" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn28">[28]</a> sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas. Demikian pula termasuk kedustaan atas nama Ulama, jika mengambil kesimpulan dari satu fatwa, tanpa melihat fatwa lainnya, sebagaimana yang mereka katakan sendiri,<em>“Dan kami mengatakan, bahwa diantara bentuk dusta –atas nama ulama- adalah mengambil sebagian fatwa dan pendapatnya lalu mencampakkan yang lainnya, demi memberi kesan bahwa sang ulama berfatwa sesuai yang dikehendaki oleh sang penukil<a name="_ftnref29" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn29">[29]</a>.” </em></p>
<p>Sebab kenyataannya <strong>para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Asy-Syaikh Bin Baz <em>–rahimahullah-</em> sendiri telah menyebutkan sekian nama orang-orang yang menyimpang</strong> dalam rangka mentahdzir dari kesesatan mereka.</p>
<p>Bahkan Asy-Syaikh Bin Baz –<em>rahimahullah</em>- pernah mengeritik dengan keras dan “kasar”, sebagaimana yang pernah dimuat oleh koran <strong><em>Ar-Riyadh</em></strong> (no. 12182), ketika beliau <em>–rahimahullah</em>- men-<em>tahdzir</em> bahaya <strong>Muhammad Al-Mis’ari</strong>, <strong>Sa’ad Al-Faqih</strong> dan <strong>Usamah bin Laden</strong> dengan menyebutkan nama-nama mereka dengan tegas (Lihat <strong><em> Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘anil Asilatil Manahijil Jadidah</em></strong> , hal. 66, cet. Dar Al-Minhaj, 1426 H]</p>
<p>Bahkan ketika beliau menjelaskan tentang keadaan kelompok-kelompok sesat, pun satu sama lainnya saling menyesatkan, maka beliau menegaskan bahwa kewajiban para ulama untuk menasihati kelompok-kelompok tersebut. Kemudian jika ternyata mereka membangkang, maka beliau <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya wajib untuk men-</em>tasyhir<em> dan men-</em>tahdzir<em> dari orang yang menyimpang tersebut, dilakukan oleh seorang yang mengetahui hakikat (kesesatannya), sehingga manusia menjauh dari jalan mereka, dan agar orang yang tidak mengetahui hakikat mereka tidak kemudian bergabung bersama mereka, yang pada akhirnya merekapun menyesatkannya dan memalingkannya dari jalan lurus yang telah Allah perintahkan kita untuk mengikutinya.” </em>(Lihat <strong><em>Fatawa al-‘Ulama al-Mu’ashirin fi Hukmit Ta’awuni ma’al Mukhalifin</em></strong>, hal. 8-9, <em>soft copy</em> dari <a href="http://www.sahab.net/"> www.sahab.net</a> )<strong></strong></p>
<p><strong> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#006600;">Kedua</span></span> :</strong> Adapun sangkaan mereka bahwa penyebutan bukti-bukti penyimpangan WI yang dinasihatkan oleh <em>asatidzah</em> salafiyin dengan menyebutkan nama-nama ustadz yang kami lakukan sebagai bentuk menjatuhkan dan merendahkan, maka saya katakan,</p>
<ul>
<li><strong> <span style="color:#ff3366;">Pertama</span></strong> : Demi Allah –yang jiwaku ada di tangan-Nya, -dan Dia Maha Tahu akan apa yang disembunyikan dalam hati setiap hamba-Nya-, tidak ada maksud dalam hati kami sedikitpun untuk <strong>menjatuhkan</strong> dan <strong>merendahkan</strong> mantan guru-guru kami yang pernah berjasa mengajarkan sebagian dari ilmu syar’i yang mulia ini, <em>hafizhahumullah wa hadaahum wa ghafara lahum</em>.</li>
<li><strong> <span style="color:#ff3366;">Kedua</span></strong> : Bahkan apa yang kami lakukan –sepanjang yang kami pahami dari atsar-atsar Salaf dan penjelasan para ulama- adalah <strong>bentuk kecintaan yang hakiki</strong>, sebagaimana dalam atsar Yusuf bin Asbath <em>–rahimahullah</em>- yang kami sebutkan di atas (dan juga telah kami sebutkan pada artikel <strong>Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah</strong> di bagian muqaddimah).</li>
</ul>
<p>Adapun yang benar dalam masalah ini, sebagaimana yang difatwakan para ulama adalah <strong>boleh menyebutkan nama orang tertentu</strong>, jika memang diperlukan. Hal ini tidaklah sama sekali bertentangan dengan sifat <em>wara’</em>. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan <em>–hafizhahullah-</em> dalam tanya jawab dengan beliau di bawah ini :</p>
<p><strong> Pertanyaan</strong> :<strong></strong>Telah tersebar <strong>sikap wara’ yang lemah di tengah-tengah para penuntut ilmu,</strong> yaitu apabila mereka mendengar para pemberi nasihat dari kalangan penuntut ilmu atau ulama saat memperingatkan bahaya bid’ah-bid’ah, para pelakunya serta manhaj-manhaj mereka, dengan menyebutkan siapa sesungguhnya mereka, membantah mereka dan terkadang menyebutkan nama-nama sebagian orang yang menyimpang tersebut, walaupun sudah meninggal dunia, karena manusia terfitnah dengannya, dimana sudah dimaklumi semua itu dalam rangka untuk membela agama ini, menyingkap kerancuan dari musuh-musuh yang ada di tengah-tengah barisan kaum muslimin, yang telah menyebabkan perpecahan dan perselisihan di dalamnya. Mereka mengklaim bahwa hal tersebut adalah <strong> <span style="color:#ff0000;">ghibah</span></strong> yang diharamkan. Apa pendapat Anda tentang hal ini?</p>
<p><strong> Jawab</strong> : Kaedah dalam permasalahan ini adalah wajibnya peringatan atas kesalahan dan penyimpangan setelah jelas permasalahannya, <strong>apabila hal itu menuntut <span style="text-decoration:underline;">penyebutan</span> nama orang-orang yang menyelisihi kebenaran, sehingga manusia tidak tertipu dengan mereka, dan khususnya bagi orang-orang yang mempunyai pola pikir yang menyimpang dari kebenaran, atau menyimpang dari jalan dan manhaj yang benar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang dikenal di kalangan masyarakat dan masyarakat tersebut berbaik sangka kepada mereka, maka tidak mengapa disebutkan nama-nama mereka dan diperingatkan manusia dari manhaj mereka.</strong></p>
<p>Para ulama telah membahas hal ini dalam ilmu <em>jahr</em><em>wa</em><em>ta’dil</em>, dimana mereka menyebutkan nama-nama perawi dan celaan-celaan atas mereka. <strong>Tentu bukan ditujukan kepada pribadi mereka</strong>, namun untuk menasihati ummat agar tidak mengambil dari mereka apapun yang di dalamnya terdapat kejahatan terhadap agama, atau kedustaan atas nama Rasulullah -<em>shallallahu’alaihi wasallam</em>-.</p>
<p>Jadi, kaedah dalam permasalahan ini, <span style="text-decoration:underline;">pertama</span>: Memperingatkan manusia dari kesalahan tanpa menyebut nama pelakunya, jika penyebutannya akan mengakibatkan <em>mudharat</em> atau manfaatnya tidak ada. Selanjutnya, apabila suatu perkara menuntut untuk disebutkan nama pelaku kesesatan tersebut, dalam rangka memperingatkan manusia dari manhaj-nya, maka yang demikian ini adalah termasuk nasihat untuk Allah <em>-‘Azza wa Jalla</em>-, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan untuk pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.</p>
<p>Terlebih lagi, apabila dia memiliki peranan di tengah-tengah manusia, dan mereka berprasangka baik kepadanya, mengkonsumsi kaset-kasetnya dan kitab-kitabnya, maka harus dijelaskan dan diperingatkan dari bahaya orang tersebut. Karena mendiamkannya adalah sesuatu yang membahayakan masyarakat. Jadi, harus disingkap kedoknya, bukan sebagai cacian semata kepadanya, atau melampiaskan dendam, namun sebagai <em>nasihat</em> untuk Allah ‘Azza wa Jalla, kitab-Nya, Rasul-Nya dan untuk pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum. [ Lihat <strong><em>Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘anil Asilatil Manahijil Jadidah</em></strong>, hal. 172, cet. Dar Al-Minhaj,1426 H]</p>
<p><strong> Peringatan Penting </strong></p>
<p>Semua fatwa-fatwa para ulama tentang wajibnya memperingatkan umat dari bahaya kesesatan seorang tokoh, atau kelompok tertentu, meskipun terkadang harus dengan menyebutkan namanya, sebagaimana yang kami tampilkan di atas, bukanlah berarti kami memahami bahwa semua orang boleh berbicara tentang hal ini, walau dia bukan orang yang mengerti hakikat dari tokoh dan kelompok tersebut. Apalagi jika tidak dibimbing oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta arahan para ulama dan <em>asatidzah</em> Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena yang demikian itu bisa menyebabkan seseorang terjatuh dalam satu bentuk dosa besar : berkata tentang agama Allah tanpa ilmu!!</p>
<p>Lantaran itu, kami tegaskan, sebagaimana yang telah dibimbingkan oleh para ulama bahwa berbicara tentang kesesatan seorang tokoh atau jama’ah yang menyimpang, haruslah terpenuhi dua syarat :</p>
<p><strong><em> Pertama</em></strong> : Ilmu, baik ilmu tentang keadaan orang atau jama’ah tersebut mapun ilmu tentang agama ini.</p>
<p><strong><em> Kedua</em></strong> : <em>Salaamatul qosdi</em>, niat yang ikhlas karena Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em>, tidak ada di balik itu suatu kepentingan dari kepentingan-kepentingan dunia ini<a name="_ftnref30" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn30">[30]</a>.</p>
<p>Hanya saja, dibedakan antara orang yang memulai duluan berbicara (dalam hal ini para ulama ataupun asatidzah yang mendalam ilmunya), dan orang yang hanya menukil ucapan tersebut. Ketika seseorang berbicara tentang kesesatan tokoh atau jama’ah tertentu, padahal dia belum pernah bergaul dekat dengannya, akan tetapi telah ada sebelumnya fatwa ulama tentang tokoh atau kelompok itu, maka hakikatnya ia hanyalah mengikuti bimbingan ulama dalam men-<em>tahdzir</em> dari tokoh atau jama’ah tersebut.</p>
<p>Sehingga tidak ada kewajiban atasnya untuk klarifikasi <em>(tabayyun)</em> kepada tokoh atau kelompok tersebut, sebagaimana yang dikesankan oleh sebagian orang. Bahkan terkadang jika ia bertemu dengan tokoh atau anggota-anggota kelompok terebut demi <em>tabayun</em>, malah justru kemudian dia sendiri yang termakan syubhat mereka. Maka pahamilah!<a name="_ftnref31" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn31">[31]</a></p>
<p><strong> </strong><strong>Sebuah Nasihat </strong></p>
<p><em> Ayyuhal Ikhwah</em> , sebelum saya tutup artikel ini, saya ingin menyampaikan sebuah nasihat penting yang berhubungan dengan kenyataan kalian hari ini, dan yang saya inginkan dari nasihat ini -insya Allah-, hanyalah pahala Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em>-, bukan untuk menjatuhkan atau menghina orang.</p>
<p>Ketahuilah, saya sangat mengkhawatirkan adanya sikap kurangnya mengagungkan syari’at Allah dalam diri kalian (WI) serta peremehan terhadap hukum-hukum Allah, sadar maupun tidak!! Diantaranya, dengan maraknya penggunaan gambar-gambar bernyawa pada website resmi maupun blog pribadi dan acount-acount <em>facebook</em> para ustadz, du’at dan kader Wahdah Islamiyah<a name="_ftnref32" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftn32">[32]</a>, tanpa adanya kebutuhan mendesak (darurat), dalam keadaan kalian mengetahui ancaman yang keras terhadap para pembuat gambar bernyawa. Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">« إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ »</span></strong></span></p>
<p><em> “Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah para pembuat gambar (bernyawa).”</em> (Muttafaqun ‘alaihi dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Mungkin kalian menyatakan bahwa permasalahan foto -apakah itu berupa gambar bernyawa, atau tidak- kan masih dikhilafkan oleh para Ulama? Maka saya katakan,</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span> : Kalaupun benar sebagaimana yang kalian katakan, bukankah yang terbaik bagi kita untuk berhati-hati dalam masalah ini dengan memilih jalan yang lebih selamat?!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span> : Jika kita mencari setiap keringanan para ulama, niscaya kita akan binasa, sebagaimana diriwayatkan dari sebagian Salaf, <em>“Barangsiapa yang mencari-cari keringanan para ulama, maka dia telah mengarah kepada kemunafikan”.</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span> : Tidakkah kalian memikirkan mafsadat yang besar –terutama bagi orang-orang awam- jika pintu ini dibuka?!</p>
<p>Akhirnya, tiada gading yang tak retak, salah dan khilaf mohon maaf, semoga Allah <em>Ta’ala</em> mencurahkan kasih sayang, hidayah dan ampunan-Nya bagi siapa saja yang mau mengikuti jalan-jalan hidayah.</p>
<p><em> Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq</em> .</p>
<p><em><strong>Bersambung insya Allah… </strong></em></p>
<p>====================<br />
Footnote :<br />
====================</p>
<p><a name="_ftn1" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref1">[1]</a> Yakni fitnah Khawarij.</p>
<p><a name="_ftn2" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref2">[2]</a> Barangkali inilah namanya yang lebih tepat, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hay, sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib 8/160, Asy-Syamilah.</p>
<p><a name="_ftn3" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref3">[3]</a><strong> Faidah</strong> tentang Al-Hasan bin Shalih bin Hay : Disebutkan dalam biografinya, dia adalah seorang yang shalih, ahli ibadah dan ahli hadits, hanya saja dia memiliki pemahaman Khawarij sehingga para ulama men<em>tahdzir</em> darinya. Para ulama tidak mendiamkan kemungkarannya, meskipun dia memiliki keutamaan yang mungkin tidak bisa disamai oleh kaum Khawarij di zaman ini.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref4">[4]</a> Bahkan terkadang akibat dari nasihat tersebut adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, misalnya si penasihat mungkin akan dituduh sebagai orang yang keras, kasar dan tidak tahu berbakti kepada orang tua (guru-guru) yang pernah mengajarkan ilmu agama ini kepadanya. <em>Wallahul Musta’an</em>.</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref5">[5]</a> Dan kami meyakini tentunya tidak dibenarkan menggunakan kata-kata yang keji dan kotor di dalam memperingatkan kesesatan seorang tokoh atau kelompok tertentu.</p>
<p><a name="_ftn6" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref6">[6]</a> Jika anda mau memperluas bantahan atas orang-orang yang tak bisa membedakan antara nasihat dan ghibah, atau antara nasihat dan celaan, silakan rujuk kitab <strong><em>Irsyadul Bariyyah ila Syar’iyyah Al-Intisab li As-Salafiyyah wa Dahdhi Asy-Syubah Al-Bid’iyyah </em></strong>(hal. 114-128), karya Syaikh Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar-Roimiy As-Salafiy, <em>taqdim </em>Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy, cet. Dar Al-Atsar, 1426 H.</p>
<p>Alhamdulillah, kitab ini sedang kami kaji bersama para ikhwah-ikhwah dari berbagai universitas di Makassar, setiap hari Sabtu, usai sholat Ashar. Sengaja kami kaji kitab ini, sebab terlalu banyak syubhat yang tersebar seputar dakwah salafiyyah, dan bantahannya terdapat di kitab ini. Semoga ada waktu, kami akan naikkan ke almakassari.com sebagian dari materi ini, khususnya tentang bantahan kesalahpahaman dalam membedakan antara nasihat dan celaan atau ghibah, dengan harapan agar orang-orang WI dan sehaluannya paham tentang hakikat nasihat dan ghibah atau celaan, sehingga mereka berhenti buruk sangka kepada sesama muslim. <em>Fa’tabiruu yaa ulil abshor.</em> <strong>[ed]</strong></p>
<p><a name="_ftn7" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref7">[7]</a> Sebab boleh jadi yang bersalah tidak sadar jika ia salah. Inilah pentingnya nasihat-menasihati. <strong>[ed]</strong></p>
<p><a name="_ftn8" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref8">[8]</a> Padahal sejatinya bukti-bukti ilmiah tentang kesesatan WI yang telah disebutkan oleh para asatidzah sudah cukup. Hanya saja untuk menghilangkan syubhat-syubhat itu perlu usaha. -<em>Insya Allah</em>- saya akan sebutkan lagi sebagian dari bukti-bukti ilmiah tersebut pada bagian-bagian yang akan datang dari seri artikel ini agar syubhat-syubhat itu bisa hilang dan musnah.</p>
<p><a name="_ftn9" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref9">[9]</a> Ketika salafiyyun men-tahdzir Sayyid Quthb, maka orang-orang WI marah dan berang serta memberikan pembelaan. Namun ketika Sayyid Quthb mencela Nabi Musa, dan sebagian sahabat, maka tak ada suara pembelaan dari mereka. Inikah ashobiyyah yang tercela??! Jawabnya, terserah pembaca. <strong>[ed]</strong></p>
<p><a name="_ftn10" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref10">[10]</a> Demi Allah ini adalah kedustaan yang nyata, bahkan sangat mudah mendapati tulisan-tulisan ataupun ceramah-ceramah asatidzah salafiyin dalam membantah kesesatan semua kelompok sesat dan orang-orang kafir.</p>
<p><a name="_ftn11" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref11">[11]</a> Buku <strong>Madarikun Nazhar fis Siyasah</strong> karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi –<em>hafizhahullah</em>- adalah buku yang tidak disukai oleh sebagian “ahlus sunnah”, disebabkan dalam buku tersebut terdapat penyebutan penyimpangan tokoh-tokoh idola mereka, bahkan mereka sempat melarang penjualan buku tersebut di toko-toko buku mereka, lebih bejat lagi celaan-celaan pentolan “ahlus sunnah” model ini di Bandung dalam blog fitnahnya. Mereka menutup mata dari tazkiyah dan taqdim Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> dan Asy-Syaikh Al-‘Abbad <em>hafizhahullah</em> terhadap buku ini, bahkan Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> berkata dalam muqaddimahnya, “Dalam kitab ini terdapat hakikat-hakikat yang sebenarnya tentang sebagian du’at dan manhaj mereka yang menyelisihi as-Salafus Shalih.”</p>
<p><a name="_ftn12" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref12">[12]</a> Dikutip dari Madarikun Nazhar fis Siyasah karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em>, hal. 67, <em>soft copy</em> dari: <a href="http://www.fatwa1.com/anti-erhab/madark/00-fahras.html"> http://www.fatwa1.com/anti-erhab/madark/00-fahras.html</a></p>
<p><a name="_ftn13" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref13">[13]</a> Maksud beliau bahwa jika ada orang yang membantah pelaku kebatilan, yah itulah kemampuan dan kesempatannya. Lalu kenapa tidak membantah orang-orang sekuler, yah serahkan kepada yang lain lagi, yang memiliki kemampuan membantah orang-orang sekuler !! <em>Wallahu A’lam</em>. <strong>[ed]</strong></p>
<p><a name="_ftn14" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref14">[14]</a> Dikutip dari Madarikun Nazhar fis Siyasah karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em>, hal. 68, <em>soft copy</em> dari: <a href="http://www.fatwa1.com/anti-erhab/madark/00-fahras.html"> http://www.fatwa1.com/anti-erhab/madark/00-fahras.html</a></p>
<p><a name="_ftn15" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref15">[15]</a> Terpaksa kami pinjam istilahnya Muhammad Ihsan Zainuddin dalam <strong><em>Majalah Al-Islamiy</em></strong> (Edisi 2/tahun I/hal.51) dengan judul <strong><em>Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah</em></strong> untuk meluruskan selentingan keji ini. Karenanya, saya katakan, <em>&#8220;Maka orang yang mengucapkan selentingan ini pun<strong> memasuki “wilayah” niatnya salafiyyin. Dengan kejinya, Penulis membedah isi hati para ulama dan du’at. Hanya dengan landasan zhan belaka. Entah darimana ia memperoleh ilmu “penyingkapan hati” seseorang…”</strong></em><strong></strong></p>
<p><a name="_ftn16" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref16">[16]</a> Saya teringat suatu hari ketika masih menjadi santri di WI. Kebetulan saya shalat maghrib di salah satu masjid di Makassar. Ternyata setelah shalat, masjid tersebut mengadakan taklim kitab <strong><em>Riyadhus Shalihin</em></strong>, sampai pada hadits tentang tiga orang sahabat yang di-<em>hajr</em> oleh Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em>, karena tidak mengikuti salah satu jihad di jalan Allah. Kemudian saya bertanya kepada ustadz pemateri, <em>“Apakah layak di zaman ini kita terapkan konsep al-hajr tersebut?”</em> Beliau menjawab sebagaimana tuntunan ulama, “Jika <em>hajr</em> tersebut bermanfaat, diantaranya bisa membuat orang yang di<em>-hajr</em> itu bertaubat, maka dilakukan; dan jika tidak bermanfaat, maka tidak dilakukan”. Di kemudian hari, tahulah saya bahwa Ustadz tersebut adalah Al-Ustadz Ibnu Yunus –<em>hafizhahullah-</em>, kini pengajar di Ma’had Tanwirus Sunnah Gowa, bersama-sama dengan Al-Ustadz Abu Faizah Abdul Qodir Al-Atsariy <em>–hafizhahullah-.</em></p>
<p><a name="_ftn17" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref17">[17]</a> Diantaranya nasihat yang sangat bagus dari Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali <em>–hafizhahullah</em>- yang disampaikan Al-Ustadz Abdullah Sya’roni –<em>hafizhahullah-</em> pada ta’lim di masjid I’tishom, Jakarta Pusat, dapat dilihat di sini: <a href="http://sunniy.wordpress.com/2009/10/17/bagaimana-menyikapi-orang-awam-yang-berbuat-bidah/"> http://sunniy.wordpress.com/2009/10/17/bagaimana-menyikapi-orang-awam-yang-berbuat-bidah/</a> , juga pengalaman beliau sendiri ketika berdakwah di Poso.</p>
<p>Demikian pula nasihat yang sangat bagus dari Al-Ustadz Dzulqarnain <em>–hafizhahullah</em>- ketika <em>muhadharah</em> di masjid Fatahillah Depok, tentang penerimaan masyarakat terhadap dakwah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali –<em>hafizhahullah-</em> di Sudan dan keteladanan dalam menyikapi orang awam dari Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i <em>–rahimahullah-</em>. Jika Anda dengarkan, maka sungguh sangat berbeda dengan kesalahpahaman mereka tentang &#8220;sikap keras&#8221; kedua Syaikh dalam membantah penyimpangan, <em>wallahul Musta’an</em>.</p>
<p><a name="_ftn18" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref18">[18]</a> Telah kami sebutkan pada muqaddimah artikel sebelumnya sebuah penjelasan tentang ayat ini yang sangat mengagumkan dari Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah, beliau menerangkan, “Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang mentolerir duduk bermajelis dengan al-mubtadi’ah (ahli bid’ah), orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, mempermainkan Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Jadi, jika seorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah”.</p>
<p>Kemudian Al-Imam Asy-Syaukani<em>rahimahullah</em> menjelaskan diantara bahaya duduk bersama orang-orang yang menyimpang, “Terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan <em> kehadiran</em> seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai <em> syubhat</em> , dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran”. [Lihat Fathul Qodir, (2/185)].</p>
<p><a name="_ftn19" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref19">[19]</a> Lihat <strong><em>Jamharoh Asy’aar Al-Arab</em></strong> (hal.103).</p>
<p><a name="_ftn20" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref20">[20]</a> Kalau mau jujur, sebenarnya orang-orang WI juga menerapkan <em>hajr</em> terhadap orang lain, misalnya terhadap salafiyyun, Syi’ah, JIL, Ahmadiyyah, dan lainnya. Nah, apakah mereka telah bersikap benar ketika WI meng-<em>hajr</em> mereka itu?! Lalu kenapa saat salafiyyun meng-<em>hajr</em> WI, malah mereka bilang tak boleh meng-<em>hajr</em>. Ini adalah <em>tanaqudh</em> (kontradiksi). Ini sama persis dengan kasus <em>muwazanah</em>. Para tokoh WI, saat salafiyyun men-tahdzir ahli bid’ah (semisal, Sayyid Quthb), maka mereka bilang harus ber-<em>muwazanah</em>. Tapi saat mereka (WI) yang men-<em>tahdzir</em> salafiyyun, maka WI tidak mau ber-<em>muwazanah</em>. Inilah standar ganda yang mereka gunakan demi membela diri, dan sehaluannya. <strong>[ed]</strong></p>
<p><a name="_ftn21" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref21">[21]</a> Di sini kami sempat tertegun lama, sebab orang-orang WI berhujjah dengan fatwa para ulama yang berpengaruh terhadap GERAKAN SALAFI MODERN yang telah disudutkan oleh seorang &#8220;Pengamat Dakwah&#8221; (Muhammad Ihsan Zainuddin) dalam sebuah tulisannya yang berjudul &#8220;GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA&#8221;. Menurut sangkaannya yang buruk bahwa semua ulama Saudi adalah tokoh yang telah mempengaruhi Gerakan Salafi Modern!! Ini pujian atau celaan, atau tashnif, atau ghibah, atau dusta. Terserah anda jawabannya.</p>
<p>Insya Allah, pada kesempatan lain, kami akan memberikan catatan atas tulisan itu agar Penulisnya sadar bahwa yang dinyatakannya bukanlah perkara ringan yang di dalamnya seorang berijtihad.</p>
<p>Satu diantara kebatilan yang terdapat dalam tulisan itu, si &#8220;Pengamat Dakwah&#8221; membagi salafiyyun menjadi dua: Salafi Yamani yang beraliran keras, membabi buta menurutnya, dan Salafi Haraki yang cenderung ‘moderat’.</p>
<p>Pembagian ini, jika kita meminjam istilah Ihsan sendiri, maka ini termasuk bentuk <em>tashnif, ghibah, celaan. </em>Selain itu, WI sendiri, apakah mereka salafi atau bukan? Jika salafi, maka senjata makan tuan. Jika bukan, maka tampaklah bagi anda kedok mereka sebenarnya dalam menyelisihi dan meninggalkan manhaj salaf. <em>Afalaa ta’qiluun. </em><strong>[ed]</strong></p>
<p><a name="_ftn22" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref22">[22]</a> Kembali saya tegaskan, sebagaimana pada artikel <strong>Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah</strong>, telah saya jelaskan bahwa bukan hak saya untuk mengeliminasi WI dari barisan Ahlus Sunnah, tetapi hak para ulama ataupun asatidzah yang benar-benar mendalam ilmunya. Hanya saja dengan penyimpangan-penyimpangan yang ada teramat sulit mengatakan WI termasuk Ahlus Sunnah</p>
<p><a name="_ftn23" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref23">[23]</a> Sebagaimana yang akan kami nukilkan fatwa-fatwa ulama tentang kelompok yang menyelisihi manhaj Salaf, tidaklah layak digolongkan kepada Ahlus Sunnah, bersamaan dengan itu dalam seri artikel ini akan kami buktikan penyimpangan-penyimpangan WI dari manhaj Salaf sesuai dengan penjelasan ulama. Meskipun sebenarnya, kalau mereka mau mendengarkan apa yang dinasihatkan asatidzah salafiyyin, niscaya telah mencukupi <em>-insya Allah-</em>.</p>
<p><a name="_ftn24" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref24">[24]</a> Yaitu yang disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> dalam hadits <em>iftiroq</em>, bahwa 72 golongan yang tidak mengikuti jalannya Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya, maka tempatnya di neraka</p>
<p><a name="_ftn25" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref25">[25]</a> Oleh karenanya, kitab <strong><em>Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah</em></strong>, tak cocok dijadikan senjata oleh kaum WI, sebab Syaikh kami, Abdul Muhsin Al-‘Abbad -hafizhahullah- tidaklah menulisnya untuk membantah sikap salafiyyun dalam men-tahdzir ahli bid’ah. Tapi beliau hanya menulisnya sebagai nasihat bagi sebagian orang yang melampaui batas dalam men-<em>tahdzir</em>. Bahkan saat kami masih di Jami’ah Islamiyyah, Syaikh pernah ditanya, apakah kitab <em><strong>Rifqon</strong></em> bisa dipegangi oleh orang-orang IM (Ikhwanul Muslimin) ? Beliau jelaskan bahwa tidaklah demikian. Bahkan itu hanyalah nasihat di antara <span style="text-decoration:underline;">ahlus sunnah</span>. <strong>[ed] </strong></p>
<p><a name="_ftn26" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref26">[26]</a> Tapi siapakah yang menggolongkan WI sebagai Ahlus Sunnah?? Tanda tanya besar!!! <strong>[ed] </strong></p>
<p><a name="_ftn27" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref27">[27]</a> Katanya, tak boleh sebut nama? Malah Si Penulis WI ini sendiri yang menyebut Ustadz Sofyan dalam tulisan Silsilah Pembelaan Ulama dan Du’at (SPPUD). Inikah yang namanya inshof, atau tanaqudh?? Terserah jawabannya. <strong>[ed] </strong></p>
<p><a name="_ftn28" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref28">[28]</a> Sebagaimana telah dijelaskan Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan <em>–hafizhahullah</em>- di atas bahwa jika satu jama’ah menyimpang dari manhaj ahlus sunnah, maka jama’ah tersebut bukanlah Ahlus Sunnah. Mungkin Anda bertanya, apa bukti penyimpangan kelompok-kelompok tersebut, sehingga tidak layak digolongkan sebagai Ahlus Sunnah, dan apakah ada ulama yang mengeliminasi mereka dari barisan Ahlus Sunnah secara <em>ta’yin</em>, pertanyaan ini akan saya jawab -<em>insya Allah</em>- pada bagian-bagian yang akan datang</p>
<p><a name="_ftn29" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref29">[29]</a> Wahai saudaraku, barangkali ini adalah sebuah hikmah Allah <em>Ta’ala</em> yang menginginkan kebaikan kepadaku dan kepadamu, dimana Allah <em>Ta’ala</em> menunjukkan bahwa banyak sekali perkataan-perkataan kalian (WI) sesungguhnya lebih pantas untuk diarahkan kepada kalian sendiri sebagaimana yang akan saya buktikan -<em>insya Allah</em>- pada bagian-bagian selanjutnya, terkhusus yang berhubungan dengan kedustaan atas nama ulama (sesuai istilah kalian), meskipun lebih tepat dikatakan, “kesalahpahaman terhadap fatwa ulama”.</p>
<p>Maka saya ingatkan kembali, tahanlah dulu emosi Anda dan tetaplah menganggap saya sebagai saudara yang mencintai Anda dan menginginkan kebaikan bagi Anda, agar Anda bisa mencerna dengan baik bukti-bukti ilmiah tentang hal tersebut -<em>insya Allah</em>-. Karenanya, ambillah pelajaran darinya wahai orang yang berakal, semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu</p>
<p><a name="_ftn30" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref30">[30]</a> Sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid <em>rahimahullah</em></p>
<p><a name="_ftn31" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref31">[31]</a> Apalagi jika syubhat dan penyimpangan mereka tersebar lewat buku, website resmi, radio, buletin, majalah, dan media lainnya. Ketika itu, tak perlu klarifikasi. Orang-orang WI pun saat men-tahdzir salafiyyun secara batil, mereka tak pernah tabayyun. Ini bukti tanaqudh mereka!!</p>
<p><a name="_ftn32" href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ftnref32">[32]</a> Satu faedah ringan, perkara ini diantara <em>syahid</em> tentang berbedanya WI dari kebanyakan orang-orang yang ber<em>intisab</em> kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena selain dari WI kita akan sulit menemukan gambar bernyawa pada website resmi maupun blog pribadi dan acount-acount <em>facebook</em> mereka yang -insya Allah- bermanhaj Salaf, apalagi pada blog dan acount asatidzah dan du’atnya, maka siapa sebenarnya yang ingin kelihatan <em>“tampil beda”</em>?! Akan tetapi tinggalkanlah perkataan <em>talbis</em>, “Terlalu naif jika hanya karena ini Anda mengeliminasi WI dari barisan Ahlus Sunnah”, sebab hakikatnya kalian telah tahu, bukan hanya karena ini permasalahannya, <em>hadaaniyllahu wa iyyakum</em>.</p>
<p>Sumber : www. almakassari.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=47&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2009/12/29/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wi-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bagian 1 &amp; 2)</title>
		<link>http://umarsalafy.wordpress.com/2009/12/11/mengapa-saya-keluar-dari-wi-bagian-1-2/</link>
		<comments>http://umarsalafy.wordpress.com/2009/12/11/mengapa-saya-keluar-dari-wi-bagian-1-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 23:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umarsalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[YWI Palu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://umarsalafy.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 1) Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray (Mantan Kader &#38; Da’i Wahdah Islamiyah Makassar) -حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين- Editor : Al-Ustadz Abdul Qodir Muroja’ah : Al-Ustadz Dzulqarnain Pembaca yang budiman, kini kami akan menyebutkan beberapa penyimpangan yang saya lihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=40&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 1)</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray</span></strong><strong><br />
</strong>(Mantan Kader &amp; Da’i Wahdah Islamiyah Makassar)<strong><br />
</strong><strong>-حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين-</strong><strong><br />
</strong><strong><br />
Editor : Al-Ustadz Abdul Qodir<br />
Muroja’ah : Al-Ustadz Dzulqarnain </strong></p>
<p>Pembaca yang budiman, kini kami akan menyebutkan beberapa penyimpangan yang saya lihat sendiri selama menjadi santri di STIBA al-Wahdah al-Islamiyah Makassar dalam kurun waktu antara tahun ( +) 2001 – 2005, dan tahun 2005 – 2007 masih ber-<em>intisab</em> ke WI serta sempat mengisi beberapa ta’lim dan dauroh WI di Makassar dan di daerah. Berikut beberapa penyimpangan tersebut:</p>
<ul>
<li><strong>Pertama: </strong><strong>Kurangnya Kecemburuan      kepada Manhaj yang Haq </strong></li>
</ul>
<p>Perkara inilah yang paling mendorong saya untuk keluar dari WI, sebab keadaan batin saya sangat sulit menerima untuk terus bersama dan ber<em>ta’awun</em> dalam dakwah bersama orang-orang yang menganggap ringan berteman, bermajelis, menjadikan orang-orang dari kalangan hizbiyyun atau orang yang dikenal memiliki manhaj yang menyimpang dari manhaj Salaf sebagai penceramah dalam acara-acara mereka.</p>
<p>Meskipun sebenarnya ini bukan semata-mata permasalahan batin, akan tetapi karena perintah Allah <em>-Ta’ala-</em> untuk menjauhi orang-orang yang menyimpang, bahkan telah menjadi ijma’ Salaf untuk menghindari orang-orang yang dikhawatirkan penyimpangannya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><strong>وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ </strong></p>
<p><em>“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)”.</em><strong>(QS. Al-An’am : 68)</strong></p>
<p><strong><span id="more-40"></span>Al-Imam Asy-Syaukani</strong><em> rahimahullah</em> menerangkan, <em>“Dalam ayat ini terkandung nasehat yang agung bagi mereka yang mentolerir duduk bermajelis dengan al-mubtadi’ah, orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mempermainkan Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Jadi, jika seorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah”. </em></p>
<p>Kemudian <strong>Al-Imam Asy-Syaukani</strong> menjelaskan diantara bahaya duduk bersama orang-orang yang menyimpang, <em>“Terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan <strong>kehadiran</strong> seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai <strong>syubhat</strong>, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran”.</em><strong>(Lihat Fathul Qodir, 2/185). </strong></p>
<p>Pembaca yang budiman, sekarang kami akan menukilkan beberapa atsar yang menunjukkan sikap para salaf dalam bermajelis dengan ahli bid’ah yang dikutip dari Kitab <strong>Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur </strong>(hal. 36-37) :</p>
<p>“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi <strong>Ibnu Sirin</strong> seraya berkata, <em>&#8220;Wahai <strong>Abu Bakr</strong>, bolehkah kami menyampaikan satu hadits kepadamu?&#8221;<br />
</em>Beliau menjawab, <em>&#8220;Tidak. Keduanya berkata lagi : Kalau begitu kami bacakan satu ayat Al-Qur’an kepadamu?&#8221;</em> Beliau menjawab, <em>&#8220;Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi&#8221;.</em> Lalu keduanya pun keluar. Sebagian orang berkata, <em>&#8220;Wahai <strong>Abu Bakr</strong>, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Al-Qur’an kepadamu?&#8221;</em> Beliau menjawab, <em>&#8220;Sungguh saya khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka selewengkan maknanya sehingga tertanam dalam hatiku”. </em><strong>[HR. Ad Darimy (1/120/no. 397)] </strong></p>
<p><strong>Sallam</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata, &#8220;Seorang pengikut kesesatan berkata kepada <strong>Ayyub</strong>, <em>“Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?&#8221;</em> Maka <strong>Ayyub</strong> segera berpaling dan berkata, <em>“Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat&#8221; </em>Beliau mengisyaratkan jarinya”. [HR. Ibnu Baththoh dalam <strong><em>Al-Ibanah</em></strong> (2/447 no. 402), Al-Lalika'iy dalam <strong><em>Syarh Ushul Al-I'tiqod </em></strong>(1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam <strong><em>As Sunnah</em></strong> (1/138/no. 101), dan Ad Darimy dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (1/121 no. 398)]</p>
<p><strong>Al Fudlail bin Iyyadh</strong><em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu (aqidahmu) dan janganlah engkau duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena sungguh saya khawatir kamu terkena murka Allah”.</em> [HR. Ibnu Baththoh dalam <strong><em>Al-Ibanah</em></strong>(2/462-463 no. 451-452), dan Al-Lalika'iy dalam <strong><em>Syarhul Ushul</em></strong> (262)]</p>
<p>Mungkin para pembaca bertanya dalam hati, &#8220;<strong>Apa buktinya bahwa orang-orang WI biasa bermajelis dengan ahli bid’ah?</strong>&#8221; Menjawab pertanyaan ini kami akan sebutkan beberapa bukti<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn1">[1]</a> yang saya ingat. Bukti-bukti ini menunjukkan perbedaan jelas antara manhaj Salaf dengan manhaj WI:</p>
<p><strong>1</strong>. <strong><span style="text-decoration:underline;">Pernah diadakan seminar oleh Wahdah Islamiyah bekerja sama dengan MPM Unhas (<em>underbow</em>-nya WI di Unhas) tentang TERORISME</span></strong>. Hadir sebagai pembicara, diantaranya: Ust. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc, Ust. Kholid Basalamah, Lc dan seorang pembicara dari kalangan tokoh Ikhwanul Muslimin (IM). Selanjutnya kami sebut dengan <strong>&#8220;Tokoh Ikhwan&#8221;</strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn2">[2]</a></p>
<p>Dialog ini <strong>bukanlah untuk mengungkap fikrah terorisme</strong> yang ada pada IM, bahkan ada beberapa syubhat yang dilontarkan oleh si Tokoh Ikhwan tersebut, dan seakan <strong>diamini</strong> oleh <strong>Ust. Muh. Ikhwan Abdul Jalil, Lc</strong>, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Si Tokoh Ikhwan mengatakan bahwa <em>muzhoharoh</em> (demonstrasi)<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn3">[3]</a> <strong>bukanlah </strong><strong>bid’ah</strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn4">[4]</a>, bahkan <strong>harus dilakukan</strong> demi mendukung ‘<strong>suara kebenaran</strong>’ di dewan. Pernyataan ini seingat saya<strong> <span style="text-decoration:underline;">tidak ada sedikitpun bantahannya</span></strong> dari      Ust. Ikhwan. Malah ia mengomentarinya dengan mengatakan, <em>“Kita sesama      Ahlus Sunnah harus saling ifadah dan istifadah”.</em> Pada saat itu jelas      sekali yang ia maksudkan dengan sesama Ahlus Sunnah adalah WI dan IM. Di      sini saya teringat penukilan salah seorang kader senior WI bahwasannya      Ust. Jahada Mangka, Lc juga pernah mengatakan, <em>“</em><strong><em>Yang paling dekat dengan WI (Wahdah Islamiyah) </em></strong><strong><em>adalah</em></strong><strong><em> IM      (Ikhwanul Muslimin) </em></strong><em>”. </em></li>
<li>Ketika Ust. Ikhwan mengatakan bahwa <strong>Ahlus Sunnah</strong> tidak akan pernah bersatu dengan <strong>Syi’ah</strong> sampai mereka bertobat, maka dijawab oleh si Tokoh      Ikhwan, <em>“Kalau begitu Syi’ah juga bisa mengatakan, kita tidak akan      pernah bersatu dengan Ahlus Sunnah sampai mereka bertobat”</em>. Lalu si      Tokoh Ikhwan melanjutkan, <em>“</em><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Hendaklah kita duduk      satu meja</span></em></strong><em>”</em>. Jelas sekali yang dia inginkan penggabungan antara      Sunnah dan Syi’ah. Namun sayang sekali syubhatnya ini -seingat saya- tidak      dibantah oleh Ust. Ikhwan.</li>
</ul>
<p>Namun yang ingin saya buktikan di sini bukan masalah syubhat-syubhat yang tidak bisa dijawab<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn5">[5]</a>. Tetapi <strong><span style="text-decoration:underline;">perbuatan WI menjadikan orang tersebut sebagai pembicara</span></strong>, artinya: orang itu dijadikan sebagai <strong><em>sumber ilmu</em></strong> dalam seminar tersebut. Apalagi <strong><span style="text-decoration:underline;">tidak ada sedikitpun bantahan dari pihak WI</span></strong> untuk menyingkap<strong><span style="text-decoration:underline;"> fikrah terorisme yang ada pada IM</span></strong>.</p>
<ul>
<li>Pada acara ini juga Ust. Ikhwan <strong>memuji Safar      al-Hawali</strong> sebagai seorang <strong>Ulama Ahlus      Sunnah</strong> dan secara halus <strong>menyalahkan      pemerintah yang memenjarakannya</strong> (Pemerintah Saudi Arabia-ed).      Padahal memang ia pantas dipenjara, karena telah melakukan beberapa      tindakan yang menimbulkan <em>fitnah</em> antara pemerintah Saudi dengan      rakyatnya dalam beberapa tulisan dan ceramahnya sebagaimana yang      dijelaskan oleh Syaikh bin Baaz -rahimahullah- dalam suratnya ke <em>Amir</em> Nayif bin Abdil Aziz<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn6">[6]</a>. Justru <strong>Ust.      Muh. Ikhwan yang <span style="text-decoration:underline;">harus disalahkan</span></strong>,      karena ia telah membela orang yang salah (yakni, Safar Al-Hawaliy)</li>
</ul>
<p><strong>2</strong>. <strong><span style="text-decoration:underline;">Pernah diadakan dauroh oleh cabang WI di Ternate</span></strong> yang juga tampak hadir waktu itu Ust. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc. Dalam undangan yang tersebar terdapat jadwal pemateri, diantaranya seorang “ikhwani” (IM). Orang ini juga dijadwalkan untuk mengisi khutbah Jum’at rutin di salah satu masjid yang diurus oleh WI Ternate. Ketika kami menasehatkan perkara ini<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn7">[7]</a>, maka seorang pengurus dan da’i WI Ternate menjawab dengan logika dan dalil dari hadits yang salah dipahami.</p>
<p>Logikanya, dia mengatakan, &#8220;Ini sama saja ketika Anda belajar di tempat pendidikan umum yang mana pengajarnya <strong>tidak semuanya Salafy</strong>&#8220;.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn8">[8]</a></p>
<p>Adapun dalil dari hadits katanya, adalah kisah tentang setan yang mengajarkan ayat kursi kepada Abu Hurairah -<em>radhiyallahu’anhu-</em>. Kata da’i WI ini, <em>&#8220;Kebenaran itu diambil dari siapa saja, bahkan dari setan sekali pun&#8221;.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn9">[9]</a></em></p>
<p>Demikianlah mereka memahami hadits dan ber-<em>istidlal</em> (berdalil) dengannya, tanpa ada contoh sebelumnya dari kalangan Salaf<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn10">[10]</a>.</p>
<p><strong>3</strong>. <strong><span style="text-decoration:underline;">Pembelaan kepada tokoh-tokoh yang menyimpang. </span></strong></p>
<p>Diantara penyimpangan para da’i Wahdah Islamiyah, mereka memberikan pembelaan kepada para tokoh yang menyimpang</p>
<ul>
<li>Ust. Jahada Mangka, Lc dalam kelas <em>takmili</em> mengatakan bahwa <strong>tidak benar klaim</strong> adanya penyimpangan<strong> Sayyid Quthub dan kitabnya <em><span style="text-decoration:underline;">Azh-Zhilal</span></em></strong>,      melainkan hanya <strong>salah memahami</strong> bahasa Sayyid Quthub yang tinggi. Bahkan Ust. Jahada mengatakan bahwa <strong>kebangkitan Islam</strong> dimulai dari <strong>Mesir</strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn11">[11]</a>, dan <strong>musuh-musuh Islam</strong> sangat takut apabila <strong>kebangkitan</strong> ini masuk ke <strong>Kuwait</strong> dan <strong>Saudi</strong>,      sebab di dua negeri tersebut terdapat para <strong>ulama</strong> dan <strong>harta yang melimpah</strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn12">[12]</a></li>
<li>Ust. Bahrun Nida’ juga di kelas <em>takmili</em> pernah      mengajarkan kitab <strong><em>Qabasat Min Siroh ar-Rasul</em></strong><em>-shallallahu’alaihi      wa sallam-</em> karya Muhammad Quthub, ketika itu juga Beliau mengutip      perkataan Muhammad Quthub, <em>“Andaikata manusia mendekatkan diri kepada      Allah dengan </em><strong><em>mencela Sayyid Quthub</em></strong><em>,      maka <strong>aku mendekatkan diri kepada-Nya dengan </strong></em><strong><em>membelanya</em></strong><em>”</em>,      atau perkataan yang semakna dengan itu.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn13">[13]</a></li>
<li>Ust. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc, pernah      mengajarkan kitab <strong><em>Laa Tahzan</em></strong> karya ‘Aidh al-Qorni sambil      memuji-muji buku dan penulisnya di kajian <strong>Radio Telstar Makassar</strong>.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn14">[14]</a></li>
<li>Adapun secara umum tokoh-tokoh yang <strong>dibela</strong><strong> oleh para <em>asatidzah</em> WI</strong>, bahkan sebagiannya menjadi idola WI adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">Dr. Yusuf      al-Qorodhowi</span></strong>, <strong><span style="text-decoration:underline;">Salman al-‘Audah</span></strong>, <strong><span style="text-decoration:underline;">‘Aidh al-Qorni</span></strong> dan <strong><span style="text-decoration:underline;">Safar al-Hawali</span></strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn15">[15]</a></li>
<li>Sampai hari ini, apabila kita melihat situs-situs atau      blog-blog pribadi orang-orang WI, maka kita akan dapati mereka      mencantumkan sebagai <strong>LINK</strong> mereka,      situs <strong>Ar Rahmah.com</strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn16"><strong>[16]</strong></a>dan <strong>Eramuslim.com</strong>.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn17">[17]</a> Demi Allah, hal ini tidak akan      dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecemburuan kepada manhaj yang      haq dan terdidik di atas manhaj yang haq, mengingat dalam kedua situs      tersebut dengan sangat jelas terdapat banyak sekali <strong>penyimpangan</strong> bahkan <strong>celaan</strong> kepada para Ulama Ahlus Sunnah wal      Jama’ah.</li>
<li>Ketika ada kebijakan menyamakan ijazah STIBA dengan      ijazah negeri, maka banyak para pengajar yang melanjutkan program S2 di      UMI maupun di institusi lainnya. Juga ketika ada kebijakan menarik bayaran      SPP dari santri, maka banyak dari santri STIBA yang pindah ke STAI swasta.      Sudah dimaklumi bahwa para pengajarnya banyak yang berpaham menyimpang,      ditambah lagi adanya ikhtilat dalam ruangan kelasnya.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn18">[18]</a></li>
<li>Ikut <strong>menulis</strong>, <strong>mengedit</strong> dan <strong>menyebarluaskan</strong> buku-buku <strong>yang penuh dengan penyimpangan dan      celaan</strong> kepada <strong>manhaj Salaf</strong>, <strong>ulama</strong> dan <strong>da’inya</strong>, diantaranya: buku <strong>Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak</strong>,      karya Abu Abdirrahman Al Thalibi alias Joko Waskito<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn19">[19]</a> (seorang kader WI di Bandung), buku      <strong>Siapa Teroris Siapa Khawarij<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn20">[20]</a></strong>, diedit oleh Ust. Muhammad Ihsan      Zainuddin, Lc, dan buku <strong>Beda Salaf Dengan Salafi<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn21">[21]</a></strong>, juga buku-buku <strong>al-Qorodhowy</strong>,      majalah <strong>Sabili</strong> dan <strong>Hidayatullah</strong>, dulu dengan mudah      didapatkan di toko-toko buku WI.<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_edn22">[22]</a></li>
</ul>
<p>==============<br />
<strong>Footnote:</strong><br />
==============</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref1">[1]</a> Hampir keseluruhan penukilan di sini saya kutip secara makna, sebab kebanyakan asalnya bukanlah dari sebuah buku atau kaset, tetapi didengar langsung oleh telinga</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref2">[2]</a> Telah dimaklumi bahwa Ikhwanul Muslimin (IM) yang berpusat di Mesir, telah difatwakan oleh para Ulama sebagai kelompok yang menyimpang dari manhaj Salaf, bahkan <strong>Asy-Syaikh Bin Baz</strong><em> rahimahullah</em> dengan tegas menyatakan bahwa <strong>IM</strong> tergolong kepada salah satu dari 72 golongan ahlul bid’ah.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref3">[3]</a> Untuk bantahan bid’ahnya demonstrasi ini silahkan dengarkan ceramah Al-Ustadz Dzulqarnain: <strong>Nasehat Ilmiyah Tentang </strong><strong>Kesesatan Wahdah Islamiyah</strong>, juga makalah Al-Austadz Abu Fa’izah Abdul Qodir, Lc: <strong>Bantahan Kepada Ust. Jahada Mangka, Lc</strong>.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref4">[4]</a> Para Ulama telah menjelaskan bahwa demonstrasi termasuk cara baru dalam dakwah dan mengubah kemungkaran, sedangkan dakwah itu ibadah yang harus mencontoh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref5">[5]</a> Diantara yang sangat menyakitkan adalah syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Qasim Mathar dalam salah satu dialog di IAIN Alauddin bersama WI. Hal itu terasa lebih menyakitkan lagi ketika Ust. Ikhwan <strong>tidak mampu</strong> membantah syubhat-syubhatnya dengan bantahan yang mengenyangkan orang yang lapar dan menghilangkan dahaga orang yang kehausan, <em>wallahul Musta’an. </em></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref6">[6]</a> Tentang surat Syaikh bin Baaz ini, lihat kopian naskah aslinya dalam <strong><em>Madarik An-Nazhor</em></strong> (hal. 431) karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubarok Romadhoniy Al-Jaza’iriy, cet. Dar Sabil Al-Mu’minin, 1418 H.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref7">[7]</a> Pada dauroh tersebut saya belum sepenuhnya keluar dari WI, maka saya pun oleh Panitia Dauroh dijadwalkan sebagai salah satu pemateri dengan judul <strong><em>&#8220;Keutamaan Menuntut Ilmu dan Adab-adabnya&#8221;</em></strong>. Kesempatan ini saya gunakan untuk menasehati panitia dan peserta dauroh bahwa sebagai salah satu adab dan manhaj dalam menuntut ilmu, kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang menyimpang manhajnya. Saya nasehatkan waktu itu untuk <strong><span style="text-decoration:underline;">membatalkan</span></strong> beberapa pemateri yang telah terjadwal, bahkan saya tegaskan bahwa saya telah berdialog langsung dengan sebagian pemateri dan mengetahui dengan pasti <strong><span style="text-decoration:underline;">penyimpangan manhajnya</span></strong>. Di lain sisi, mereka terlihat <strong><em>musbil</em></strong> (memanjangkan kain dibawah mata kaki-ed). Anehnya, setelah kejadian tersebut, orang-orang WI Ternate mulai menjaga jarak dengan saya. Persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang IM ketika mereka tahu bahwa saya telah keluar dari IM dan bergabung dengan WI. Orang-orang yang dahulu akrab, namun setelah kejadian itu seakan memboikot saya dan tidak berwajah ramah ketika bertemu. Demikian pula mereka meng-<em>ghibah</em>, bahkan melakukan <strong><em>buhtan</em></strong> (kedustaan) tentang saya. Kalaulah tidak berhubungan dengan pribadi saya yang dizhalimi, maka saya akan mengungkapkannya.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref8">[8]</a> Jika tidak semuanya salafy, yah tinggalkan. [ed]</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref9">[9]</a> Ini adalah qiyas batil, sebab membolehkan orang untuk belajar, bermajelis dan berguru kepada setan!!Padahal anda telah mengetahui dan membaca ayat yang menjelaskan larangan bermajelis dengan ahli bid’ah, termasuk setan!!! [ed]</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref10">[10]</a> Untuk bantahannya secara detail silahkan dengarkan ceramah tentang Bantahan Istidlal Manhaj Muwazanah, oleh Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref11">[11]</a> Kalau bukan IM kira-kira siapa yang dimaksud? yang pasti bukan Anshorus Sunnah al-Muhammadiyah, sebab dasar dakwah Anshorus Sunnah dahulu adalah dakwah Salafiyyah yang dipelopori Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Hijaz (Saudi), bukan Mesir!!</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref12">[12]</a> Apakah sebelum kemunculan Hasan Al-Banna dan IM-nya, para ulama Ahlus Sunnah <strong>tertidur</strong> sehingga <strong>perlu dibangkitkan</strong>. Wallohi, itu tidak akan pernah terjadi, sebab Rasulullah <em>-shallallahu’alaihi wa sallam-</em> telah mengabarkan akan adanya <strong><em>ath-Thoifah al-Manshuroh</em></strong> yang senantiasa <em>zhohir</em> (jaya) di atas kebenaran sampai hari kiamat, dan munculnya para mujaddid. Para Ulama telah menjelaskan bahwasannya diantara mujaddid itu adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Asy-Syaikh Al-Albani <em>–rahimahumallah-</em> dan lainnya dari kalangan ulama Ahlus Sunnah, bukan dari kelompok menyimpang IM. Maka renungkanlah, wahai saudaraku!!</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref13">[13]</a> Seakan Sayyid adalah seorang nabi yang tak pernah salah, sehingga harus dibela dalam segala kondisi. Padahal setiap orang –selain nabi- boleh jadi terjatuh dalam kesalahan. Karenanya, Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy, Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh An-Najmiy, Syaikh Robi’, dan ulama lainnya telah memberikan pengingkaran terhadap kesalahan dan penyimpangan Sayyid Quthub dalam kitab-kitab dan ceramah mereka. [ed]</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref14">[14]</a> A’idh Al-Qorniy termasuk tokoh hizbiyyah yang kagum kepada para tokoh IM.Dengarkan<strong> A’idh Al-Qorni </strong>berkata dalam<em>“<strong>Kutub fi As-Sahah Al-Islamiyyah</strong>”, </em>(hal.66) ketika ia menyebutkan kitab-kitab yang penting di zaman sekarang<strong>, “</strong><em>Kitab-kitab Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul A’la Al-Maududiy, Abul Hasan An-Nadwiy, kitab Al-Muntholiq wa Ar-Roqo’iq wa Al-Awa’iq karangan Muhammad Ahmad Ar-Rosyid, dan selain mereka…</em><strong>”. Jika Al-Qorni kagum kepada para tokoh IM, maka tak heran jika para ustadz WI juga kagum kepada tokoh-tokoh IM, sebab Al-Qorni adalah teladan mereka. [ed]</strong></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref15">[15]</a> Penyimpangan-penyimpangan Sayyid Quthub, Dr. Yusuf al-Qorodhowi, Muhammad Quthub, Salman Al-‘Audah, Safar al-Hawali, ‘Aidh Al-Qorni telah banyak dijelaskan oleh para Ulama, untuk tiga yang terakhir silahkan baca sebuah kitab yang ditaqdim oleh Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, yang berjudul: <strong><em>Madarikun Nazhor fis Siyasah</em></strong>, karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani, atau dengarkan juga ceramah Al-Ustadz Dzulqarnain: Nasehat Ilmiyah tentang Kesesatan Wahdah Islamiyah, dan baca makalah Al-Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qodir, Lc berupa bantahan kepada Ust. Jahada Mangka, Lc.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref16">[16]</a> Situs ini banyak menyebarkan fikrah Khawarij. [ed]</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref17">[17]</a> Ini adalah situs orang-orang IM (Ikhwanul Muslimin). Orang-orang WI juga sering menukil dari situs <strong>www.hidayatullah.com</strong> . Mereka pernah menukil dari situs ini tentang pelarangan buku-buku Sayyid Quthb oleh pemerintah KSA (Arab Saudi) karena di dalamnya terdapat pemahaman-pemahaman penulisnya yang menyimpang. Orang-orang Hidayatullah (dan para hizbiyyun lainnya) tak setuju dengan pelarangan tersebut, lalu mereka buat sebuat artikel tentang ketidaksetujuan mereka terhadap sikap pemerintah Saudi tersebut. Sikap ini juga diaminkan oleh orang-orang WI dengan menukil (copy-paste) artikel yang berisi sikap Hidayatullah terhadap KSA, lalu dicantumkan oleh WI dalam situs resmi mereka (Artikel tanggal 28 November 2008). Namun ternyata artikel tersebut <strong>hanya bertahan</strong> beberapa pekan, hingga akhirnya hanya admin web WI saja yang dapat melihat isinya. Artikel ini <strong>disembunyikan</strong> menjelang kedatangan Dubes Arab Saudi dan juga penandatanganan kerjasama pembukaan cabang Universitas Imam Ibnu Saud di Makassar oleh WI.[ed.]</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref18">[18]</a> Ini menunjukkan lemahnya manhaj dan aqidah mereka. <em>Nas’alullahal afiyah was salamah.</em></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref19">[19]</a> Orang ini mengira bahwa dirinya berilmu; di <em>blog</em>-nya dia mengomentari hampir setiap perkara, bahkan memuji Hizbut Tahrir, IM, Salman Al-‘Audah dan membantah Asy-Syaikh Robi’ dan Asy-Syaikh Bin Baz dalam perkara yang tampak sekali bahwa dia tidak memiliki ilmu tentangnya. Dia hanyalah seorang yang <em>maghrur </em>(tertipu) dengan dirinya; menyangka dirinya berilmu, padahal ia adalah seorang yang jahil tentang manhaj salaf.</p>
<p>Lebih parah lagi dia berkata tanpa dasar ilmu dan tanpa ada Salaf sebelumnya –kecuali mungkin orang-orang WI- bahwa para ulama Ahlus Sunnah, seperti As-Syaikh Bin Baz terkadang berfatwa untuk tujuan-tujuan politik tertentu!!</p>
<p>Demi Allah, saya tidak pernah menemui seorang yang ber<em>-intisab</em> kepada Sunnah dan Salafiyyah yang mencela ulama Ahlus Sunnah dengan celaan sekotor ini, kecuali <strong>pentolan WI Bandung</strong> ini. Inilah sesungguhnya <strong><em>Mudda’i as-Salafiyah</em></strong> yang sejati, sekedar mengaku Salafy, tapi manhajnya hizby.</p>
<p>Lisannya yang keji juga mengatakan bahwa fatwa Asy-Syaikh Bin Baz untuk memenjarakan Salman Al-‘Audah karena tekanan penguasa dan kental nuansa politiknya, bahkan dia seakan-akan menggambarkan bahwa Salman Al-‘Audah ditahan hanya karena persoalan parabola, sampai dia mengatakan <em>“Betapa dilematiknya Syaikh Bin Baz, beliau harus menyalahkan seseorang yang bukunya beliau beri kata pengantar sendiri”.</em> Maka saya (Sofyan Chalid) katakan, <em>&#8220;Wahai orang yang berakal, belajarlah manhaj yang benar, sehingga engkau tahu kedudukan ulama di mata Ahlus Sunnah; ketahuilah, selama Salman –hadaahullah- masih hidup, maka masih mungkin ia berbuat salah. Lalu tidak bolehkah menyalahkan dia kalau dia berbuat salah, setelah sebelumnya dia dipuji karena berada di atas kebenaran?!&#8221;. </em></p>
<p>Semoga suatu saat –Insya Allah- kami akan membongkar kejahilan orang WI Bandung ini. Biarlah ia berbuat dan berkata sebebasnya; tiba saatnya, ia akan menuai hasilnya yang pahit. <em>Wallahul Musta’an</em></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref20">[20]</a> Buku <strong><em>STSK</em></strong> ini telah dibantah dengan telak oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dalam buku <strong><em>Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij</em></strong>, yang juga telah mengandung bantahan kepada buku <strong><em>DSDB</em></strong>.</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref21">[21]</a> Telah dibantah oleh Al-Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qodir, Lc dengan judul: <strong><em>Beda Salafi Dengan Hizbi</em></strong></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html#_ednref22">[22]</a> Seorang kader binaan WI -tanpa malu dan canggung- telah memasang reklame majalah Sabili (majalah IM) di depan toko bukunya di pertigaan Alauddin-Pettarani (MKS). Majalah yang penuh gambar dan penyimpangan disebarkan oleh seorang &#8220;Ahl al-Sunnah&#8221;. Beginikah Ahl al-Sunnah??! Tidak!!, tidak demikian. Tapi itulah hasil tarbiyah orang-orang yang mengaku Ahl al-Sunnah alias mudda’is salafiyyah!! [ed]</p>
<p style="text-align:center;"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah? (Bag. 2)</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
<strong>Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray</strong></span><strong> </strong><br />
</strong>(Mantan Kader &amp; Da’i Wahdah Islamiyah Makassar)<strong> </strong><strong><br />
</strong><strong>-حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين-</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><strong>Editor : Al-Ustadz Abdul Qodir</strong><br />
<strong>Muroja’ah : Al-Ustadz Dzulqarnain </strong></strong></p>
<ul>
<li><strong>Kedua : </strong><strong>Muwazanah </strong><strong>(Menyebutkan penyimpangan      seseorang bersamaan dengan kebaikannya)</strong></li>
</ul>
<p>Adapun tentang keharusan <em>muwazanah</em>, terkadang dalam ceramah <em>asatidzah</em> WI tidak dengan terang-terangan mengatakan keharusan <em>muwazanah</em>, seperti dengan mengistilahkan <em>tawazun</em>, atau dengan ungkapan Ust. Yusron dalam salah satu kaset ceramahnya, ketika ia menjelaskan firman Allah -<em>Ta’ala</em>- tentang adanya Ahli Kitab yang berkhianat dan ada pula yang amanah. Di situ Ust. Yusron mengatakan, <em>“Ayat ini merupakan dalil, terserah mau dinamakan muwazanah atau apa</em><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-2.html#_edn1">[1]</a>”.</p>
<p>Dalam kaset berjudul <em><strong>Muhasabah</strong></em>, Ust. Yusron mengatakan, <em>“Kalau hanya perkara </em><strong><em>muwazanah</em></strong><em> ini yang menjadi </em><strong><em>sebab permusuhan</em></strong><em> </em><strong><em><span style="text-decoration:underline;">WI</span></em></strong><em> dengan </em><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Salafy</span></em></strong><em>, maka </em><strong><em><span style="text-decoration:underline;">kami siap meninggalkan muwazanah</span></em></strong><em>, tapi tidak dalam prakteknya”</em>. Saya kutip secara makna, silahkan merujuk langsung ke kaset-kaset tersebut.</p>
<p>Secara tersirat ia mengharuskan muwazanah dengan istilah apapun. Ini <strong>membantah persangkaan</strong> sebagian orang bahwa <strong><em>asatidzah</em> WI tidak mengharuskan</strong> <strong>muwazanah</strong>. Ini dikuatkan oleh perkataan Hasan Bugis yang diterjemahkan oleh Ust. Rahmat Abdurrahman, Lc ketika dauroh di Kalimantan dan telah dibantah oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari <em>–jazahullahu khoiron-</em>.</p>
<ul>
<li><strong>Ketiga : </strong><strong>Terjun dalam Politik Demokrasi</strong><strong> </strong><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-2.html#_edn2">[2]</a></li>
</ul>
<p>Hal ini terbukti pada pemilu 2004 di TPS dekat kampus STIBA, bahwa PKS mendapat suara yang cukup signifikan, sehingga membuat masyarakat sekitar terheran-heran karena di daerah tersebut hampir tidak ada bendera PKS, karena yang mencoblos adalah para santri STIBA.</p>
<p>Diantara bentuk terjunnya mereka dalam politik demokrasi, ada seorang da’i WI menjadi caleg PBB pada Pemilu 2009. Sebagian diantara mereka ada yang menjadi tim sukses dalam sebuah pemilu.</p>
<p>Adapun bermajelis dengan para ahli bid’ah dalam seminar dan lainnya, maka perkara ini telah masyhur bagi semua orang. Ini semua merupakan bukti lemah nya manhaj wala’ dan baro’ mereka.</p>
<ul>
<li><strong>Keempat : </strong><strong>al-Hizbiyyah</strong><strong> </strong></li>
</ul>
<p><em>Syawahid</em> -nya (buktinya) banyak sekali, diantaranya ungkapan sebagian orang WI, bahwa organisasi mereka adalah <strong>organisasi yang paling terbaik di dunia</strong>. Mereka juga senantiasa <strong>memunculkan nama WI</strong> hampir dalam <strong>setiap kegiatan mereka</strong>, seakan-akan <strong><span style="text-decoration:underline;">hanya berdakwah</span></strong> menuju <strong><span style="text-decoration:underline;">organisasi</span></strong>, dan <strong><span style="text-decoration:underline;">bagaimana cara membesarkannya.</span></strong> Hal ini dengan mudah didapati dalam situs-situs resmi maupun <em>blog</em>-<em>blog</em> pribadi mereka. Dalam salah satu tingkatan dauroh mereka terdapat jadwal materi khusus membahas tentang perjalanan dakwah WI.</p>
<p>Demikian pula mereka <strong><span style="text-decoration:underline;">sangat bangga</span></strong> dengan <strong><span style="text-decoration:underline;">pujian-pujian tokoh maupun masyarakat kepada WI</span></strong>, diantaranya pujian-pujian beberapa tokoh kepada WI dan buku Sejarah WI terus menerus diiklankan dalam website resmi WI. Pujian-pujian ini membuat mereka <strong><span style="text-decoration:underline;">lalai dari segala penyimpangan</span></strong>. Mereka telah tertipu dengan pujian-pujian semu yang membuat mereka bangga dengan apa yang mereka miliki.</p>
<p>Selain itu, hampir seluruh aktivitas dakwah kader-kader WI, dimana pun mereka berada, senantiasa <strong><span style="text-decoration:underline;">menonjolkan label</span></strong> <strong>WI</strong>, sehingga orang-orang awam di kalangan mereka bisa langsung memiliki persepsi <strong>memang beda</strong> antara <strong>WI</strong> dan <strong>Salafy</strong>. <strong>WI</strong> <strong><span style="text-decoration:underline;">mengajak kepada </span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">organisasi</span></strong>, sedang <strong>Salafy<span style="text-decoration:underline;"> mengajak untuk berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah ala pemahaman sahabat</span></strong>.</p>
<p>Diantara perkara yang paling berbahaya adalah ketika <em>al-wala’ wal bara’</em> yang terbangun diantara mereka –sadar atau tidak- <strong>bukan lagi di atas manhaj Salaf</strong>, tetapi <strong>atas dasar organisasi</strong>. Mereka lebih bisa bekerja sama dan lebih mencintai orang-orang yang seorganisasi dengan mereka dibanding orang-orang di luar WI<a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-2.html#_edn3">[3]</a>, meskipun dari sisi ilmu dan iltizam kepada sunnah mungkin lebih baik dari mereka, padahal mestinya, setiap orang yang lebih berilmu dan lebih takwa kepada Allah <em>-Ta’ala-,</em> maka dia yang lebih kita cintai.</p>
<p>Sampai pada <strong>urusan pernikahan</strong>, mereka berusaha bagaimana agar <strong>Ikhwan</strong> dan <strong>Akhwat</strong> mereka hanya menikah dengan sesama mereka saja, tidak dari luar kalangan WI, tanpa mengecek dulu apakah orang yang dari luar WI yang hendak menikah dengan kadernya tersebut bermanhaj yang lurus atau tidak, hal ini benar-benar terjadi, hanya karena berhubungan dengan permasalahan pribadi , maka saya tidak menyebutkan nama-nama mereka.</p>
<p>Barangkali apa yang saya sebutkan ini hanyalah perbuatan sebagian orang, namun untuk menyebutkan ini hanyalah <strong>oknum</strong> terlalu sulit, sebab penyimpangan-penyimpangan yang mengarah kepada al-hizbiyyah tersebut begitu marak dan <strong>tersebar di kalangan WI</strong>.</p>
<p>Berikut mutiara nasehat <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong><em>rahimahullah</em> tentang <em>al-wala wal bara’ </em>yang syar’i, semoga bisa direnungi,</p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong><em>–rahimahullah-</em> menerangkan, <em>“Hendaklah diketahui bahwa seorang mukmin wajib engkau cintai, meskipun dia berbuat zhalim kepadamu. Orang kafir harus engkau benci, meskipun dia menghadiahkan sesuatu dan berbuat baik kepadamu. Karena sesungguhnya Allah -Ta’ala- mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab agar agama ini seluruhnya hanya diikhlaskan kepada Allah -Ta’ala-, sehingga kecintaan itu kepada wali-wali-Nya dan kebencian kepada musuh-musuh-Nya”. </em></p>
<p><em>“Apabila terkumpul pada diri seseorang kebaikan dan keburukan, kemaksiatan dan ketaatan, sunnah dan bid’ah, maka ia berhak mendapatkan wala` dan ganjaran sebatas kebaikan yang ada padanya, dan berhak menerima bara` dan hukuman sebatas keburukan atau kejahatan yang ada padanya. Demikianlah apabila terkumpul pada diri seseorang penyebab kemuliaan, dan kehinaan, maka dia mendapatkan sesuai kadar kemuliaan dan kehinaannya.Seperti seorang fakir yang mencuri, harus dipotong tangannya sebagai hukuman, namun dia tetap disantuni dengan menerima bagian dari kas negara untuk mencukupi kebutuhannya. Maka inilah salah satu prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berbeda dengan Khawarij, Mu’tazilah dan yang mengikuti jalan mereka.&#8221;</em> [Lihat <em><strong>Majmu’ Fatawa</strong></em> (28/209)]</p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong><em>–rahimahullah</em>- juga menerangkan, <em>“Tidak boleh ada pembelaan terhadap tokoh tertentu secara umum (totalitas) dan mutlak, kecuali hanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Tidak pula kepada kelompok tertentu, kecuali kepada para Sahabat -radhiyallahu’anhum-. Karena sesungguhnya petunjuk itu senantiasa ada bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di manapun beliau berada, demikian pula para sahabatnya radhiyallahu’anhum”.</em> [Lihat <em><strong>Minhajus Sunnah</strong></em> (5/261)]</p>
<p>Demikianlah secuil catatan dari saya, meski belum mencakup keseluruhan penyimpangan yang diingatkan bahayanya oleh <em>asatidzah</em> Salafiyin. Namun harapan saya agar orang-orang WI yang membacanya <strong><span style="text-decoration:underline;">tidak malah marah </span></strong>setelah mengetahui <strong>dalil-dalil syar’i tentang penyimpangan-penyimpangan yang ada </strong>(dari penjelasan <em>asatidzah</em> Salafiyin), dan juga tidak mengedepankan emosi ketika membacanya, sehingga berprasangka buruk kepada Penulis. Tetapi hendaklah mereka mengambil pelajaran darinya. Sebab, diantara tanda kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah menasehatinya, meskipun terkadang rasanya <strong><span style="text-decoration:underline;">teramat pahit</span></strong>, sebab nasihat itu ibarat obat yang pahit rasanya, tapi faedahnya besar. Maka apabila ada kata-kata yang menusuk dan melukai hati mohon dimaafkan, karena kebenaran itu dari Allah, sedangkan kesalahan itu dari diri pribadi kami dan dari syaithan. <em>Wabillahit taufiq walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin wa shollallahu ala nabiyyina alih wa shohbih ajma’in.. </em></p>
<p><em>============</em><em><br />
</em><strong>Footnote :</strong><em><br />
<em>============ </em></em></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-2.html#_ednref1">[1]</a><em>Ajiib</em>, padahal bantahan istidlal dengan ayat ini telah dibantah oleh Asy-Syaikh Robi’ dalam kitabnya: <em><strong>Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaa’if</strong></em>. Dengarkan juga ceramah ilmiah tentang bantahan <em>istidlal</em> dalil-dalil muwazanah yang tidak pada tempatnya, oleh al-Ustadz Luqman Jamal, Lc</p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-2.html#_ednref2">[2]</a> Bantahan demokrasi dan pemilu telah dijelaskan oleh Al-Ustadz Dzulqarnain dalam Nasehat Ilmiyah. Baca juga buku yang sangat bagus karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam berjudul: <em><strong>Tanwiruz Zhulumaat bi Kasyfi Mafaasid wa Syubuhaat al-Intikhabaat. </strong></em></p>
<p><a href="http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-2.html#_ednref3">[3]</a> Perkara cinta tempatnya di dalam hati, sehingga bukan maksud saya di sini untuk menilai hati manusia, akan tetapi <em>qarinah-qarinah</em> yang ada menunjukkan demikian. Ketika saya berdialog dengan orang-orang WI, maka sangat terlihat jelas kebencian mereka kepada <em>asatidzah</em> Salafiyin, terutama Al-Ustadz Dzulqarnain –<em>ahabbahullah wa jazahu khoiron-</em>. Jadi, ukuran kebencian dan kecintaan tidak lagi mereka nilai dari ketakwaan orang tersebut. <em>Wallohu A’la wa A’lam, wa Huwal Musta’an</em></p>
<p><em>SUMBER : www.almakassari.com<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/umarsalafy.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/umarsalafy.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=umarsalafy.wordpress.com&amp;blog=3178764&amp;post=40&amp;subd=umarsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://umarsalafy.wordpress.com/2009/12/11/mengapa-saya-keluar-dari-wi-bagian-1-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cf947417d622714518884af970bcb4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">umarsalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
